Kamis, 31 Maret 2011

[FF] Go Away (Chapter 2)

Title: Go Away
Genre: Romance
Author: Reene Reene Pott
Rating: Teenage
Cast: SHINee, KARA, f (x)
Legth: Chaptered
Language: Indonesia


Aku akan menunggumu... Di sana...


Chapter 2



Benar saja. Siang itu, ada seseorang mengendarai mobil sport. Petugas keamanan mengatakan bahwa pemilik mobil itu sedang menungguku.
Ku ketuk jendelanya, dan terbuka...



"Choi Sulli?" Aku merenyit.


"Annyeong eonni... Lama tak jumpa.." Sulli tersenyum sambil memamerkan giginya yang seputih senyum Pepsodent. "Ayo masuk, aku ingin mengajakmu makan siang bersama,"


"Whoa... Sulli... Aku baru tahu kau bisa mengendarai mobil," Akupun masuk ke mobil. "Waeyo, Sulli? Kenapa tiba-tiba kau memintaku membuatkanmu logo?"


"Desainer kami sangat babo. Aku tak tahan. Lebih baik aku meminta bantuanmu yang hasilnya pasti memuaskan,"


"Memangnya, barang baru apa?"


"Kita bicarakan nanti setelah samapai di tujuan,"


Tak lama, kami memasuki sebuah rumah makan yang sepertinya hanya untuk kalangan elite.


"Sulli, aku tak mempunyai cukup uang untuk membayar makanan di sini,"


"Tak apa, aku traktir deh," Setelah selesai memilih makanan, kamipun saling bertukar cerita selama 4 tahun tidak bertemu. Awalnya sama sekali tidak ada topik yang menjurus atau serius, tapi...


"Eonni... Bagaimana menurutmu dengan... Minho oppa?"


Wajahku yang semula rileks spontan menegang. "Soal itu?" aku menghembuskan nafas saat Sulli mengangguk. "Kau menginterogasiku?" Kening Sulli berkerut. "Baiklah aku akan bercerita.. Atau lebih tepatnya... Curhat padamu," kataku sambil mengaduk-aduk teh panas yang sudah mulai mendingin. "Dan aku melarangmu untuk bercerita pada oppamu itu, apa yang telah kuceritakan padamu.. tapi.. ah.. pasti dia telah melupakanku,kan?"


"Nggak tahu deh. Pokoknya, kadang-kadang oppa suka ngelamun gitu kalo lagi sendirian. Gak tahu ngelamunin apa,"


"Kayaknya mereka sudah punya anak deh," aku menyeruput teh ku untuk membasahi kerongkonganku yang terasa kering. Lho, kenapa aku mengalihkan topik pembicaraan?


"Memang. Namanya Choi Lina, baru berusia 1 tahun,"


"Ku tebak pasti anaknya lucu, ya nggak?" aku tersenyum puas melihat Sulli mengangguk.


"Eh, kok rasanya ada yang janggal ya? Kan aku minta makan siang bareng eonni buat ngurusin pembuatan logo. Choi Sulli, kau benar-benar yeoja babo!" Sulli menepuk keningnya. Aku hanya tersenyum samar.


"Ne. Logo seperti apa yang kau inginkan??" akhirnya selama beberapa menit kami membicarakan tentang rancangan logo. "Ne, arasseo. Akan kukerjakan setelah sampai di kantor." Saat aku membereskan catatan dan agendaku, tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Sulli, kalau sudah selesai aku harus mengantarkan rancangan logo ini kemana? Aku tidak tahu alamat kantor mu,"


"Nih, kartu namaku,"


"Ne, gomawo,"


"Eonni... Kita kan sudah selesai membicarakan pekerjaan..." matanya menyiratkan sesuatu yang misterius.


"Lalu?"


"Hehehe... Lanjutin curhatnya yang tadi dooong.." Sulli tersenyum memelas. Aku hanya tersenyum kecut. Memang sih, sekarang aku butuh banget teman untuk menjadi tempat curhat.


"Ne, akan kulanjutkan," aku berdeham sebentar, "Sebenarnya aku kaget banget mendengar berita itu..." melihat Sulli yang merenyit tak mengerti, buru-buru kulanjutkan,"Yaah... Sedih juga. Aku sebenarnya tak menyangka dia berkata seperti itu saat keberangkatanku, 'aku harap kau tidak menungguku, karena aku tak akan menunggumu' , sungguh, hatiku hancur saat ia mengatakan hal itu," setelah menarik napas untuk menenangkan diri, aku melanjutkan,"Tapi ternyata ia membuktikan kata-katanya. Ia tak pernah menungguku. Ia tak pernah mencoba untuk menghubungiku. Kenyataan itu semakin mantap ketika aku mendapat undangan pernikahannya. Dan karena aku sedang sibuk saat itu, aku tidak datang ke pesta pernikahannya. Aku bertekad untuk mengatakannya setelah pulang nanti. Tapi aku tahu semua sudah terlambat. Eomma mu yang menyambutku saat aku datang ke rumahmu dan menitipkan ucapan selamat untuk oppamu,"


"Tunggu, tunggu sebentar. Jadi, eonni pernah datang ke rumahku sebelum ini? Kenapa nggak bilang-bilang?"


