Title : He And Me – The Intimate Love Haven't Finished Yet
Author : Reene Reene Pott
Main Cast : Choi Minho, Ahn Nada
Supporter Cast : Lee Donghae, Kim Heechul, Cho Kyuhyun, Krystal Jung, Victoria Song, Amber Liu, Lee Jinki, Lee Taemin,
Genre : School Life, Romance, Humor (dikit)
Length : Sequel (Chronicles)
A/N : disini bakalan author acak-acak umurnya. Misal harusnya Vic lebih tua, disini yang lebih tua itu Amber. Krystal seumuran yah sama Amber. Taemin tetep jadi magnae. Hae, Chullie, ama Kyu seumuran. Super Junior author masukin disini semua yah?? Kke~~ SHINee kayaknya juga bakalan masuk semua deh. Yah pokoknya cekidot aja deh!
Part 1
Nada POV
Yap, di sinilah tempatku bersemayam selama seminggu pertama di sekolah ini. Aku Ahn Nada, siswi kelas 1 SMU Super Shining. Baru seminggu aku bersekolah di sini, itupun dengan keajaiban. Yah, bukan keajaiban sih. Karena, di sekolah ini, hanya aku satu-satunya murid yang biasa-biasa saja. Kenapa? Hei, rambutku hanya dikucir kuda. Rok hanya selutut, berbeda dengan murid-murid lain yang memamerkan kaki mereka yang menurut mereka ‘indah’. Wajahku polos tanpa setuhan make up. Yah, tidak hanya aku sih yang tidak memakai make up, namun di kelasku, wajahkulah yang paling pucat, sementara yang lainnya bersinar bagai bintang. Nah, sebutan apalagi untukku selain ‘The Nerd’? Yah, walaupun pada kenyataannya appaku adalah seorang pengusaha sukses. Tapi menurutku, tidak ada anak di sini yang tau mengenai hal itu.
Seluruh sekolah sampai pelosok-pelosoknya tau betul siapa yang dijuluki The Nerd di sekolah ini. Kalau kalian berpikir sekolah ini adalah sekolah kalangan elit, kalian benar sekali. Gedungnya besar dengan 5 tingkat, lapangan basket, sepak bola, atletik, kolam renang, lapangan tenis, aula, panggung, super lengkap deh. Tapi hanya satu tempat yang menurutku paling the best disini; PERPUSTAKAAN! Okelah, sebagai The Nerd seharusnya begitu kan? Tapi itu benar. Di sekolah ini yang paling kusukai adalah perpustakaan. Beratus-ratus rak tinggi mengisi ruangan ukuran 500 x 500 meter ini. Yah, lumayan lah, meskipun tak sebaik dan sekeren perpustakaan Hogwats. Kalian pikir aku maniak Harry Potter? Betul sangad! Aku mengoleksi semua bukunya, dalam bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, bahkan Korea.
Namun yang kusyukuri : aku tak memakai kacamata. Bagaimana bisa? Entahlah. Namun nyatanya mataku ini masih berfungsi dengan sangat baik tanpa bantuan kacamata walaupun hobiku adalah membaca buku. Dan di sinilah aku sekarang, perpustakaan.
Aku berjalan perlahan ke rak bagian buku astronomi, lalu menemukan sebuah buku yang sudah usang namun setebal buku Harry Potter and The Order of Phoenix. Kuambil buku itu lalu membaca covernya yang sudah memudar : ANTARIKSA (Proses Terjadinya-Sekarang). Wow! Buku astronomi macam apa ini? Tertarik, kupegang buku itu sementara mataku menjelajah rak buku sejarah di sampingnya. Aku mendapatkan judul-judul buku yang cukup menarik; Mitologi Yunani (Masa Dewa-Dewi Dasar, Masa Para Titan, Dewa-Dewi Olympus, Masa Dewa dan Manusia Hidup Bersama, dan Masa Para Pahlawan), Dongeng Yunani, Terbentuknya Bumi dan Kehidupan Awalnya, dan masih banyak lagi. Sepertinya aku hidup damai disini!
Setelah mendapat 5 judul buku yang menarik—namun tebalnya ampun-ampunan—aku menuju meja baca dan mulai membuka buku astronomi yang tadi kudapat. Kalian pasti berpikir, bagaimana aku bisa menyelesaikan buku-buku itu? Tenang saja, sekarang sadang jam pelajaran kosong, lagipula aku mempunyai kartu perpustakaan, jadi aku diperbolehkan meminjam buku-buku di sini untuk dibawa pulang. Kalian tahu, harapan konyol pertamaku ketika pertama kali memasuki perpustakaan ini adalah; Dapatkah aku menemukan buku-buku karangan Bathilda Bagshoot tentang sejarah sihir? Oke, lupakan, itu hanya akunya saja yang pabo. Siapa itu Bathilda Bagshoot? Dia adalah sahabat Albus Dumbledore, Kepala Sekolah Sihir Hogwarts. Aku aneh kan? Betul. Tapi aku tidak gila.
Aku terus melahap buku astronomi di depanku itu, hingga tanpa kusadari seseorang telah menempati kursi tepat di hadapanku.
“Kau suka buku itu?” Tanya seorang namja. Aku mendongak. Omo, dia keren sekali.
“Nugu?” tanyaku. Dia tersenyum simpul.
“Lee Donghae imnida. Neo?”
“Ahn Nada imnida,” jawabku. “The Nerd,” tambahku. Ia terbelalak.
“Jadi itu kau?” tanyanya terkejut. Aku mengangguk. Lalu meneruskan kegiatan membacaku. Tangannya mulai melihat-lihat buku yang kuambil. “Hm, tak kukira orang seperti kau disebut ‘The Nerd’,” katanya sambil mengerutkan keningnya ketika membaca judul buku Mitologi Yunani. “Mwo? Kau mau membaca buku seperti ini?” tanyanya terkejut.
“Aku sudah kenyang dengan sejarah Korea, jadi aku beralih ke Eropa. Lagipula, aku memang penasaran dengan Zeus, Mars, Hera, Hermes, dan kawan-kawannya itu,” kataku tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang kubaca. “Tapi sampulnya sangat bersih, seperti baru. Kelihatan sekali belum pernah dibuka,” lanjutku lalu mendongak menatapnya. Ia hanya terkekeh tanpa suara.
“Mana ada yang mau baca buku seperti itu,” katanya. “Aku pernah mencoba membacanya, namun malah bingung sendiri jadi kuhentikan saja,”
“Menurutku itu menarik,” kataku.
“Itu menurutmu,” jawabnya sambil mengangguk. “Kau tahu, dalam bayanganku saat anak-anak mulai menyebut ada The Nerd di sekolah ini adalah seorang anak alim yang memakai rok selutut, rambut dikepang dua, dan kacamata tebal. Nyatanya…” dia menatapku tidak percaya.
“Kau tahu dari mana?” tanyaku.
“Dari teman-teman kelas 3 yang lain,” jawabnya. Aku terbelalak. Kelas tiga? Berarti dia sunbaeku dong?
“Eh…” kataku pelan.
“Sudah ya, aku dipanggil,” kata Donghae sunbae sambil beranjak pergi. Kalian tahu? Dialah sunbae pertama yang mau bicara denganku.
Tenonenonet~~~~~
Tenonenonet~~~~~ *itu suara bel sekolah. Jangan tanya author kenapa*
Bel berbunyi tepat setelah aku selesai membaca bab ke 7. Aku beranjak mengembalikan 3 buku lainnya, memutuskan membawa buku astronomi dan Mitologi Yunani itu pulang. Setelah menyerahkan kartu keanggotaan, aku keluar perpustakaan. Kedua tanganku memeluk 2 buku tebal itu, dan berjalan santai kembali ke kelas.
