Title : Be Mine
Author : ReeneReenePott
Maincast : Choi Minho, YOU ( isi ___ dengan namamu)
Supporter Cast : Kim Jonghyun, Key, Lee Taemin, Lee Jinki, Kang Jiyoung (KARA), Song Sam Dong, Nam Jihyun
Length : Trilogy
Genre : Romance, Fluff
Rating : PG – 16
Backsound : 2NE1 – Ugly, 2NE1 – Lonely, Super Junior – It’s You, BEAST – On Rainy Days, MLTR – Breaking My Heart, Jung Yong Hwa – Banmal Song (ini udah di susun berdasarkan plot)
A/N : ^o^ Mungkin karena POV yang kupakai Cuma satu, mungkin ceritanya gak akan jelas*ngomong apa sih*. Heheehe… XDD Happy reading saja dehhh!!
__
Previous Chapter
To : Minho
Di bangku penonton. Hwaiting!
Aku mendengus menahan tawa ketika membaca ulang balasanku untuknya. Terkesan sangat kaku, pabo, dan aneh. Tapi toh akhirnya kau menekan tombol ‘send’ juga. Key hanya mengamatiku yang senyum-senyum sendiri.
“Kau membalas pesannya? Wah, kemajuan,” aku meninju lengan atasnya begitu mendengarnya. Ia hanya nyengir 3 jari, membuatku mengerucutkan bibir.
“Apaan sih kau,” dan beberapa saat kemudian, pertandingan sudah selesai dengan skor 28 – 20 untuk Cube. Ponselku kembali berdering.
From : Minho
Jiyoung ada di sini. Kau tidak masuk?
__
Chapter 3
Aku mendengus pelan membacanya. Memang masih ada jeda waktu sekitar 15 menit. Aku melirik Key yang pandangannya terfokus pada para pemain yang saling berjabat tangan setelah pertandingan. Jiyoung? Aku menatap ke kursi depan penonton tempat Jiyoung tadi berada. Memang kosong. Hah, anak itu. Memang tak pernah menyerah kalau sudah urusan lelaki.
To : Minho
Tidak. Aku di sini bersama Key.
Dan setelah itu ia tak membalas. Masa bodoh deh.
“___-ah, kau beneran tidak ingin masuk?” Key bertanya lagi padaku. Aku menoleh menatapnya dan menggeleng.
“Ani. Aku tidak ingin,” jawabku singkat.
“Apa kau ingin membeli minuman ke luar? Atau cemilan?” tawarnya pada akhirnya. Lagi-lagi aku menggeleng.
“Kalau kau mau, ya beli saja,” tukasku pendek. Key mendengus lalu berdiri. Sekali lagi ia menoleh menatapku.
“Kau tidak haus? Mau menitip ssesuatu?”
“Tidak, Key, aku sedang tidak ingin mengonsumsi apa-apa saat ini,” jelasku padanya. Ia mengangguk dan melangkah keluar.
“Awas nanti tenggorokanmu kering saat menyoraki Minho,” gumamannya sempat terdengar, yang hanya kutanggapi dengan tawa hambar.
Beberapa saat kemudian, kulihat Key sudah kembali dengan dua gelas es teh. Aku merenyitkan kening. Dia benar-benar kehausan ya? “Hey, ini cadanganmu untuk berteriak nanti, ya?” godaku.
“Ani, ini satu untukmu,” jawabnya sambil menyodorkan segelas padaku. Aku memanyunkan bibir.
“Kan sudah kubilang tidak usah,” dumelku. Key mengangkat sebelah alisnya pede. Tapi akhirnya kusambut juga teh itu.
“Lihat saja nanti. Kau pasti akan menjerit kalau sudah menonton namja-mu itu,” ujarnya pelan dengan nada yang menjengkelkan.
“Dia bukan namja-ku,” sahutku kalem. “Dan aku sudah berkali-kali melihatnya main basket, jadi tidak akan se-histeris haksaeng lain,” lanjutku. Key mencibir. Tak berapa lama, kulihat pemandu acara sudah mulai berkicau lagi, dan para penonton sudah mulai histeris. Saatnya sekolah kami melawan Kirin. Jiyoung juga sudah kembali ketempat duduknya, kali ini bersama Taemin. Well, aku sedikit tidak rela. Bukan karena Minho, tapi karena Taemin. Hyah!! Apa-apaan aku ini?
Para pemain mulai memasuki lapangan. Banyak jerit histeris membahana ketika para pemain yang menjadi idol mulai bermunculan. Seingatku, pemain yang mendapat posisi center dalam tim Kirin itu, juga salah satu idola. Namanya Song Sam Dong. Ya, kalau tidak salah. Jerit penonton makin histeris begitu Minho memasuki lapangan. Tuhan, lagi-lagi jantungku berulah. Haishhh…
Matanya bertemu mataku. Aku hanya tersenyum tipis. Ia mengalihkan pandangannya ketika wasit membunyikan peluit. Permainan di mulai. Mataku tak lepas dari sosoknya. Selalu seperti ini…
__
“Jinchayo. Tadi itu sangat tipis perbedaannya. 56 – 55! Tapi untung saja kita menang! Hah, Kirin lumayan berat juga yah,” celoteh Jonghyun saat kami bertujuh sudah berkumpul di lapangan outdoor. Bertujuh? Ya, Lee Jinki, Kim Jonghyun, Key, Choi Minho, Kang Jiyoung, aku. Enam kalau aku dianggap seperti angin lalu.
“Ya, center-nya sangat kuat. Pertahanan mereka memang mantap. Salut deh,” timpal Minho. Aku mengangkat sebelah alisku. Pantas saja. Namja bernama Song Sam Dong itu menjadi idola. Tampan, pintar basket, tinggi, putih. Ups…
“Mahkluk ini,” Key menunjuk mukaku dengan tatapan heran, “Sama sekali tidak menjerit, hanya bersorak sesekali saat sekolah kita mencetak poin, dan juga bersorak saat Kirin mencetak poin juga. Aku jadi bingung, kau ini memihak kemana sih?”
“Supporter dari sekolah kita kan sudah banyak. Untuk apa aku ikut menyumbang suara? Lagipula, permainan mereka memang bagus,” tukasku kalem. “Center Kirin, kalau kulihat dia memang kuat. Si Song Sam Dong itu,” komentarku pelan. Jiyoung memekik.
“Kau tahu namanya? Darimana?” tanyanya semangat. Aku hanya tersenyum tipis.
“Sepupuku yang bersekolah di Kirin sangat mengidolakannya,” jawabku singkat. “Dan setelah dilihat tadi, sepupuku memang tidak berbohong…”
“Kita mau merayakan kemenangan kita kemana? Oh ya, anak basket pada mau ke karaoke. Mau ikut?” tiba-tiba Minho memotong ucapanku. Aku hanya menghirup napas.
“Aku ikut,” seru Jiyoung.
“Aku juga,” timpal Key. Jonghyun ikut mengangkat tangannya.
“Tentu saja aku harus ikut,”
“Yah, sekali-sekali tidak ada salahnya sih,” Jinki bergumam sambil membetulkan letak kacamata tanpa bingkainya itu. Kini semuanya menoleh menatapku.
“Ne?”
“Kau mau ikut merayakan kemenangan kami?” tanya Minho. Nada dalam suaranya seperti… was-was. Aku mengangkat kedua bahuku.
“Rencananya sih aku ingin tidur di rumah,” jawabku pelan. Tapi ketika melihat tatapan Key dan Minho serta Jonghyun yang seperi memohon, akhirnya, mau bagaimana lagi? Aku sulit menolak permintaan mereka! “Tapi sepertinya aku harus mengurungkan niat itu,” lanjutku sambil mengulum senyum.
“Yeah!”
“___ eonni!” sebuah suara yang ku kenal memanggilku dari belakang. Aku berbalik, dan mendapati sepupuku, Nam Jihyun berlari kecil ke arahku.
“Jihyun-ah!” sapaku. Jihyun hanya tersenyum.
“Eonni! Eonni datang juga ya? Berarti eonni sudah tahu Sam Dong oppa kan?” cerocosnya langsung. Aku yakin, chingudeul-ku pasti langsung terkejut. Aku hanya memiringkan kepalaku.
“Ne, aku sudah melihatnya. Wae?” jawabku singkat. “Oh, Jihyun-ah, ini teman-temanku,” aku mengenalkan Jihyun kepada mereka. Dapat kulihat ekspresi paling datar adalah milik Choi Minho. Jinchayo dia itu benar-benar…
“Jadi kau bersekolah di Kirin?” tanya Key. Jihyun mengangguk semangat.
“Ne. Awalnya ___ eonni ingin kumasukkan ke Kirin juga. Sekalian ingin kujodohkan dengan Sam Dong oppa. Mereka sangat cocok!” aku melongo. Ya Nam Jihyun apa yang barusan kau katakan? Aku tak pernah mendengarmu berkata seperti itu!
“Ya! Kenapa jadi kau yang mengatur-atur sekolahku? Lagipula, dari sisi mana aku cocok dengannya heuh?” sergahku sedikit kesal.
“Jihyun-ssi, memangnya ___ memiliki hubungan dengan Sam Dong?” tanya Key. Aku mengangkat ujung bibirku. Pikiran anak satu ini benar-benar aneh.
“Ani. Eonni tidak pernah mengenalnya. Aku hanya sering menceritakan eonni kepada Sam Dong oppa,” ujarbnya polos. Mataku membulat. “Lagipula, kalau dilihat eonni memang cocok dengan Sam Dong oppa,”
“MWO?!” pekikku kaget. Bisa kulihat Taemin, Key, Jonghyun bahkan Jinki pun melongo. Dan Minho, lihatlah, wajahnya cemberut. Kenapa dia ini? Apa dia kesal karena perayaannya tertunda? Sementara Jiyoung? Ia nampak tak peduli.
“Ne, Sam Dong oppa sedikit-sedikit mengetahui eonni. Tunggu, kupanggilkan dia,” aku langsung mencegat Jihyun.
“Andwae, tidak usah Jihyunnie. Kami masih ada acara. Kau harus pulang kan? Nanti ahjumma marah kalau kau pulang telat,” tegurku padanya.
“Sebentar saja, eonni,” pintanya. Aku menatap ke arah chingudeul-ku, lalu kembli mentap Jihyun.
“Eonni harus pergi sekarang,”
“Ayolah eonni,” rengeknya. Kalian tahu kan, aku paling tidak tahan dengan rengekan?
“Kalian berangkat dulu saja, nanti aku menyusul,” ujarku. Akhirnya mereka melangkah pergi. Pandanganku kembali terarah kepada Jihyun.
“Jadi, apa yang mau kau lakukan?” tanyaku padanya. Ia menarik tanganku kembali ke dekat lapangan basket indoor. Di sana beberapa orang dari Kirin memang masih berkumpul. Jihyun menatap berbinar ke arah namja yang memakai seragam basket dengan nomor punggung 8.
“Sam Dong oppa!” serunya. Namja itu berbalik.
“Ne, Jihyun-ssi?” tanya Sam Dong bingung. Pandangannya beralih kepadaku.
“Oppa, aku sudah berjanji akan mengenalkan eonni-ku kepadamu, kan?” ujar Jihyun semangat. Namja itu, Song Sang Dong berpikir sejenak lalu tersenyum.
“Ne,”
“Nah, ini dia!” serunya sambil menunjukku. Aku langsung membungkukkan badan.
“Annyeong, ___ imnida, bangapseumnida,” kataku singkat. Ia ikut membungkukkan badannya.
“Song Sam Dong imnida, nado bangapta,” katanya. Kurasakan ia menatapku lekat-lekat. Aku jadi risih. “Neo, yang duduk di pojokan itukah?” aku memiringkan kepala.
Tunggu! Aku mengedipkan mataku. Dia memerhatikanku? Bagaimana bisa? “eh? Ne,” aku hanya mengangguk mengiyakan. Ia tersenyum.
“Sulit mengetahui kau sedang mendukung siapa,” ujarnya. Aku hanya meringis.
“Aku diminta datang karena temanku,” ujarku apa adanya. Ia menerjapkan mata.
“Nugu?”
“Choi Minho,” jawabanku sepertinya membuatnya terkejut. “Kalau ia tak memberitahuku mungkin aku tidak akan datang ke sini,” lanjutku lagi. Ia hanya tersenyum.
“Kapten basket itu?” tanyanya. Aku mengangguk. “Ia memiliki banyak fans. Dan memintamu hadir? Wah, sepertinya ada sesuatu,”
“Ani, ia mengajak teman yang lainnya juga. Yeoja juga,” tukasku. Senyumnya hilang seketika.
“Oh, kukira kau dan dia ada sebuah hubungan,”
“Aniyo, kami hanya berteman, itupun tidak terlalu akrab. Ah, Sam Dong-ssi, mian aku masih ada janji. Jihyun, annyeong!!” sapaku lalu melangkah pergi.
__
Aku menggigit bibir saat kakiku sudah berada di depan sebuah ruangan karaoke. Tadi Key mengirimiku pesan kemana mereka berada. Sejenak aku ragu untuk masuk, kalian pasti tahu alasannya kan. Tapi setelah meyakinkan diri sendiri bahwa Key dan Taemin akan marah bila aku mengingkari janji, jadi aku harus membulatkan tekad untuk masuk.
Cklek…
“Annyeong,” sapaku di tengah ruangan yang sangat bising dan ramai itu. Wah, mereka sudah mulai beraksi. Aku tersenyum kecil, lalu mengambil tempat duduk di sofa samping Jinki.
“Kau datang,” gumamnya sambil tersenyum. Aku melirik ke botol yang dipegangnya lalu menggelengkan kepala.
“Soju? Astaga Lee Jinki, kau bahkan masih pelajar,” celetukku nyaring dan merebut botol yang ada dalam genggamannya itu.
“Ayolah, ___-ah, sedikit saja,” rengeknya. Aku tetap menggelengkan kepala.
“Mana Key dan Jonghyun? Biasanya mereka paling ribut soal alkohol dan semacamnya,” aku menyambar 2 botol soju lagi yang ada di atas meja dan bangkit mencari Key. “Kau minum Cola saja,” sahutku pada Jinki. Ia tampak cemberut.
“Ya! ___!” serunya kesal. Tuh kan, dia sudah mulai mabuk barang meminum setengah botol soju saja. Benar-benar keras kepala sekali!
“Sirreo. Andwae. Tidak akan, Lee Jinki,” desisku. Dia ini, tidak sadar dengan umur mereka apa? Aku tetap melangkah dan mendapati Key tengah mengobrol dengan beberapa anggota basket lainnya. “Ya! Key!” panggilku. Ia menoleh dan menatapku kaget.
“Omo, ___-ah, kapan datang?” tanyanya dan matanya langsung tertuju pada 3 botol soju yang sedang kupegang “Kau membelikan kami itu?!”
“Dengar penjelasanku dulu, Key. Jinki tertangkap basah sudah minum setengah botol. Maka benda-benda ini kusita dari hadapannya,” jelasku singkat. Key melongo.
“Seharusnya kubuang kemana benda keramat ini?” tanyaku datar. Ia menunjuk ke luar. Baiklah. Aku mulai melangkah ke luar. Lee Jinki pabo itu benar-benar membuatku kesal. Sehabis karaoke seharusnya kita makan(loh, bukannya kebalik yah? Tak apa deh). Kalau dia mabuk, bagaimana jadinya nanti? Kubuang benda itu ke tong sampah di depan lalu aku berjalan ke bar dan memesan kopi. Aku tidak terlalu mengerti bagimana menetralisir reaksi alkohol, tapi seingatku dengan kopi mungkin bisa. Setelah segelas kopi sudah ada di tangan, aku melangkah cepat kembali ke ruang karaoke.
“Minum ini,” aku menyodorkaan kopi itu kepada Jinki yang duduk dambil memandangi Jiyoung dan Taemin yang sekarang mulai bernyanyi sambil dance ala girlband. Ia menoleh lalu menerima kopinya. Ia tampak tak mabuk sebenarnya, tapi apakah itu meyakinkan? Kurasa tidak.
“Gomapta,” jawabnya dan mulai menyeruput kopi itu. Mataku mengedar melihat-lihat siapa saja yang datang ke tempat ini. “Minho ada bersama Key dan Jiyoung,” tiba-tiba Jinki berceletuk. Aku menoleh menatapnya cepat.
“Mwo?”
“Kau mencarinya kan?” balasnya lagi. Aku nyengir meremehkan.
“Ani, aku tidak mencarinya. Aku hanya melihat-lihat apakah ada orang yang bisa di ajak mengobrol di sini,” tukasku kesal.
“Lalu kau menganggap aku ini apa? Robot” guraunya. “Kau bisa ngobrol denganku,”
“Tidak kalau kau berada dalam keadaan mabuk seperti tadi,” sergahku. Jinki mengerutkan keningnya.
“Aku tidak mabuk. Tadi sih baru hampir,” elakknya. Aku mencibir. “Kau tidak ikut bernyanyi?” aku menggeleng.
“Suaraku sumbang,” balasku. “Lagipula aku tak punya keberanian untuk menyanyi di depan segini banyak orang,”
“Aku tadi sudah menyanyikan banyak lagu, makanya langsung tepar di sini. Ah, aku ingin air putih,” keluhnya sambil memegang tenggorokannya. Aku langsung menyodorkan sebotol air mineral yang kudapat dari meja yang diduduki beberapa anak basket. “Gomapta,”
“Dan, sepertinya kita harus memberikan orang yang baru datang ini sebuah tantangan,” suara Key yang menggunakan mikrofon menggema. Aku menoleh menatapnya yang berdiri di depan. “Hey kau, ___, cepat maju ke depan dan nyanyikanlah sebuah lagu!”
“Mwo?” aku membulatkan mataku. “A… ani. Aku tidak bisa bernyanyi. Suaraku sumbang,”
“Suaramu sama sekali tidak sumbang tahu,” celetuk Minho yang sedang duduk di samping Key. Aku mengangkat sebelah alisku.
“Baiklah, sepertinya aku harus memilih sebuah lagu. Apa ya Taemin?” tanyanya pada Taemin yang sedang meneguk Cola. Taemin berdiri lalu bergegas mendekati Key dan membuka daftar lagu.
“Ah, bagaimana kalau Taylor Swift yang Love Story? Aku suka lagu itu,” seru Taemin semangat. Key mengangguk-angguk dan langsung menyeretku ke depan.
“Ya!” seruku tak terima. Aku menghela napas saat sebuah mikrofon sudah ada dalam genggaman tanganku. Aku menghela napas saat lagu mulai mengalun. Baiklah, kulakukan saja deh. Masalah telinga mereka akan terkontaminasi, itu bukan salahku.
“We were both young, when I first saw you, I close my eyes and the flashback starts I standing there… On a balcony in summer air… See the lights, see the party the ball gowns, I see you make your way through the crowd and say hello, little did I know.. That you were romeo, you were throwing pebbles and my daddy said stay away from Juliet, and I was crying on the staircase, begging you please don’t go and I said…
Romeo take me some where we can be alone, I’ll be waiting all there’s left to do is run, You’ll be the prince and I’ll be the princes, It’s a love story baby just say yes…” aku terus menyanyikan lagu yang liriknya sudah ada di luar kepalaku itu, kulihat Jinki tersenyum mengejek menatapku,seperti hendak mengatakan katanya-kau-tidak-bisa-menyanyi. Setelah lagu berakhir aku menjauhkan mikrofon dari bibirku dan meletakkannya di atas meja.
“Ah, lagu itu seperti benar-benar mencurahkan isi hatimu,” ujar Taemin saat aku berjalan melewatinya. Akhirnya aku duduk di sampingnya sambil memandangnya tajam.
“Kau benar-benar, Lee Taemin,” aku menggeram kesal menanggapinya.
“Ya! ___-ah, aku tak pernah tahu kau hobi menyanyi!” Jiyoung menghempaskan dirinya di sampingku sambil menatapku berbinar. Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
“Ani, aku hanya menyanyi untuk menyalurkan kekesalanku,” ujarku. Aku mengalihkan pandangan, dan lagi-lagi mataku dan mata Minho bertemu. Astagaa… jantungku berulah lagi nih! Dan ia tersenyum. Aku membuang muka.
Anak-anak menyanyi lagi dengan hebohnya, meskipun mereka sama sekali belum makan malam. Jinki bergabung di sofa depan, denganku, Taemin, Jonghyun dan Jiyoung. Minho sedari tadi hanya memerhatikan kami di samping Jonghyun dengan diam. Berkali-kali tatapan kami bertemu. Haish…
“Ya, apa kalian tidak lapar? Pesan makanan yah?” pintaku pada Jonghyun.
“Bukankah lebih baik kita ke restoran saja?” usul Minho tiba-tiba. Aku sampai kaget karena suaranya tiba-tiba terdengar. Jiyoung mengangguk semangat.
“Ya! Aku juga lapar…” erangnya. Key dan Taemin ikut mengangguk. Aku tersenyum senang.
“Minho-ssi, cepat panggil anggotamu, kita harus makan malam,” ujarku pada Minho yang sedang menguk cola. Key hanya menyeringai sambil melirikku, begitu pula Jonghyun. Mereka benar-benar…
“Uhm? Ne, arasseo,” gumamnya dan langsung mengomando anak buahnya alias para anggotanya. Namun beberapa saat kemudian ia kembali tanpa seorangpun di belakangnya.
“Wae?” tanyaku bingung. Minho hanya mengangkat bahunya.
“Mereka akan makan sendiri. Kkaja, kita pergi bertujuh saja,” ajaknya. Jiyoung tersenyum dan bergegas mengikuti Minho keluar. Aku menunggu hingga Taemin berdiri dan berjalan beriringan dengannya.
“Sepertinya kau mulai mendekatinya,___-ah,” gumam Taemin sambil tetap fokus berjalan. Aku menoleh menatapnya cepat.
“Aniyo, aku hanya membiasakan diri untuk berada di dekatnya,” elakku. Ia hanya tersenyum tipis.
“Aku suka Jiyoung,” balasnya nyaris tak terdengar. Aku membulatkan mataku.
“MWOYA? Ups…” aku menutup mulutku sendiri ketika semua mata tertuju padaku. Aku shock! Astaga Lee Taemin…. “Tapi sepertinya ia menyukai Minho,” balasku sedikit tak enak padanya. Ia tersenyum tipis.
“Aku tahu itu,” balasnya singkat. “Kau dan aku sepertinya memiliki perasaan yang sama,” ujarnya lagi sambil menatap mataku. Kulihat ada kepedihan di sana.
“Aku sudah biasa dengan perasaan ini. Ingat, aku sudah begini sejak pertama kali masuk ke sekolah,” ujarku tenang padanya. “Jadi apa maumu? Kau mau berusaha menarik perhatian Jiyoung?”
“Tentu saja, tidak sepertimu yang selalu menyerah sebelum bertindak,” sergahnya sambil memeletkan lidah. Aku mengerang kesal.
“Ya!” pekikku dan tanganku sudah bersiap menjitak kepalanya. Ia menghindar, sementara aktifitasku terhenti karena sebuah suara menggangguku.
“Waw, childish couple,” gumam Key datar. Aku mendelik padanya.
“Apa maumu?” ia hanya mengangkat bahu.
“Kkaja, bus sudah di depan tuh,” wah, tak terasa kami sudah sampai di halte bus ya. Ternyata benar, kalau berjalan sambil mengobrol memang jadi lupa waktu! Aku dan Taemin masuk ke bus paling terakhir. Pandanganku langsung di sambut dengan Minho yang duduk dengan Jiyoung sambil mengobrol seru. Pandanganku beralih pada Taemin. Ia berusaha untuk berpura-pura tidak melihatnya.
Kami berdua akhirnya memilih tempat duduk yang paling belakang. Ternyata ada Jinki juga. Kami akhirnya duduk bertiga dalam diam. Hufttt… aku meniup anak rambutku keras. “Suaramu sebenarnya tidak jelek,” ucap Jinki tiba-tiba. Aku menoleh ke kanan, ke kiri, lalu menatapnya.
“Kau berbicara padaku?” tanyaku bingung. Ia mengangguk kalem. “Hahaha, thanks,”
“Sebenarnya kita mau makan kemana sih?” tanya Taemin. Aku hanya mengangkat bahu. Tepat di serong kiri depan kami, Key dan Jonghyun sedang nge-rempong (??)hingga tertawa-tawa. Jinki menyikut lenganku.
“Ya, mereka kenapa?”
“Biasalah, namanya juga calon ahjumma-ahjumma, ya begitulah,” balasku datar sambil menatap dua mahkluk itu dengan tatapan aneh. “Ya! Key! Kim Jonghyun! Kalian bisa bersuara dengan normal tidak?” seruku pada mereka berdua yang mulai ngakak bagai Mak Lampir(??).
“Hahahaha.. mian… mian… hahahaha… idemu memang bagus sekali Jjong… hahahaha…” tuh kan, Key sedang kumat kan. Astaga…
“Ya! Kalian berdua kenapa sih?” tanyaku heran. Mereka berusaha menghentikan tawa mereka yang sepertinya sudah kelewat batas itu.
“Aniyo, hey, kita mau makan kemana nih?” tanya Jonghyun tiba-tiba. Key memiringkan kepalanya sejenak, lalu menatap kepada kami.
“Bagaimana kalau ke restoran China yang ada di dekat Namsan Tower? Aku pernah berkunjung ke sana dan rasanya sangat enak,” papar Key.
“Aku ikut saja deh,” balasku sambil menganbgkat bahu. Taemin dan Jinki juga sama. Mereka hanya mengangguk tenang.
“Baiklah,”
__
Kami akhirnya sampai di sini. Di sebuah restoran cina yang tak begitu terkesan mewah, justru terkesan hangat dan ramah. Aku sedari tadi mengekor di belakang Key dan Jonghyun bersanma Taemin dan Jinki. Hingga Minho menuntun kami untuk duduk di sebuah meja panjang dengan kapasitas 8 orang. Aku mengambil tepat di pojokan, tepat di sebelah Taemin dan berhadapan dengan Minho. Kenapa bisa ya? Seorang pelayan datang ke arah kami.
Aku membiarkan Key dan Minho berdebat soal makanan yang akan mereka pesan, sementara mataku hanya berkeliaran memandang ke sekeliling. Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam restoran ini, karena dulu appa lebih suka makan bubur di ujung sana.
“___-ssi!” sebuah suara membuatku menoleh ke belakang. Sesosok namja menghampiriku. Song… Sam Dong? Aku memaksa bibirku melengkungkan sebuah bulan sabit.
“Sam Dong-ssi,” sapaku. Ia juga tersenyum.
“Baru datang?” tanyanya. Aku mengangguk. “Kami baru saja selesai,”
“Ah ya…” hanya itu jawabku, aku bingung harus membalasnya dengan apa.
“Baiklah, kami duluan, annyeong,” sapanya dan segera melangkah keluar bersama dengan beberapa temannya.
“Annyeong,” balasku sambil tersenyum. Aku kembali menghadap ke meja, dan mataku langsung disambut tatapan dingin dari Minho. Ia membuang muka, membuatku ikut memandang ke arah lain.
“Wah, tampan ya…” gumam Jiyoung kagum sambil menatap punggung Sam Dong yang menjauh. Taemin menyenggol sikuku. Aku menatapnya bingung. Matanya melirik-lirik Minho yang sedang berkonsentrasi dengan buku menu. Aku tetap bingung. Apa maksudnya?
“Dia cemburu,” gumam Taemin tiba-tiba. Aku langsung terbahak, meski aku tahu bahwa penyakit jantunganku kambuh lagi. Oh, Lee Taemin, jangan memberiku kata-kata yang membuatku berharap lagi dan lagi…
Makanan sudah datang, dan lamunanku langsung buyar. Entah kenapa aku langsung tidak bernafsu lagi untuk makan…
TBC

Tidak ada komentar:
Posting Komentar