"Hey, saat itu aku sedang dalam keadaan sangat capek, kan aku baru pulang dari bandara, menaruh barang-barangku ke apartemen dan langsung kesana, kau pikir aku punya waktu untuk kangen-kangenan?" Sulli hanya tersenyum kecil.


"Kalau boleh aku tahu, apakah saat ini eonni masih mencintai Minho oppa??" Sulli bertanya dengan nada serius dan pelan.


"..."


"Sampai sekarang, masih mencintainya??"


"..."


"Eonni, kenapa kau tak menjawab pertanyaanku??" Sulli mulai kesal dan merenyitkan keningnya. Matanya menatap tajam ke mataku.


"Aku tak pernah mencintainya, Sulli," Sulli terhenyak di tempat duduknya. "Aku selalu mencintainya," Aku menghembuskan nafas berat lalu berkata lagi, "Mungkin kau bingung dengan keputusanku untuk menyerahkan Minho, tak pernah mengganggunya. Ya, benar aku menyerah soal itu, tapi aku tetap mencintainya,"


"Lalu, apakah eonni rela? Apakah eonni tak merasakan sakit?"


"Cinta tak harus memiliki, Sulli," kataku lemah. "Memang itu rasanya sangat sakit. Tapi apa yang dapat kulakukan? Aku hanya bisa menikmatinya. Menikmati bahwa aku masih bisa mencintai. Menikmati bahwa aku mungkin bisa melunturkan perasaan ini sampai cinta yang baru datang menggantikannya, mungkin,"


"Ugh, aku benar-benar tidak mengerti," Sulli mengerang pelan.


"Suatu saat kau akan mengerti, Sulli. Percayalah," lalu aku melirik jam tanganku. "Omo!! Manager akan memarahiku lagi!! Sulli, gomawo makan siangnya. Mian, aku harus kembali. Annyeong!" Kata ku sambil menyambar tas dan pergi.


Author's POV


Sulli tetap terdiam di tempatnya, memperhatikan yeoja itu pergi. Ya, Lee Son Hee adalah eonni favoritnya. Karena itu ia sangat tidak rela oppanya berpisah dengannya. Tiba-tiba sesosok jangkung duduk di hadapannya, menggantikan posisi Son Hee.


Sulli meliriknya."Oppa sudah melihatnya, kan?" Orang yang diajaknya berbicara hanya mengangguk.


"Apa yang kalian bicarakan?"


"Hal itu adalah rahasiaku dan Son Hee eonni. Oppa nggak punya hak untuk ikut campur," balasnya dengan nada ketus.


"Sampai sekarang kau selalu begitu kalau berbicara padaku atau Hara. Apa kau tak bisa berbicara sedikit lebih lembut? Kau bukan Sulli yang dulu,"


"Terserah apa kata oppa," tiba-tiba niat jahil Sulli timbul. "Tapi yah, sepertinya ada beberapa hal yang dapat aku informasikan tentang Son Hee eonni,"


"Nde?? Apa itu?"


"Eonni bercerita bahwa hidupnya di Paris sangat menyenangkan, ia mendapatkan banyak pengalaman, pengetahuan, teman, bahkan mendapat beberapa orang yang... Ingin menggaetnya," lalu air muka Sulli berubah "Ya! Kau namja babo, sudah punya istri masih memperhatikan mantanmu! Malu sama istri! Malu sama anak!"


"Ya! Sulli-ah, kenapa tiba-tiba kau jadi marah begini??" Minho terkejut dengan perkataan Sulli, yeodongsaengnya.


"Bagaimana aku tidak marah?? Sudah mencampakkannya, kenapa masih ingin tahu tentangnya seperti stalker??"


"Aniyo, Sulli-ah, aku hanya..."


"Hanya apa??" mata Sulli menyipit tajam, membuat oppanya tak bisa berkutik lagi.


Minho menelan ludah. "Aku hanya... Masih menyimpan perasaan terhadapnya,"


"Oh yeah? Kalau oppa masih menyimpan perasaan terhadapnya, kenapa oppa menikahi Hara eonni?? Bukankah itu hanya menyakitinya??" melihat Minho diam semiliar bahasa, Sulli akhirnya berkata, "Sudahlah, aku malas membahas ini. Aku harus kembali ke kantor. Oppa juga,"


"Ne, kau benar," Akhirnya kedua kakak-beradik itu kembali ke kantornya.








TO BE CONTINUED...




Masih kurang panjang nggak??
Aku ini memang benar-benar author paling babo sepanjang jalan kenangan (???). Nggak ding, sepanjang masa..
Mian ya.. ff ini ku tulis si sela-sela waktuku, jadi aku harus ngebut nulisnya...
Seperti biasa.. Harap tinggalkan commet setelah membaca ff ini!!!
Kan percuma dong aku bikin ff tapi nggak ada yang comment...
Aku nggak ngarep kalian ngasih pujian atau apa, aku cuma pengen saran kalo ff ini kurang berkenan..
I hope all of you enjoy this fanfic!!!

2 komentar: