Kamis, 08 November 2012

[FF] Be Mine (Chapter 1)


Kriiiinggg

Kriiingggg

Aku menerjap-nerjapkan kedua mataku pelan ketika suara alarm yang ada di samping tempat tidurku berbunyi. Aku mendiamkan diri sejenak, merasakan bahwa aku masih berada di atas tempat tidur, masih mengenakan piyama dan memeluk gulingku. Hingga aku benar-benar menyadari bahwa kini aku bukan lagi berada di dreamland.

Yeah, bukan lagi di dreamland yang indah dan menyenangkan. Tapi aku sudah berada di dalam kehidupan nyata dan sebentar lagi akan melakukan rutinitasku sehari-hari sebagai anak SMA yang sangat biasa.

__


Title : Be Mine

Author : ReeneReenePott

Maincast : Choi Minho, YOU ( isi ___ dengan namamu)

Supporter Cast : Kim Jonghyun, Key, Lee Taemin, Lee Jinki, Kang Jiyoung (KARA), Song Sam Dong, Nam Jihyun,

Length : Trilogy

Genre : Romance, Fluff, HHJJF (Happy Happy Joy Joy Fiction)

Rating : PG – 13 / PG – 16

Backsound : 2NE1 – Ugly, 2NE1 – Lonely, Super Junior – It’s You, BEAST – On Rainy Days, MLTR – Breaking My Heart, Jung Yong Hwa – Banmal Song (ini udah di susun berdasarkan plot)

A/N : Maklum, lagi terkena virus Minho-Bikin-Aku-Gila-Di-MV-Sherlock. Lagi dapet nyawa di FF ini, jadi bikin yang ini duluan. FF yang lain.. maafkan aku *bow* #plakk Aku nyari nyawa buat kalian habis nyelesein ini, oke? *ditabok* So, inilah persembahan dariku dengan 5% kejadian yang dialami olehku sendiri. Sisanya fiksi hohohoho… Dan aku Cuma pake 1 POV di sini. Yaitu si cewe POV *serasa baca novel Twilight, New Moon sama Eclipse yang POVnya cuma Bella doang #plakk* Happy reading \(^o^)/

Chapter 1





__

Aku melangkah pelan sambil bersenandung kecil selama berada dalam perjalanan ke sekolah. Gerbang sudah ada di depan, nampak banyak murid yang menaiki sepeda atau motor, dan yang paling mewah mobil mulai memasuki gerbang. Dan aku sama sekali tidak mempercepat langkahku, karena semakin lama aku mencapai gerbang, akan semakin lama jantungku terhindar dari ancaman sport jantung. Kenapa? Ah, kurasa kalian akan tahu nanti.

Earphone dan I-podku masih menyala, melantunkan sebuah lagu yang sedang ingin kudengarkan hari ini. 2NE1 – Ugly. Entah kenapa lagu ini sangat sangat menggambarkan isi hatiku hari ini. Dan ketika bagian reff lagu melantun, kaki ku sudah memasuki kompleks sekolah. Mataku berkeliling dengan liar, berharap bahwa sosok itu tidak ada di sini. Bila ia ada, bisa terkena serangan jantung aku.

Kurasa suasana cukup aman. Aku kembali melanjutkan langkahku menuju ke kelasku yang terletak di lantai dua bangungan yang paling tinggi itu. Lagu sudah berganti menjadi Jung Yong Hwa – Banmal Song ketika aku mulai melangkah menaiki tangga. Suara gaduh mulai terdengar ketika kakiku melangkah memasuki kelas. Mungkin dia lagi. Aku melongokkan kepala, sekedar memastikan dugaanku benar atau tidak. Dan bingo! Tebakanku memang benar.

“___-ah, kau sudah datang?” aku menoleh ketika sebuah suara menyapaku. Namja imut berambut jamur pirang itu tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya setengah hati.

“Ne,” jawabku. Banyak yeoja yang melirikku sinis. Tentu saja, seorang yeoja pas-pasan spertiku berteman dengan cukup akrab dengan namja yang notabene menjadi coverboy mading sekolah? Oh, ayolah, banyak yang menganggap ini merupakan suatu keberuntungan.

“Kau uring-uringan lagi? Kali ini karena apa heuh?” salah seorang namja lain yang berambut setengah botak berkata padaku. Well, dia juga salah satu namja yang sejenis dengan namja berambut pirang itu. Ah, kupikir untuk apa menyembunnyikan nama mereka? Yang berambut pirang, bernama Lee Taemin dan yang baru saja menodongku dengan pertanyaan itu namanya Key. Dua dari lima namja tertampan di sekolah versi majalah dinding. Entah kenapa aku bisa berteman dengan mereka, padahal waktu awal masuk ke sini tak ada yang cukup dekat denganku.

“Maaf, tapi hari ini aku sama sekali tidak uring-uringan. Kau salah, Almighty Key,” ujarku sambil melepas tas ranselku dan menaruhnya ke atas kursi.

“Tapi, ___-ah, tampangmu seperti orang yang sedang uring-uringan. Karena dia, ya?” well, yang berambut cepak dan jabrik itu bernama Kim Jonghyun.

“Dia? Dia siapa? Kau mengigau, Kim Jonghyun?” balasku datar. Mereka ini, meski kutanggapi dengan malas dan sedikit datar, tetap saja berceloteh mengajakku ngobrol. Terkadang aku berpikir, kenapa mereka mau berteman denganku? Bukannya yeoja cantik yang hobinya bersolek dan cerewet yang duduk di pojok sana?

“Tentu saja musuh abadimu, Choi Minho,” sahut Key sambil memutarkan kedua bola matanya.

“Mwoya? Kalian gila,” desisku kesal. “Mana Jinki? Aku butuh dia untuk menyelesaikan PR fisika keparat ini,” tanyaku pada mereka.

“Tentu saja sedang berdiskusi dengan Minho di kelas sebelah,” jawab Taemin sambil menaruh dagunya ke atas meja. “Ah, PR itu ya? PR tentang lensa bla bla bla itu?”

“Hahaha… tentu saja. Memang PR apa lagi yang membuat otakku seperti septikteng selain fisika?” jawabku dengan tawa sumbang.

“Jadi kau depresi hanya karena sepuluh soal fisika ini?” tanya Jonghyun tak percaya. Aku mengangkat bahuku.

“Baru ibu soalnya, pabo. Anak soalnya ada empat sampai lima poin tahu,” sahutku sambil menyambar buku PRku dari tas dan melangkah keluar.

“Hey! Kau mau kemana?”

“Tentu saja meminta bantuan Jinki!” sahutku sedikit keras. Oke, kali ini aku harus bisa membiarkan mahkluk itu berkeliaran di sekelilingku. Ya, mahkluk yang membuatku gila setiap ada di dekatnya. Tak sampai 5 menit, aku sudah berdiri di depan ruang kelas Jinki, kelas XI – C. Tanpa ba-bi-bu, aku langsung mengarahkan kakiku menuju ke tempat duduk paling belakang.

“Hey, ___-ah. Tumben ke sini?” Jinki langsung menyapaku ramah. Aku hanya tersenyum dan saat itu metaku dan matanya saling bertemu. Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku sambil mengacungkan buku PRku.

“Kalau bukan karena ini, aku lebih baik pergi ke kebun sekolah,” jawabku sambil menaruh buku itu di atas mejanya, dan langsung duduk di hadapannya. “Bantu aku mengerjakan sepuluh soal sialan ini,”

“Untuk apa kau ke kebun sekolah? Mau menjadi tukang kebun?” heish, dia, mahkluk itu, mahkluk jangkung tak berperasaan itu menjawab dengan nada mengejek. Aku tidak menghiraukannya, dan memfokuskan diri pada Jinki yang mulai membuka buku PRku.

“Soal ini mudah, tahu, kenapa kau masih bingung?” tanya Jinki tak percaya. Oh, ayolah Lee jinki, kau tahu otakku tak seperti otakmu!

“Tentu saja aku masih bingung, aku kan tidak mengerti apapun tentang materi ini! Ayolah Jinki, kau tahukan kapasitas otakku tak seperti otakmu!” pintaku sedikit memelas. Tentu saja, pada saaat jam pelajaran kebanyakan otakku memikirkan satu namja. Sambil menghembuskan napas, akhirnya Jinki mengangguk.

“Yeah! Gomawo Jinki-yah!”

“Cih, penjilat,” gumam orang itu. Baiklah, namanya Choi Minho, bukan ‘orang itu’. Aku meliriknya kesal, lalu kembali fokus dengan PRku.

“Lain kali kau harus mengambil kursus fisika,” ujar Jinki menasehati.

“Kalau waktu dan ekonomi meyakinkan,” sahutku sekenanya. Aku hanya menatap buku di hadapanku yang ia kerjakan dengan kecepatan yang menakjubkan. Oke, bukan hanya aku yang menjadi fansnya karena kemampuan otakknya. Semua haksaeng-pun begitu.

“Selesai!” serunya girang. Aih, Lee Jinki, pipimu benar-benar membuatku gemas.

“Gomawo!” sahutku dan bangkit berdiri, hendak kembali ke kelasku. Dari pada aku sport jantung di sini?

“Ne,” sahutnya sambil melambaikan tangan. Aku hanya tersenyum dan terus melangkah keluar. Kurasakan ada seseorang yang menjejeri langkahku. Aku menoleh dan terkejut. Dia?!

“Neo?!” pekikku kaget. “Untuk apa kau di sini? Mengikutiku pula?!” ia menoyor kepalaku.

“Yee, jangan GR duluan. Aku kan juga mau kembali ke kelasku,” ujarnya santai. Tapi kenapa jantungku tidak mau santai-santai juga sih?

“Kau menyebalkan, Choi Minho,” desisku agar tidak terdengar olehnya. Tapi ternyata ia malah tertawa garing.

“Menyebalkan? Kenapa aku menyebalkan?” what? Ia mendengarnya? Kok bisa?

“Ah, pergi sana!” seruku sambil mendorong bahu kekarnya menjauh, menuju ke keleas XI – A. Sementara aku sendiri langsung masuk ke kelasku, kelas XI – B. Dan sial! Ketiga namja itu malah cengar-cengir saat melihat kedatanganku.

“Ciye, pagi-pagi sudah mesra loh,” Jonghyun mulai menggodaku. Taemin dan Key hanya cekikian sedari tadi. Aku menatapnya sinis. Mereka pasti melihatnya lewat jendela.

“So? I don’t care about that,” jawabku kesal. Jonghyun mengangkat kedua alisnya dengan raut wajah yang masih meledekku.

“Oh ayolah, ___, wajahmu merah sedari tadi,” kali ini Key yang bersuara. Aku memutarkan bola mataku kesal.

“Semoga bel! Semoga bel!” desisku kesal. Taemin menepuk bahuku. Aku menoleh menatapnya yang duduk di sebelahku.

“Wae?”

“Dia belum tahu perasaanmu yah?” tanyanya polos. Aku melongo menatapnya, dan menjatuhkan kepalaku ke atas meja. Hahhh… lihat, Jonghyun dan Key kembali cekikikan, ah, tidak tidak tidak, mereka sudah tertawa ngakak!

“Tentu saja belum, Taeminnie,” ujar Key dengan nada lebaynya yang lagi kumat, “Kalau Minho sudah tahu tentang perasaannya, kuyakin yeoja di sampingmu itu sudah tidak berani berangkat ke sekolah!” teruslah tertawa Key, toh itu tak akan berpengaruh padaku.

“Jinchayo, kau benar-benar pabo, ___,”

“Ara! Ara! Aku memang pabo, puas kalian?” jawabku ketus. “Dan aku setuju dengan kata-katamu, Key, aku tidak akan pernah mau berangkat lagi ke sekolah ini bila ia mengetahuinya. Aku langsung pindah,” ujarku tajam.

“Wow… tenang nona, tak usah sepanik itu dong,” Jonghyun kembali nyengir. “Memang mau sampai kapan kau menyembunyikan ini, lama-kelamaan ia pasti tahu juga,”

“Sampai saatnya tepat,” jawabku sekenanya. “Dan bila ia sudah punya yeojachingu, aku bisa mundur perlahan…”

“Dan aku tak akan membiarkan hal itu terjadi, Miss ___,” potong Key tajam. Aku mendengus mendengarnya.

__

Haiyah! Ige mwoya? Aku sama sekali tidak mengerti ini! Amoeba… fungii… protista… haiyah!! Sedari tadi yang kutangkap hanya tiga kata itu. Untung saja ini hanya selingan belajar. Bila besok ulangan, bisa mati bediri aku! Bagimana aku bisa belajar jika di otakku hanya ada satu nama, yaitu CHOI MINHO?