Lalu aku bertemu dengannya lagi. Namja tinggi yang sedari 3 hari pertama di sekolah selalu kuperhatikan. Dari name tagnya, kutahu namanya adalah Choi Minho. Ya, aku memang tertarik dengannya, namun kuhapuskan bayangan itu. Yah, aku sudah dengar dari seluruh sekolah bahwa namja itu namja terpopuler di sekolah. Sayangnya dia itu cuek dan dingin. Primadonna sekolah yang cantiknya seperti apapun tak bisa menaklukannya. Masa bodohlah, yang penting aku hanya mengaggumi wajahnya. Ya, aku kapok berdekatan dengannya setelah kejadian 2 tahun lalu.
Flashback
Memang lucu kalau anak SMP sudah mulai jatuh cinta. Aku, yang baru kelas 1 SMP, dengan nekatnya mau memberi cokelat untuk sunbae kelas 3 SMP.
Aku memandangi cokelat yang sudah kubungkus dengan kotak biru laut. Hari ini aku harus berhasil, sudah lama aku menantikan hari ini. Ya, hari ini, tepatnya tanggal 14 Februari adalah hari Valentine. Aku berencana memberi sunbaeku itu cokelat. Choi Minho, namja yang selalu kukagumi. Semoga dia menyukainya.
Ah, itu dia. Langsung kuhampirinya. “A… annyeong, Minho sunbae,” sapaku. Minho sunbae hanya menengok sekilas. Meski dia tak memandangku, setidaknya dia berhenti berjalan. “Eum… ini aku punya cokelat. Aku harap sunbae mau menerimanya,” kataku berusaha menahan rasa gugup.
“Sirreo.” Jawabnya dingin dan berlalu pergi. Aku terpaku.
Flashback end
Sungguh kejamkan namja yang bernama Choi Minho itu? Setelah kejadian itu, pulangnya langsung kuhabiskan cokelat itu. Untuk apa menangis? Namun kata-katanya sempat menggores hatiku. Jadi aku tidak mau lagi memberi apapun padanya mulai saat itu. Separuh hatiku mengatakan suatu kesialan bagiku bertemu dengannya lagi saat SMA. It’s okay kalo cuma setahun. Tapi, karena aku—bukannya sombong loh ya—terlalu pintar jadi aku naik satu tahun. Sekarang Minho sunbae kelas 2 SMA. Aku tersenyum kecut mengingatnya.
“Nada-yah!” seru seorang yeoja. Victoria, chingu sekelasku. Dia tahu aku lebih muda darinya, namun ia menolak bila aku memanggilnya eonni.
“Vic-ah,” kataku tersenyum simpul lalu berjalan menghampirinya. “Darimana saja?”
“Dari lapangan basket, tadi sunbae kelas 3 sedang olah raga,”jawab Vic.
“Terus? Apa hubungannya kau di sana?” tanyaku.
“Ya ngeliatin merekalah Nadaaa…” jawabnya . “Nah, kau? Pasti dari perpustakaan lagi kan?” matanya tertancap pada 2 buku yang menurutnya bakalan membuat matanya dower kalo dibaca. Aku hanya mengangguk pelan.
“Ck. Eh, kau lihat nggak tadi? Ada Minho sunbae loh!” katanya bersemangat.
“So?” tanyaku cuek. Yah, sejak kejadian itu aku tak mau pusing-pusing memikirkannya.
“Ah, kau tak asik buat diajak curcol. Tau nggak, Minho sunbae itu meski masih kelas 2 itu bla…bla..bla..bla..” Vic mulai mengoceh nggak jelas. Aku hanya menggelengkan kepalaku seraya menatapnya tak percaya.
“Lebih baik kau tulis buku tentang biografinya,” kataku. Vic cemberut. “Ne, ne, tapi kau tahu sendiri kan, aku tak tertarik dengan itu. Jadi jangan terus merecokiku atau kau kusumpal dengan sepatu,” kataku.
“Hoi! Ahn Nada!” seru seorang yeoja dari belakang. Kami berduapun berbalik. Amber eonni. Dia sepupuku.
“Ne?” jawabku.
“Nanti kau harus ikut seleksi klub basket. Kau tahu, aku sudah mendaftarkanmu pada urutan pertama,” lanjutnya.
“MWO? Eonni! Kenapa nggak bilang-bilang?” protesku. Amber eonni hanya mengibas-ngibaskan tangannya.
“Sudah kukatakan kemarin saat makan malam. Sudah ya? Ingat, kau harus datang! Kalau tidak, awas kau!” katanya sambil menujukkan bogem ke arahku. Aku yang tak berdaya hanya bisa mengangguk lemas.
“KYA~ itukan Amber sunbae! Nada-yah, kok kau bisa kenal? Dia siapamu?” cerca Vic. Aku hanya dapat menghela napas pelan.
“Dia sepupuku,” jawabku plean. Mata Vic membulat.
“Mwo? Ya! Ahn Nada! Kau tak pernah bilang mempunyai saudara disini!” cerca Vic.
“Kupikir itu tak penting,” jawabku ngeles.
“Itu penting, Nada,” jawab Vic sambil menekankan kata ‘penting’ dalam kalimatnya. Aku hanya dapat mengangguk-angguk. “Oh ya, jadi, kau ikut seleksi klub basket? Kenapa Amber sunbae sebegitu memperjuangkanmu yah? Apa kau bisa basket?” cerocosnya.
“Eum, sebenarnya aku kapten tim basket putri pada saat masih SMP kelas 2,” jawabku. “Hanya teman dekatku yang tau, karena ada chinguku, ah, dia bukan chingu, dia sangat sirik terhadapku, jadi dia berlagak seperti seorang kapten. Padahal keputusannya selalu acakadut,” ceritaku. Vic tampak serius mendengar ceritaku. “Tidak ada yang tahu selain pelatih dan beberapa chingu dekatku. yang orang tahu saat itu adalah aku sebagai pemain cadangan,” lanjutku. Vic mengangguk mengerti.
“Apa tim basket cowok di sana hebat-hebat?” Tanya Vic. Aku memutar kedua bola mataku.
“Menurutmu, kalau si Choi Minho kaptennya, hebat gak menurutmu?” tanyaku balik. Vic mendelik.
“Mwo? Minho sunbae itu kapten tim basket di sekolahmu?” tanyanya. Aku mengangguk. Untung kelas sedang sepi. Entah kemana haksaeng-haksaeng di kelas ini, langsung menghilang ditelan bumi begitu tahu ada jam pelajaran kosong. “jadi, kau pernah satu sekolah dengannya?” tanyanya lagi, takjub.
“Ne, dan karena aku pernah satu sekolah dengannya, aku tahu semua kebusukannya,” jawabku. Vic merengut.
“Minho sunbae itu perfect! Teganya kau mengatainya begitu,” sungut Vic. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
“Vic, kau sepertinya sudah jatuh cinta adanya yah? Tembak saja,” usulku asal. Aku bosan setiap hari ia terus mebicarakan Minho, dikit-dikit Minho dikit-dikit Minho. Ampooon dah nih pala rasanya mau pecah!
“Mana berani aku? Kau tahu, setiap yeoja yang menembaknya langsung ditolaknya mentah-mentah,” jawabnya. Aku mengangkat sebelah alisku,.
“Kebusukan pertama, tidak pernah menghargai perasaan wanita,” gumamku keras. Vic meninju lenganku.
“Itu karena ia harus tegas, tau,” sahut Vic.
“Akh, sudah-sudah, aku malas membahasnya,” jawabku menutup telinga.
—TBC—
Kependekan lagi yah?? Mian.... Next part kuusahain lebih panjang, abis ini cuma 5 halaman... Gomawo dah yang udah baca, jangan lupan COMMENT nya yahhh!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar