Title : Be Mine
Author : ReeneReenePott
Maincast : Choi Minho, YOU ( isi ___ dengan namamu)
Supporter Cast : Kim Jonghyun, Key, Lee Taemin, Lee Jinki, Kang Jiyoung (KARA), Song Sam Dong, Nam Jihyun,
Length : Trilogy
Genre : Romance, Fluff, HHJJF (Happy Happy Joy Joy Fiction)
Rating : PG – 13 / PG – 16
Backsound : 2NE1 – Ugly, 2NE1 – Lonely, Super Junior – It’s You, BEAST – On Rainy Days, MLTR – Breaking My Heart, Jung Yong Hwa – Banmal Song (ini udah di susun berdasarkan plot)
A/N : Maklum, lagi terkena virus Minho-Bikin-Aku-Gila-Di-MV-Sherlock. Lagi dapet nyawa di FF ini, jadi bikin yang ini duluan. FF yang lain.. maafkan aku *bow* #plakk Aku nyari nyawa buat kalian habis nyelesein ini, oke? *ditabok* So, inilah persembahan dariku dengan 5% kejadian yang dialami olehku sendiri. Sisanya fiksi hohohoho… Dan aku Cuma pake 1 POV di sini. Yaitu si cewe POV *serasa baca novel Twilight, New Moon sama Eclipse yang POVnya cuma Bella doang #plakk* Happy reading \(^o^)/
Chapter 2
__
Ak mencari-cari sosok Jiyoung di kelas XI – A. Ternyata benar, ia masuk ke kelas itu. Taemin, Key dan Jonghyun sudah ke kantin duluan. Jinki sudah melesat ke perpustakaan. Rencananya aku ingin mengajak Jiyoung, karena itu aku ke sini. Mataku terus-menerus mencari sosok Jiyoung dari balik jendela. Dan begitu aku menemukan sosoknya, dadaku langsung terasa sesak.
Ternyata ia sedang bercanda dengan Minho. Ah, hanya bercanda. ____ pabo! Untuk apa kau merasa sesak! Sehaarusnya kau bahagia! Well, apa yang perlu dibahagiakan? Tidak ingin mengganggu mereka, aku menahan bibirku untuk menyapa mereka dan berbalik ke kantin.
Kutemukan tiga mahkluk paling tampan versi mading sekolah itu sedang duduk di meja kantin sambil menikmati makanan mereka. Aku melangkah mendekati mereka, menghempaskan pantatku di kursi samping Jonghyun.
“Hey,” sapaku hingga ketiganya menoleh. Key menatapku bingung.
“Mana chingu-mu itu?” tanyanya heran. Aku terdiam sejenak, berpikir apa yang harus kukatakan.
“Er, kupikir nanti ada yang mengenalkannya,” sahutku sekenanya. Taemin mengangkat alisnya tinggi sambil menatapku bingung. Tak lama, dua sosok itu sampai di hadapan kami.
“Ah, ____-ah, annyeong!” suara Jiyoung membuatku menoleh dan tersenyum.
“Annyeong Jiyoung-ah,”
“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Minho padaku. Aku hanya mengangguk singkat.
“Kami sekelas waktu SD,” ujar Jiyoung.
“Jadi ini chingu-mu, ____-ah? Siapa namamu?” Astaga, Kim Jonghyun, kau benar-benar seorang player! Lihat, ia sudah mengedipkan sebelah matanya pada Jiyoung yang melongo. Aku menoyor kepalanya.
“Jangan sentuh dia, Kim Jonghyun. Jiyoung-ah, kau jangan sekali-kali bersentuhan dengannya. Bisa hamil kembar kau,” ujarku gantian pada Jiyoung.
“Ya!” Jonghyun berseru tak terima padaku.
“Annyeong, aku Key, anakl kelas XI – B,” sapa Key sambil menjabat tangan Jiyoung.
“Kang Jiyoung imnida, kelas XI – A,” sahut Jiyoung manis. Taemin itu menyalaminya juga.
“Lee Taemin imnida, kelasku sama dengan Key,”
“Jiyoung-ah, kau mau makan apa? Kupesankan,” ujarku pada Jiyoung. Ia hanya tersenyum.
“Apa saja deh,” aku mengangguk. Lalu mengedarkan pandangan ke mereka berempat.
“Ada lagi yang mau memesan sesuatu?” tawarku.
“Aku ingin jus jeruk saja,” ujar Minho tiba-tiba. Aku hanya menatapnya sejenak lalu bangkit berdiri menuju ke depan. Sempat kudengar Key berbisik pada Jonghyun.
“Yakin atau tidak, pasti ada alasan kenapa dia mau memesan makanan itu. Ya kan?” aku mendengus pelan mendengar itu. Telingaku cukup tajam, tuan Key.
“Ahjumma, aku pesan jajjangmyun satu dan jus jeruk,” ujarku pada ahjumma penjaga kantin. Aku meraih dompet yang ada di saku rokku, menunggu ahjumma itu mentotal harganya.
“Totalnya 20.000 won,” aku langsung mengeluarkan dua lembar puluhan ribu won dan menyerahkannya. Tak berapa lama, pesanannya sudah ada di hadapanku. Waw, lumayan juga. Tak apa deh. Aku membawanya kembali ke meja kami.
“Igeo,” kataku singkat sambil meletakkan makanan dan minuman itu secara hati-hati.
“Gomawo,” ujar Jiyoung seraya tersenyum. Aku membalasnya. Mereka mulai bercakap-cakap, sementara aku hanya diam sambil memandang ke luar. Aku sama sekali tak ingin bergabung dalam diskusi mereka. Sejenak kupikir berada di perpustakaan bersama Jinki lebih menyenangkan dari pada di sini.
Sesekali aku melirik Jiyoung yang selalu menimpali ucapan mereka. Lihat, ia lebih cocok berteman dengan mereka ketimbang aku. Aku tak begitu memerhatikan sebenarnya, tapi ternyata Minho dan Jiyoung lebih banyak berinteraksi berdua. Sesak lagi. Hah! Benar-benar! Berada di perpustakaan bersama Jinki lebih baik daripada berada di sini!
“Kau sama sekali tak bersuara, ___,” tiba-tiba Jonghyun menyindirku. Aku tersentak dari lamunanku dan menoleh menatapnya.
“Eh?” tanyaku bingung “Aku sariawan,” lanjutku singkat. Daripada mereka berceloteh lagi? Bisa kurasakan Minho menatapku. Tapi kali ini aku memilih untuk lebih tak peduli.
“Kau terlihat pucat,” timpal Key. Taemin hanya mengangguk setuju.
“Baiklah. Kurasa aku harus kembali ke kelas,” gumamku seraya bangkit berdiri.
“Mau kemana?” kali ini Jiyoung yang bertanya. Aku hanya tersenyum lemah.
“Aku mengantuk, dan aku ingin tidur,” jawabku. Aku mengedarkan pandangan ke mereka semua, sebelum melangkah pergi. “Annyeong,”
Kenapa bisa sih aku jadi begini? Mataku benar-benar mengantuk, dan kepalaku memang terasa sedikit pusing. Apakah karena mereka berdua? Hah, itu tidak lucu. Aku melangkah memasuki kelas, menuju ke mejaku, menghempaskan diri di kursi dan menelungkupkan kepalaku. Jinchayo aku benar-benar ingin tidur…
“___-ah, kau tidak ke kantin?” wah, kenapa suara Jinki terdengar olehku? Aku mendongak, dan benar saja. Jinki sudah duduk persis di depanku.
“Aniyo. Aku mengantuk,” jawabku singkat. “Memangnya kau sudah selesai berburu di perpustakaan?”
“Ne, sudah. Hey, kau sudah berkenalan dengan haksaeng baru itu?”
“Tentu saja. Ia chingu lamaku,” tukasku pelan dengan kepala kembali terkelungkup. “Namanya Kang Jiyoung, dan sekarang ia berada di kantin bersama dengan yang lainnya,”
“Arasseo. Aku ke kantin dulu,” aku hanya menyahutinya dengan anggukan. Ya, pergi sana. Aku sedang tak ingin di ganggu.
__
Aku melamun lagi. Ya, tapi kali ini di tempat yang benar-benar strategis. Tempat yang tidak akan dikunjungi oleh siapapun kecuali kalau ia mau bunuh diri. Tapi tujuanku ke sini bukan untuk bunuh diri, oke?! Kurasa di sini, atap sekolah, adalah tempat keramat yang tidak akan dikunjungi siapapun karena tak ada gunanya. Benar kan? Buat pacaran tidak bisa, kecuali mau pacaran di lantai semen dengan angin yang lumayan keras di sini.
I-pod dan earphone sudah sempurna terpasang. Yang kulakukan hanyalah duduk meringkuk memeluk lutut, menyenderkan kepala sambil menatap kosong ke langit. Lagu 2NE1 – Lonely melantun, sangat tepat dengan kondisiku sekarang. Ingin rasanya berteriak sambil menyanyikan lagu ini. Kalau di sini, setidaknya tidak ada yang mendengar, kan?
“Baby I’m sorry, even I’m with you I’m lonely, I must be lacking when it comes to love please forgive this horrible person I am, I’m sorry, this is your and my story, I must not be worthy of this called love, even though I’m by your side… Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely, Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely… yeah…”
Aku terkesiap begitu earphoneku yang ada di sebelah kanan ditarik seseorang. Aku menoleh cept menatapnya, dan segera membuang muka begitu mengenali sosoknya. Aku menarik napas dalam sambil mengunci mulutku, meski aku masih ingin melanjutkan nyanyianku itu.
“Lonely? Kau memang sedang lonely sekarang,” ujarnya pelan. Tuhan, jantungku… kenapa selalu seperti ini sih? Aku tetap mengunci mulutku, seolah tak mendengar perkataannya. “Suaramu bagus juga,”
Aku menoleh menatapnya. “Itu pujian atau sindiran?” sahutku ketus. Selalu begini. Sikapku padanya selaalu 180 derajat berbeda dari sikapku pada teman-temannya. Aku juga bingung kenapa bisa begini. Ia mendesah sambil ikut menatap langit. Baru kusadari, earphoneku yang ada di sebelah kanan sudah terpasang di telinga kirinya.
“Tidak dua-duanya,” sahutnya pendek. Aku mengalihkan pandanganku darinya, dan lagu sudah berganti. Kali ini Super Junior – It’s You. Haish, lagi-lagi lagu ini menggambarkan isi hatiku pada namja di sampingku ini. Siapalagi kalau bukan Choi Minho?
“Kau tidak bersama dengan Jinki dan kawanannya?” tanyaku tanpa ekspresi. Ia menoleh menatapku, namun tak kugubris sama sekali.
“Seperti yang kau lihat,”
“Jiyoung kemana?” tanyaku lagi. Pabo! Kenapa aku malah bertanya seperti ini?
“Oh, dia sedang berkeliling sekolah bersama salah satu chingu barunya. Tadi dia mencarimu, tapi Key bilang kau sedang tidur di perpustakaan,” cerocosnya yang entah asal atau kebenaran. Aku menaikkan ujung bibirku dan mendengus pelan. “Dia anak yang periang,”
“Siapa?” lagi-lagi aku menanyakan hal yang sudah fakta.
“Kang Jiyoung,” Tuh kan! “Dia anak yang manis dan ceria. Dia cantik dan pintar juga sih,” God, aku tak bisa bernapas!
“Dia selalu menjadi ulzzang di sekolahku dulu,” gumamku. “Seperti kalian,”
“Jinchayo? Pantas saja haksaeng di kelasku selalu berebut mencari perhatiannya,” ujarnya takjub. Termasuk kau, kan? Aku tahu itu, Tuan Choi Minho, gumamku dalam hati. Aku tertawa tanpa suara.
Kriingggg
Kriiingggg
Aku mencopot earphoneku yang terpasang di telinganya maupun di telingaku, mematikan I-podku dan memasukkannya ke dalam saku. Aku langsung bangkit berdiri dan melangkah menuju tangga dengan cepat.
“Hey!” panggilnya. Aku berputar menatapnya.
“Wae?”
“Kau mau kemana?” aku membulatkan mataku. Apa tadi ia tak mendengar bel sudah berbunyi?
“Tentu saja aku mau ke kelas!” jawabku sambil mengerutkan kening. Ia tersenyum lebar. Please, Choi Minho, jangan buat aku terkena serangan jantung, oke?
“Aku ikut,” aku hanya berbalik dan melanjutkan langkahku. Beberpa detik kemudian lengannya kembali bersentuhan dengan bahuku. Damn! Jantungku kembali berulah.
Kami—terpaksa aku harus mengatakannya—melangkah bersama meniti tangga hingga sampai ke lantai dimana kelas kami berada. Baiklah, ini kenangan yang akan terus kuingat. Berjalan berdampingan dengannya. Ketika sudah sambil di depan kelas XI – A, Jiyoung sudah melambai dan memasang senyumnya.
“Minho-ah! ___-ah!” aku hanya tersenyum mendengarnya. Minho-ah? Aku saja masih memanggilnya Minho-ssi. Tapi mereka kan memang dekat. Huft, sesak lagi.
“Jiyoung-ah, katanya tadi kau mencariku?” tanyaku padanya. Ia mengangguk pelan.
“Ne, tapi aku tak dapat menemukanmu. Kau kemana sih?”
“Dia bersembunyi,” sahut Minho pendek. Aku mengangkat sebelah alisku.
“Kau jangan sok tahu,” balasku sedikit kesal. “Aku sedang merenungi nasib tahu,”
“Nasib? Nasibmu memang kenapa ___-ah?” tanya Jiyoung kaget. Aku hanya meringis sambil menatapnya.
“Fisikaku,” gumamku sedikit berbohong. Hanya sedikit, jadi nilai fisikaku yang hancur lebur itu merupakan alasan kedua aku merenungi nasib di atap tadi. “Kurasa benar kata Jinki, aku harus mengambil kursus fisika,”
“Wah, itu guru yang kemarin ngamuk di kelas kita ya Minho-ah?” tanya Jiyoung ketika matanya menangkap sosok sonsaengnim berkacamata ala Bung Hatta *lupakan kalau dia mengenal bung Hatta* sambil membawa beberapa map kuning. Mampus! Itu kan Jang Sonsaengnim!
“Kya! Aku harus kembali ke kelas! Hari ini aku mendapat pelajarannya!” seruku dan langsung ngibrit kembali ke kelasku.
__
“Karena kalian sudah kelas 2, rencana pada akhir bulan ini kita akan mengadakan study tour yang rutin kita lakukan setiap tahun,” kata-kata Miss Lee membuat mataku segar. Study tour? Asik! Aku langsung menegakkan posisi dudukku. “Sesuai kesepakatan yang kita adakan beberapa bulan lalu, study tour kali ini kita akan pergi ke…”
“Europe! Yeahhh!” seru semua haksaeng serempak. Aku hanya meringis. Eropa? Haduh…
“Yep. Kita akan mengadakaan tour keliling Eropa,” mataku kembali membulat. Mwoya? Tour?! Eommaa… eotthokke? Tabunganku… hiks….
“Yeah!!” seluruh haksaeng bersorak girang. Hanya aku sendiri yang melongo di tempat dudukku. Bayangkan… paspor, devisa, tiket, hotel, biaya makan, huaaaaaaa bisa-bisa rumahku dijual untuk semua itu! Aku memerosotkan bahu. Tring! Aku langsung mengangkat tangan.
“Untuk pendaftaran serta pembayarannya bisa menghubungi administrasi, serta penjelasan tentang acaranya akan dilakukan lusa,”
“Sonsaengnim!” panggilku. Miss Lee menoleh dan tersenyum.
“Ne?”
“Apakah kegiatan ini wajib?” tanyaku was-was. Semoga tidak wajib.. semoga tidak wajib…
“Ini wajib, sayangku,” jawabnya sambil tersenyum. Aku memerosotkan bahu. Coba kalau hanya sekadar ke Gunung Seongju aku masih kuat. Tapi ini? Eropa! Biaya hidup di sana saja sangat mahal! Belum lagi aku tidak mempunyai paspor, apa yang harus kulakukan? Membuat paspor itu tidak pakai daun!
“Waeyo ___-ah? Kau tidak mau ikut?” tanya Taemin bingung. Aku menoleh menatapnya lemas, lalu memainkan pena yang ada di jariku.
“Bagi orang punya seperti kalian, ini bisa diatur dengan jentikan jari. Tapi bagi orang pas-pasan seperti aku? Ini seperti memikul 10 ton batu mengelilingi dunia,” ujarku hiperbola. Taemin hanya memandangku tanpa ekspresi.
“Kau kan bisa minta bantuanku,” gumamnya. Aku mendelik.
“Mwoya? Kata appa-ku, kalau kita meminta bantuan akan masalah yang sebenarnya bisa di selesaikan sendiri, itu namanya merendahkan harga diri sendiri,” tukasku. Taemin mengerucutkan bibirnya.
“Memangnya kau bisa menyelesaikan masalah ini sendiri? Ayolah, lagipula kau bisa mengembalikannya dengan cara menyicil,” ungkap Taemin bijak. Wew, tumben sekali.
“Tetap saja kau merasa tidak enak,”
“Apanya sih yang tidak enak? Aku malah senang bisa membantu orang,” ya Tuhan, kenapa baru kusadari Taemin itu begitu baik? “Pokoknya, kau harus kubantu. Ingat itu, ___,” ujarnya tajam lalu kembali memfokuskan diri kepada soal-soal di papan tulis. Aku menatap wajahnya, lalu ikut meraih pena.
Haish, apa yang harus kulakukan? Aku tidak… “Aku akan memikirkan bantuanmu, Taem,” gumamku tiba-tiba. Tentu saja, aku harus mengkonsultasikan ini kepada eomma dan appa. Ia menoleh dan tersenyum senang.
“Pikirkan baik-baik, oke?” aku hanya mengangguk menaggapi ucapannya. “Hey, kau sudah nonton My Girl Friend is a Gumiho belum?” aku melongo. Lee Taemin is back! Oke, mungkin aku agak berlebihan. Tapi kalian baru tahu kan, kalau seorang Lee Taemin suka sekali menonton K-drama?
“Sama sekali tidak. Tapi kemarin eomma-ku baru saja menyelesaikan serial Full House hahaha…” jawabku menyahut.
“Hah? Drama jaman dulu itu? Aku sudah belasan kali nonton itu,” cibirnya. Aku mengerucutkan bibir.
“Eomma-ku juga. Tapi dia sayang banget sama Young Jai. Ganteng sih, keren malahan. Tapi aku lebih suka Autumn Concert-nya Vaness Wu,”
“Oh, aku lupa kalau kau lebih suka drama Taiwan daripada Korea,” dumel Taemin. “Eh, Vaness Wu itu yang main di Meteor Garden, kan?” aku mengangguk semangat.
“Kau harus nonton itu Autumn Concert! Seru banget! Aku lupa Vaness jadi siapa, yang pasti tokoh yeoja-nya aku ingat. Liang Mu Chen! Anaknya Liang Xiao Le!” sahutku semangat soal drama favoritku itu.
“Ne, arasseo. Kau sudah bercerita berkali-kali bahkan memaksaku untuk membeli DVDnya, ___-ah. Tapi aku sedikit sebal sama Mu Chen. Kenapa sih dia tidak terus terang sama Vaness? Kan gak asik…”
“Lah, kalo si Mu Chennya ditekan terus sama keluarganya Vaness gimana? Kan nyakit juga Taem!” balasku membela tokoh favoritku itu. “Eh, kau sudah nonton?” ia mengangguk polos. “Kapan?”
“Selesai menonton Gumiho. Kau belum nonton Gumiho ya? Lucu tau!”
__
Keesokan paginya, aku bisa lebih semangat melangkah memasuki gerbang. Eomma dan appa sudah menyetujui, meski biayanya sedikit ada yang kurang. Mereka memperbolehkanku untuk menerima bantuan Taemin, dengan syarat aku harus mengembalikannya di kemudian hari. Langkahku terhenti begitu menangkap sosok Minho yang sedang bersandar di samping motornya. Kulihat banyak haksaeng yeoja yang cekikikan atau melongo terpesona menatapnya. Bingung, aku hanya meneruskan langkahku menuju kelas.
“Ya! ___!” aku menghentikan langkahku begitu mendengar suara berat yang selalu membuat jantungku seperi genderang perang itu memanggil namaku.
“Hm?” jawabku datar.
“Kau ikut study tour?” tanyanya. Ia hanya menanyakan itu? Astaga. Aku hanya menyahutinya dengan mengangguk. Ia mengembangkan senyumnya yang membuat para yeoja menjerit histeris dan membuatku panas dingin. “Joa!”
Oh, ___, janganlah banyak berharap. Mungkin ia membutuhkanmu untuk mendekati Jiyoung? Ups. Aku hanya memandang punggungnya yang menjauh dengan lemah. Meski harapanmu ada pada sebuah bintang di langit, tapi tetap saja kau tidak bisa meraih bintang, kan? Itulah fakta. Aku kembali melenggang menuju ke kelas, dimana tiga mahkluk tampan itu sudah duduk manis dan saling berbincang seperti biasa.
“Taemin-ah!” panggilku. Ia menoleh dan tersenyum.
“Wae?”
“Kupikir aku butuh sedikit bantuanmu. Orangtuaku ternyata bisa membantu hingga separuh lebih biaya. Aku menggunakan gaji dari kerja sambilanku selama ini sebagai tambahan. Tapi ternyata masih kurang,” jelasku padanya. Aku tidak mau memberikan bebanku secara keseluruhan padanya.
“Mwoya? Kerja sammphhh..” aku langsung membekap mulutnya yang suka asal cerocos itu.
“Pelankan suaramu! Hanya kau dan aku yang tahu tentang ini. Aku kerja yaa.. di Chocolate Bun cafe itu!” kedua mata Taemin melebar mendengarnya. Aku melepaskan bekapanku darinya. “Kau mau membantuku?”
“Ne! Tentu saja aku mau membantu. Nanti akan ku urus,” jawabnya menenangkan. Aku mengembangkan senyum.
“Gomawo Taemin-ah!”
__
Lagi-lagi aku mendesah. Key terus-terusan menatapku seolah berkata ternyata-perasaanmu-tak-bisa-disembunyikan. Aku menarik ujung bibirku saat menatapnya. Ia malah menatapku tajam, sementara aku kembali menyuapkan sesendok sup kimchi ke dalam mulutku. Mataku berkali-kali melirik ke arah yeoja dan namja yang tengah bersenda gurau serasa dunia milik berdua. Siapa lagi kalai bukan Choi Minho dan Kang Jiyoung? Aku menyambar gelas tehku dan meneguknya hingga habis setengah.
“Kenapa sih Key, kau terus-terusan menatapku seperti itu?” tanyaku menggodanya. Ia menyeringai, tanda mengikuti permainanku.
“Aniyo. Hanya saja ada nasi di sudut bibirmu,” gumamnya sambil mengelus sudut bibirku yang tidak ada apa-apanya. Aku menepis tangannya pelan.
“Berhentilah bercanda, Key,” desisku kesal. Bisa kulihat Jiyoung menatapku dengan pandangan menggoda. Dia pikir aku naksir Key, begitu pula sebaliknya. Dasar kau Key!
“Ya! Key! Jangan buat aku kehilangan teman sebangku!” seru Taemin tak jelas. Jonghyun hanya tertawa hambar menanggapi permainan konyol ini.
“Kalian semua ikut study tour, kan?” tanya Jonghyun semangat. Kami semua mengangguk.
“Tentu saja. Inikan acara wajib,” ujarku sambil menekankan kata ‘wajib’ itu. “Kalau tidak wajib aku malas sekali kalau disuruh ikut,”
“Ya, karena itu kau hampir depresi karena biayanya, kan?” celetuk Taemin asal. Kurasakan Minho menatapku bingung. Pandangan kami bertemu sejenak sebelum aku mengalihkannya dengan menatap Key.
“Jinchayo? Jadi bagaimana ___-ah?” tanya Jiyoung khawatir. Aku tersenyum menenangkan.
“Tenang saja Jiyoung-ah. Aku bisa menyelesaikannya,”
“Oh ya, Minho-ah, bukankah kau pernah bercerita bahwa kau akan ikut dalam pertandingan basket antar sekolah?” tiba-tiba Jiyoung berseru kepada Minho yang duduk di sampingnya. Aku mengerutkan kening. Jadi dia ikut lomba itu?
“Iya yah Ho. Kau jadi ikut? Kenapa tidak langsung bilang? Kenapa Jiyoung yang tahu duluan?” cerocos Jonghyun yang mendapat pandangan tajam dari Key. Aha. Sepertinya aku tahu kenapa Key melakukan itu.
“Ah, aku lupa. Lombanya besok sampai lusa. Tentu saja dia tahu duluan, dia duduk tepat di sampingku,” jawab Minho cuek. Kulihat Jiyoung mengembangkan senyum malu-malunya. Ya, dia menyukai Minho. Pasti.
“Dimana lombanya?” Tanya Taemin datar. Minho menoleh menatapnya sejenak lalu mengaduk-aduk gelas di depannya.
“Di lapangan basket indoor sekolah kita. Sepertinya mulai nanti sore jam 4,” tukasnya pelan. Jujur aku ingin menonton. Tapi kerja sambilanku… lihat saja nanti deh.
“___-ah, kau ikut menonton kan?” tanya Key semangat. Aku menoleh menatapnya, lalu tersenyum.
“Ku usahakan ya,” jawabku. Lagi-lagi pandanganku bertemu dengan pandangannya. Kali ini ia mengerutkan keningnya.
“Memangnya kau ada acara apa?” tanyanya bingung. Aku meringis, bingung apakah harus berkata jujur atau tidak.
“Er, yah, pokoknya lihat kondisi deh,” tukasku sedikit ngotot. Ia mendesah dengan tetap menatap mataku.
“Aku berharap kau datang,”
Deg….
Please, jangan beri aku harapan, Tuan Choi Minho. Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Ia hanya menatapku lurus-lurus sebelum memalingkan wajah. Aigoo…
__
“Mwoya? Ada pertandingan basket sore ini?” Nana, chingu di tempat kerjaku berkata sambil mendelik kaget menatapku. Aku hanya mengangguk kalem.
“Ne, tapi aku bingung apakah aku bisa mengambil ijin atau tidak,” desahku lemah. Nana hanya menatapku sambil menopang dagunya.
“Kau benar-benar suka padanya ya?” aku menoleh menatapnya.
“Bukan sekedar suka. Aku mencintainya,” balasku sambil tersenyum pahit. “Dan sayangnya cinta itu bertepuk sebelah tangan,”
“Ah, kau ini. Tidak mudah menentukan perasaan seseorang tahu,”
“Ah, yang penting apakah aku diijinkan mengambil cuti sehari hari ini? Aku ingin menghadiri pertandingan itu,”
“Pastikan saja pada Jungsoo sajangnim. Biasanya ia yang paling baik hati. Mumpung ia sedang berada di ruangannya, cepat bilang!” dengan semangat Nana mendorong punggungku mendekat ke ruangan Jungsoo sajangnim. Aku hanya menatapnya ragu, namun ia menatapku dengan penuh keyakinan. Akhirnya, dengan segenap kemampuanku akhirnya aku meraih gagang pintu dan memutar gagangnya. Pintu pun terbuka.
“Annyeonghaseyo sajangnim,” sapaku sopan. Ia ikut menunduk, membuatku ikut menunduk lagi.
“Ne? Waeyo? Apakah ada yang perlu dibicarakan?” tanyanya ramah. Aku hanya mengulum senyum tipis.
“Er, sajangnim, bisakan aku pulang sekarang? Aku sedang ada urusan,” pintaku. Jungsoo sajangnim tersenyum kecil, lalu mengangguk-angguk sambil terkekeh.
“Wah, wah, acara para remaja rupanya. Baiklah, kau kuberi kesempatan hari ini,”aku hampir melonjak kegirangan mendengar penuturannya.
“Ah, jinchayo? Gamsahamnida sajangnim,”
“Ne, tapi jangan persalah gunakan kepercayaanku, arra?”
“Ne, arraseumnida sajangnim!” seruku semangat sambil menunduk. Aku langsung bergegas kembali ke sekolah setelah mengganti pakaian pelayanku dengan pakaian biasa. Tanpa ragu aku langsung menaiki sebuah bus yang kebetulan ada di depan halte.
Sesampainya di sekolah, aku langsung melangkah menuju ke lapangan bakset indoor sekolah. Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kiriku. Baru jam empat lewat lima belas menit. Berarti perlombaannya sudah mulai berlangsung. Aku mempercepat langkahku, mendapati lapangan basket indoor sudah penuh sesak degan para penonton dan pemandu sorak.
Aku melangkah ke sudut, mungkin ada tempat kosong. Dan ternyata memang ada. Langsung ku duduki dan mengecek siapakah yang sedang bermain. Masih sekolah lain yaitu Starship dan Cube, jadi aku hanya bersantai di tempat dudukku sementara gerumulan yeoja di sampingku ini berteriak histeris. Ah, masa bodohlah. Kini mataku malah liar mencari-cari sosok Taemin atau Jinki atau Key atau Jonghyun, mereka kan pasti datang ke sini. Tapi yang kutemukan adalah sosok Jiyoung yang duduk di barisan paling dengan dengan pom-pom dan terompet di tangannya, dan sepertinya ia tengah beranjak pergi entah kemana. Yeoja itu, sedari dulu tak pernah berubah, selalu menjadi seorang gadis periang yang menawan. Aku jadi meringis.
“Ya! Kau baru datang ya?” sebuah suara dan tepukan di bahuku membuyarkan konsentrasiku ketika mencari empat manhkluk paling tampan versi mading sekolah itu. Aku menoleh dan tersenyum mendapati Key yang menepuk bahuku.
“Hey Key,” sapaku ringan. “Ya, aku masih ada urusan tadi,”
“Mau ke tempat karantina? Kami semua di situ,” tawarnya. Ruangan yang dimaksudkannya adalah sebuah ruangan yang terdapat di dalam stadion, ah aku susah menjelaskannya. Pokoknya tempat itu khusus untuk mempersiapkan para peserta tanpa diketahui sebelumnya oleh para penonton. Aku hanya menatapnya bimbang.
”Aniyo. Aku akan menonton dari sini saja,” tolakku. Key mencengkeram pergelangan tanganku.
“Andwae. Kau harus ikut aku ke dalam. Kenapa sih? Kau tidak mau bertemu dengannya?” tanyanya yang tepat sasaran. Tapi ternyata aku tak bisa berbohong pada Key, jadinya aku hanya mengangguk saja.
“Aku tidak mau bertemu dengannya. Jebal, aku tak ingin ke dalam,” pintaku memelas padanya. Ia mendesah, lalu menatapku tajam.
“Ya, ___, mau sampai kapan kau terus seperti ini? Jiyoung ada di dalam, dan ia sedang mencari perhatian Minho. Cepatlah masuk ke dalam, aku tahu kau ingin bertemu dengannya,” tukas Key sambil tersenyum. Namun aku tetap menggeleng.
“Oh please Key, akyu benar-benar tidak ingin bertemu, berbicara padanya. Kau tahu sendiri reaksiku bila aku duduk di dekat anak yang begitu? Sudahlah Key, aku tak ingin masuk ke dalam,” tolakku lagi. Key mendesah, dan akhirnya ia mengalah.
“Baiklah. Aku akan menemanimu disini,” katanya tenang dan mengambil kursi tepat di sampingku. “Hey, kurasa Jiyoung itu naksir Minho,” ujarnya tiba-tiba. Aku hanya menghentikan aktifitasku sejenak, lalu kembali membuka ponselku yang berdering menandakan ada SMS masuk.
“Kau baru menyadarinya? Aku malah sudah menyadarinya sejak ia bertemu Minho pertama kali. Sekarang siapa sih yang tidak mempan akan pesona seorang Choi Minho?” cerocosku panjang. Key mengangkat kedua alisnya, dan lihatlah, ia mulai nyengir mengejek.
“Termasuk kau?” godanya yang membuatku memutarkan kedua bola mataku.
“Terserah deh,” ungkapku akhirnya. Aku membuka kunci teleponku untuk mengecek siapa yang mengirimiku pesan. Mwoya? Minho?
From : Choi Minho
Ya, eodiga?
Aku memerosotkan bahu, dan tanganku bergerak untuk memasukkan kembali ponselku ke dalam saku. Aku sedang dalam keadaan tidak memiliki mood baik untuk membalas pesannya. Kurasakan Key sedari tadi terus-menerus memerhatikan gerak-gerikku. Seringaiannya mulai nampak saat aku menoleh menatapnya.
“SMS dari Minho, eh?” kenapa dia bisa tahu?
“Ne, tapi aku tak berniat membalasnya,” jawabku kalem. Baru kusadari, aku tak memerhatikan pertandingan di hadapanku ini. Aku mendesah begitu melihat papan skor sudah menampakkan angka 25 – 15.
“Tenang saja, mereka akan maju sebentar lagi. Ini sudah quarter kedua,” tiba-tiba Key berceletuk. Aku menoleh menatapnya, lalu kembali melemparkan pandangan ke lapangan.
“Csh,” decakku pelan. Benar-benar membuatku kesal, si Key itu. Sambil menggigit bibir, aku memberanikan diri mengambil kembali ponselku, dan mengetikkan pesan balasan untuk Minho.
To : Minho
Di bangku penonton. Hwaiting!
Aku mendengus menahan tawa ketika membaca ulang balasanku untuknya. Terkesan sangat kaku, pabo, dan aneh. Tapi toh akhirnya aku menekan tombol ‘send’ juga. Key hanya mengamatiku yang senyum-senyum sendiri.
“Kau membalas pesannya? Wah, kemajuan,” aku meninju lengan atasnya begitu mendengarnya. Ia hanya nyengir 3 jari, membuatku mengerucutkan bibir.
“Apaan sih kau,” dan beberapa saat kemudian, pertandingan sudah selesai dengan skor 28 – 20 untuk Cube. Ponselku kembali berdering.
From : Minho
Jiyoung ada di sini. Kau tidak masuk?
TBC
AKHIRNYAAAAA #plakkk lanjutan gak akan lama, karena selesai di tulis semua baru di post. Huehehe #plakk
Otte? Otte?? Anehkah?? Well, ini hanya obsesi author aja kok. Pertama kali bikin main cast YOU secara chapter. Huahahaha #PLAKKK

Tidak ada komentar:
Posting Komentar