Aku menatap ke atas buku catatan biologiku dengan pasrah. Maaf, buku. Kurasa besok lagi kita belajar bersama. Huaaaa…. . Aku merasakan ponsel yang tergeletak di samping tempat pensilku bergetar. Sengaja aku mengaturnya dalam kondisi silent, aku malas jika sedang belajar begini ada telepon atau SMS yang mengganggu. Dengan lemas aku meraih ponselku, membuka flapnya dan langsung menjawab panggilan tanpa membaca siapa yang sedang menelpon.

“Yoboseyo?” kataku lemah.

“___-ah? Kau sedang ada dimana?” ah, ini suara Taemin.

“Aku di rumah, Taem. Wae geurae?” jawabku sambil menegakkan posisi dudukku.

“Baguslah. Kau sedang belajar ya?” tanyanya lagi menghiraukan pertanyaanku. Aku menelan ludah sebelum menjawab perkataannya.

“Ne, tapi aku baru saja menutup buku. Ada apa sih?” tanyaku lagi.

“Asik, kalau begitu, bergabunglah dengan kami,” jawabnya yang membuatku bingung.

“Hah? Kalian? Kau lagi kumpul berlima ya?” cepat-cepat aku melirik jam. Baru jam 8 malam, sih. Tapi untuk apa mereka keluar malam-malam?

“Ne, dan kami sedang bosan hanya ngobrol di cafe. Rencananya kami mau mengajakmu nonton, mau?”

“Mwoya? Nonton? Berlima? Jadi aku yeoja sendirian dong?” seruku kaget ketika memikirkan rencana itu lagi. Kalau mereka berlima… aish! Aku bertemu Choi Minho lagi!

“Tentu saja tidak, Key kan yeoja… Akh! Appoyo!” aku tertawa tanpa suara. Tentu saja, Key akan ngamuk kalau dibilang yeoja.

“Memang ada film bagus?” tanyaku lagi.

“Ah, Breaking Dawn sedang di putar…” ujar Taemin yang membuatku menelan ludah. Breaking Dawn? Eommaaa…. aku mau nonton! Masa bodoh deh ada Choi Minho atau tidak, yang penting aku bisa nonton Breaking Dawn!

“Arasseo! Aku ikut!” seruku. Bisa kutebak Taemin mendesah lega di seberang.

“Yeah! Gomawo ___-ah, kami tunggu di cafe Chocolate Bun,”

“Hah? Cafe itu? Itukan ada di pertigaan depan rumahku?” tanyaku heran.

“Minho yang memaksa untuk ke sini. Sudahlah, nanti pulsaku habis. Cepat kesini! Kami sudah hampir mati kebosanan di sini!”

“Ara! Ara!” klik. Aku memutuskan sambungan. Cepat-cepat aku menyambar celana jins 7/8-ku dan jaket tebal yang tergantung di belakang pintu kamarku. Untuk kaos, ah, kurasa ini cukup pantas hanya untuk sekedar nonton. Ya, kaus polo putih pemberian appa-ku. Terlalu besar, memang, tapi tak apa deh. Dompet, ponsel, semua sudah. Topi? Ah, hoodie yang ada di jaket saja cukup. Tak berapa lama, aku sudah melangkah menelusuri jalan setapak menjauhi rumah setelah eomma dan appa mengijinkan.

Tak sampai lima belas menit, aku sudah ada di depan Chocolate Bun cafe. Sambil menghela nafas, aku meraih gagang pintu dan melangkah masuk. Mataku berkeliaran mencari lima sosok yang, er, bisa dikatakan bersinar untuk ukuran mereka. Kalian tahu? Setiap mereka berkeliaran di sekolahku seperti ada cahaya yang mengelilingi mereka. Aku langsung mengenali sosok setengah botak Key ketika menoleh ke kanan. Dengan cepat aku mendekati mereka.

“Ya,” panggilku yang membuat kelimanya menoleh. Oh God, kenapa mereka benar-benar keren? Pakaian mereka memang tidak mencolok, namun setaraf untuk gaya artis. Ah, mereka benar-benar membuatku silau.

“Kau benar-benar akan nonton, ___-ah?” tanya Key sambil meneliti pakaianku dari atas kepala sampai ujung kaki. Aku memutarkan kedua bola mataku kesal. “Kau seperti orang yang baru bangun tidur,”

“Aku tahu kemampuan berpakaianmu setara Pangeran Harry, Key,” sergahku kesal. “Untung saja aku pakai pakaian begini. Kalau aku kesini dengan piyama gimana? Kalian mau dikira menculik pasien rumah sakit?” lanjutku. Lagi-lagi mataku bertemu dengan matanya. Aku langsung membuang muka menatap Taemin.

“Jadi kapan kita akan berangkat?” tanyaku. Jonghyun hanya nyengir.

“Sekarang saja, aku belum beli tiket soalnya,” ujarnya kalem. Aku mendengus.

“Memangnya kita mau nonton kemana? Kuharap jangan jauh-jauh dari sini, kakiku sudah pasti tidak kuat,”

“Tenang saja, kau bisa dibonceng Minho. Jinki sudah berdua sama Taemin, aku dengan Key, nah, dari tadi Minho yang sendiri,” aku lemas mendengar penuturannya. Kim Jonghyun… kau mau membunuhku?

“Okay, let’s go!” seru Key girang dan langsung melesat menuju parkiran. Aku tetap berdiri sambil melongo ketika empat punggung sudah membelakangiku.

“Kkaja, ini helmmu,” tiba-tiba Minho menyenggol lenganku dan sebuah helm hitam dengan garis merah sudah ada dalam dekapanku. Pada akhirnya toh, aku juga mengikutinya. Aku terus mengekorinya hingga kami berada tepat di depan sebuah motor sport berwarna hitam yang sangat keren. Baiklah baiklah, pemiliknya juga tak kalah keren. Ups…

“Memangnya kita mau kemana sih?” tanyaku berusaha membuka percakapan. Ia menoleh sekilas dan langsung naik ke atas motor.

“Ke tempat bioskop lah, mana mungkin kita nonton di toko es krim,” sahutnya. Aku mengerang di dalam hati. Apakah semua lelaki seperti ini? Susah diajak berbicara serius?

“Aku juga tahu itu, tapi dimana bioskop itu?” tanyaku lagi. Kali ini giliranku untuk naik ke atas boncengan.

“Oh, itu di pusat kota,” jawabnya singkat. “Pegangan yang erat,” ujarnya. Terpaksa aku menggenggam kedua sisi jaketnya. Ia belum juga menjalankan motornya, walaupun sudah ia starter.

“Wae? Bensinnya habis?” tanyaku bingung.

“Aniyo, kubilang pegangan yang erat,” katanya lagi. Baiklah, hanya sekali ini aku harus melakukannya. Dengan ragu aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. “Itu lebih baik,” ujarnya puas. Dan kami langsung berderu menembus malam yang mulai dingin itu.

“Wah, benar-benar pasangan yang serasi,” goda Key saat melihatku turun dari atas boncengan. Aku mendelik padanya kesal, namun ia pura-pura tak melihatku. Kami sudah ada di depan sebuah mall besar di Seoul. Aku langsung melangkah mendekati Taemin sambil memasukkan kedua tangannku ke dalam saku jaket.

“Kkaja, kupikir masih ada beberapa tiket tersisa, mengingat ini bukan malam Minggu ataupun hari libur,” Jonghyun berujar yang membuat kami langsung masuk ke dalam mall yang lumayan ramai saat itu.

__

Jadi, di sinilah aku sekarang. Di sebuah ruangan bioskop dengan tempat duduk terpisah dari Key, Minho, Jonghyun dan Onew. Kenapa sih Jonghyun bisa membeli tiket terpisah begini? Ah, mungkin itu lebih baik. Aku melirik Taemin yang ada di sampingku sambil mengunyah popcorn, matanya tak lepas dari layar. Aku mengalihkan pandangan lagi menuju layar, yang mepertontonkan pernikahan Bella dan Edward. Kurasa aku bisa berkosentrasi total dengan film ini.

__

“Hiyahhh… tadi filmnya sedikit menegangkan ya?” ujar Key sambil merenggangkan tubuhnya. Aku melirik Taemin yang masih memegang box popcorn yang tersisa setengah. Aku yakin ia tak bisa lagi mengunyah apapun setelah menonton film tadi. Kalian bisa menebak kan, apa yang tadi ditayangkan?

“Harusnya aku tidak ikut nonton tadi, itu sangat mengerikan,” gumam Taemin dengan suara yang terdengar masih shock. Aku hanya tertawa tanpa suara.

“Ayolah Lee Taemin, percaya atau tidak, Jonghyun sudah pernah melihat yang lebih parah dari tadi, hahaha,” sahutku asal. Jonghyun siap-siap menjitakku dengan tangannya yang berotot besar.

“Menurutku film tadi biasa-biasa saja,” ujar Jinki cuek. Aku berjalan beriringan dengannya di belakang yang lainnya.

“Kau tidak suka Twilight Saga, kah?” Tanyaku iseng-iseng. Jinki menoleh sebentar lalu kembali menatap jalan di depannya.

“Tidak terlalu juga. Tapi aku sudah menonton semuanya,” sahutnya. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Memangnya aku harus bagaimana lagi? “Hei, kudengar kau sedang suka dengan seseorang, ya?”

“Mwo? Darimana pernyataan gila itu?” haish, kenapa dia mesti tahu sih?

“Key. Kau tahu sendiri mulutnya seperti apa,” balasnya lagi pelan. Aku menarik ujung bibirku dan menurunkannya lagi.

“Tidak. Key hanya melantur,” kilahku. Lebih baik ia tidak tahu. Kalian tahukan seberapa dekat ia dengan Minho? “Memangnya siapa yang seharusnya kusukai? Kurasa tidak ada,”

“Hey, kau meremehkan kami ya?” seru Jinki tak terima. Aku Cuma bisa nyengir.

“Karena kalian itu chinguku. Aku tak mungkin menyukai salah satu dari kalian,” aku tertawa pahit di dalam hati saat mengatakan ini. Apanya yang tak mungkin menyukai salah satu dari mereka? Helloo.. aku hampir gila karena seorang Choi Minho, oke?

“Baguslah kalau kau berpikiran seperti itu. Ingat, kupegang kata-katamu,” ujarnya tajam. Kenapa ia seperti sedang mencobaiku sih?

__

“Hey! Ada berita heboh!” salah seorang haksaeng berseru yang membuatku, Taemin, Jonghyun dan Key menoleh kaget. Berita apaan?

“Ah, yang katanya ada haksaeng baru dari Jepang itu ya? Katanya haksaeng itu yeoja dan masuk ke kelas XI – A ya?” salah seorang lagi menyahut. Aku mengerutkan kening. Haksaeng baru? Yeoja? Dari Jepang? Apakah dia…

“Hey, ___-ah, kau mau kemana?” Jonghyun bertanya bingung padaku yang bangkit berdiri dan berjalan keluar kelas. Kurasa aku harus ke kantor guru. Ah, lewat kelasnya lagi. Tak apa deh, hitung-hitung sebagai latihan. Itu Minho. Lagi-lagi mata kami bertemu. Tidak, sekarang tujuanku adalah kantor guru.

Aku berjinjit sedikit ketika sudah berada di depan jendela kantor guru. Berharap haksaeng baru itu sudah datang, jadi aku bisa meihat rupanya. Aku mendesah ketika tak melihat siapa-siapa di dalam.

“___-ah? Kau di sini?” sebuah suara yeoja membuatku tersentak dan menoleh. Kedua mataku melebar.

“Kang Jiyoung?” gumamku. Ia menyunggingkan senyumnya yang selalu meluluhkan hati setiap namja.

“Annyeong ___-ah, mulai hari ini aku bersekolah di sini,” ujarnya girang. Aku iktu tersenyum, dan kembali berpikir. Apakah dia yang masuk ke kelas XI – A? Wah, kenapa aku jadi cemas begini? Lupakan, lupakan!

“Ah, jinchayo? Kau kembali dari Jepang?” tanyaku tak percaya. Sekali lagi ia mengangguk sambil tersenyum. “Pantas saja para haksaeng langsung heboh,”

“Apakah haksaengdeul di sini… ramah-ramah? Aku khawatir tidak mendapat teman,” ujarnya polos. Aku menyikut lengannya.

“Kau bicara apa? Semua haksaeng di sini sangat ramah. Memang yah, aku tidak punya teman yang sangat dekat di sini, tapi, mereka bisa cukup akrab denganmu,” timpalku.

Kriinggg

Kriiinggg

“Ah, Jiyoung-ah, kupikir kau harus meregistrasi ulang di kantor guru. Aku kembali ke kelas ya, annyeong,”

“Ne, annyeong,” sahutnya sambil melambaikan tangan sementara aku mulai melangkah menjauh.

“Kau baru saja dari mana sih?” Jonghyun langsung menodongku dengan pertanyaan begitu aku sampai di tempat dudukku. Aku menoleh kepadanya sejenak lalu mengeuarkan buku dari dalam tas.

“Bertemu haksaeng baru itu, tentu saja. Dia chingu lamaku,”

TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar