Title : Be Mine
Author : ReeneReenePott
Maincast : Choi Minho, YOU ( isi ___ dengan namamu)
Supporter Cast : Kim Jonghyun, Key, Lee Taemin, Lee Jinki, Kang Jiyoung (KARA), Song Sam Dong, Nam Jihyun
Length : Trilogy
Genre : Romance, Fluff
Rating : PG – 16
Backsound : 2NE1 – Ugly, 2NE1 – Lonely, Super Junior – It’s You, BEAST – On Rainy Days, MLTR – Breaking My Heart, Jung Yong Hwa – Banmal Song (ini udah di susun berdasarkan plot)
A/N : Happy reading saja dehhh!!
Chapter 4
Kini seluruh siswa kelas XI sudah berkumpul di lapangan basket outdoor. Koper di mana-mana, travelbag membanjiri pemandangan. Yap, tibalah saatnya hari di mana kami harus study tour keliling Eropa. Sejauh pengamatanku, yeoja dengan bawaan paling simple adalah aku. Hanya sebuah travel bag dan koper ukuran besar, yang memuat benda-benda yang katanya akan diperlukan sepanjang tur nanti. Aku menghela napas sambil menggunakan hoodieku dan bersandar di pohon besar. I-pod, ponsel, dan charger sudah kuperiksa sih sebelum berangkat. Aku malah meminjam I-pod dongsaengku, takut I-podku habis baterai haha.
Aku masih belum menemukan sosok Taemin atau Jinki atau Key atau Jonghyun di lautan siswa ini. Para pembina belum datang, jadi kami masih bebas mengobrol. Tadi aku bertemu Minho, dan astaga, kalau melihatnya dijamin aku langsung pingsan. Dia tampan sekali ya Tuhan! Untung saja aku tidak benar-benar pingsan di hadapannya, kk~
“Ya!! ___-ah!” seseorang menepuk bahuku keras. Aku menoleh, dan langsung tersenyum mendapati Jonghyun ada di sampingku.
“Hey, Jonghyun-ah! Mana yang lain?” tanyaku padanya. Ia menunjuk ke tengah lapangan. Aku mengikut pandangannya dan waaww… silau! Mereka benar-benar bersinar! Yah, Jonghyun juga sih.
“Kkaja, pembina sudah mulai berdatangan,” ujarnya sambil menarik tanganku. Aku hanya melangkah mengikutinya sambil menyeret koperku.
“Annyeong,” sapa Key semangat. Aku ikut tersenyum. Jiyoung sangat manis kali ini. Gaunnya cantik, berwarna kuning dan putih.
Priitttt
Kami segera berkumpul ke tempat Pembina. Ternyata Miss Lee. Ia memegang beberapa lembar kertas di tangannya. Kami hanya memerhatikannya dalam diam.
“Annyeong haseyo haksaengdeul~” sapa Miss Lee ramah. Para haksaeng menyahutinya semangat. “Study tour kita ini akan berkeliling Eropa. Pertama kita akan mendarat di Berlin, menghabiskan semalam di sana lalu berangkat ke Roma. Semalam juga, lalu kita terbang ke Paris. Di Paris kita menghabiskan waktu dua malam dan setelah itu kita ke Amsterdam selama semalam. Terakhir kita akan ke London selama tiga malam, dan keesokan harinya kita terbang ke Moskow, malamnya kita kembali ke Seoul,” jelasnya singkat.
“Aku yakin kita akan di beri kejutan soal kegiatan di sana,” gumam Jonghyun yang berdiri di sebelahku.
“Kita akan menggunakan 3 bus pariwisata. Tempat duduknya di acak, dan sudah di atur oleh OSIS pengaturannya. Ingat, selama di sana kalian juga harus duduk bersama pasangan kalian, kecuali saat siang hari dan sedang jalan-jalan, kalian boleh duduk sesuka kalian,” ujar Miss Lee. Aku mendengus. Sistem acak? “Baiklah, kalian masing-masing mengambil gulungan kertas di sini. Bila kalian mendapat nomor 3, maka pasangan kalian juga akan nonmor 3. Begitu seterusnya. Arasseo? Pasangan nomor 1 sampai 20 ada di bus 1, 21 sampai 40 ada di bus 2, dan nomor 41 sampai 60 ada di bus 3,”
Kami masing-masing mengambil sebuah gulungan kertas yang ada di toples yang sedang di pegang Miss Lee, aku cukup deg-degan dengan pasanganku. Aku menatap Taemin dengan penuh harap.
“Ya! Kau tidak tahu aku berharap agar duduk dengan Jiyoung?” protesnya. Aku hanya tersenyum sambil membuka lembaran kertas itu. Nomor 32? Bus 2 dong? Tak apa deh…
“Kau nomor berapa?” tanyaku pada Taemin. Ia menyodorkan miliknya. Nomor 17. Yahh… “Kim Jonghyun! Kau dapat nomor berapa?” tanyaku sambil menepuk bahu Jonghyun. Ia menoleh dan tersenyum.
“Aku? Nomor 24,” jawabnya santai. Aku memekik.
“Yay! Kita satu Bus!” seruku girang. Ia merenyitkan keningnya.
“Memangnya kau dapat nomor berapa?” tanyanya gantian. Aku hanya menunjukkkan kertas yang kupegang. “Nomor 32?”
“Baiklah, sekarang kalian bisa masuk ke dalam bus masing-masing. Di tempat duduknya kalian akan menemukan nomor-nomor yang kalian dapat. Untuk koper, para haksaeng namja diharapkan membantu untuk memasukkannya ke dalam bagasi,” suara Miss Lee kembali terdengar. Aku mengangkat bahu ketika Key meraih pegangan koperku.
“Gomawo Key,” ia hanya mengangguk singkat saat mendengarnya. Aku celingak-celinguk sat mencari bus 2, dan setelah menemukannya aku langsung berjalan santai. Kutemukan sosok Jiyoung masuk ke bis 1. “Jiyoung-ah! Kau dapat nomor berapa?” seruku padanya. Ia menoleh lalu tersenyum.
“Nomor 17!” serunya balik. Aku melongo. Chukkae Lee Taemin! Hahaha… aku tersenyum singkat padanya dan langsung masuk dan mencari bangkuku.
Sip! Ini bangku yang nomornya 32! Aku langsung mengambil tempat duduk di dekat jendala. Mungkin pasanganku yeoja, semoga saja sih, hehe. Aku memasang earphone-ku dan menyalakan I-pod. Jung Yeop – Thorn Flower memenuhi gendang telingaku. Aku mengalihkan pandangan menatap ke luar jendela. Choi Minho lagi yang tertangkap bola mataku. Benar-benar…
Akhirnya aku memilih untuk memejamkan kedua mataku. Tidur saja deh…
Tak berapa lama, aku merasakan bus mulai berjalan setelah suara beberapa pembina berbicara dan mengambil tempat duduk mereka masing-masing. Di tambah lagi bau parfum maskulin yang berasal dari tempat duduk di samping kananku ini. Aku membuka mataku. Sepertinya aku pernah mencium parfum berbau maskulin ini. Aku menoleh dan… astaga!
“Neo?” kataku kaget. Yep, kalau kalian berpikir yang ada di sebelahku itu Choi Minho, kalian benar sekali. Ia hanya nyengir. Ya, hanya nyengir, tapi cengirannya bisa membuat jantungku copot!
“Annyeong,” sapanya. Aku melongo. Jadi dia pasanganku? Astaga…
__
“Astaga, mereka benar-benar manis,”
“Apaan dia ini? Mentang-mentang dekat dengannya ya?”
“Diam kau, pergi sana!”
“Mereka benar-benar serasi,”
Suara-suara itu samar terdengar oleh mendengaranku. Aku menerjapkan mata, berusaha menyadarkan diri. Mereka suka berkeliling di pesawat ya? Berisik sekali? Sudah sampai di Franfurt am Main (bandara internasional di Berlin) kah? Aku menegakkan posisiku dudukku. Dan astaga!
“Kalian sedang apa di sini?” tanyaku bingung. Jonghyun dan Key—ternyata mereka ada di dalam pesawat ini, aku baru tahu—menatapku dengan tatapan berbinar. Bisa kulihat beberapa yeoja melengos menatapku. Ada apa sih?
“Tidak. Aku hanya senang menonton kalian. Sudah, lanjutkan saja tidurmu. Kami tak akan mengganggu,” ujar Key sambil tersenyum menjengkelkan. Aku mengerutkan kening.
“Apaan sih?” gumamku. Begitu aku menoleh ke samping, aliran darahku serasa berhenti. Kurasa aku tahu apa yang mereka maksudkan. Apakah selama tidur tadi aku… menyenderkan kepalaku ke bahunya? Andwaeeee….
Kutatap wajahnya yang sedang tidur. Bila diprediksi dari podidi tidurnya, aku menyender pada bahunya, sedangkan kepalanya ia senderkan ke kepalaku. Posisi yang sangat membuatku shock. Eommaaa…
“Sudah bangun?” ujarnya tiba-tiba sambil mengucek-ngucek matanya. Aku menoleh takut-takut dan mengangguk. “Tadi kepalamu terbentur kaca, jadinya posisi tidurmu kupindah,”
“Eh? Err.. gomapta,” balasku pendek. Kurasakan pipiku mulai memanas. Tuhan…
“Mau roti?” tawarnya sambil mengeluarkan sebungkus roti coklat dari tas ranselnya. Aku menggeleng cepat.
“A-ani. Aku tidak lapar,” tolakku.
Kriukkk….
Haduh! Kenapa perutku jujur sekali sih? “Hahaha, perutmu tak bisa dibohongi. Sudahlah, makan saja,” ujarnya sambil menyodorkan roti itu kehadapanku. Dengan ragu aku menerimanya.
“Gomawo… tapi, aku punya persediaan cemilan di ranselku,” balasku padanya. Ia mengangkat sebelah alisnya.
“Makan saja. Kalau persedianku habis aku tinggal minta punyamu,” ujarnya yang membuatku terkekeh. Eh? “Ternyata kau bisa tertawa juga ya?”
“Eum?”
“Kupikir kau hanya bisa mendumel dan membentak,”
“YAA!” seruku hendak menjitak kepalanya.
“Ah! Itu Berlin!” serunya sambil menunjuk ke luar jendela. Aku langsung bersemangat, ingin melihat kota Berlin dari ketinggian.
“Ah? Eodi? Eodi?” tanyaku cepat. Ia tetap menunjuk ke luar jendela. Aku menoleh menatapnya, ia juga menoleh menatapku. Jarak antara wajah kami sangat dekat. “Ah, aku mau ke toilet,” ujarku tiba-tiba ketika wajahnya kian mendekat.
Dengan langkah terburu-buru aku berjalan menuju ke toilet belakang. Astaga, kalau terus berdekatan dengannya seperti ini, bisa-bisa setiap hari aku terkena serangan jantung! Aku menelan ludah saat mencuci wajahku. Namja itu… benar-benar membuatku gila. Aku berbalik dari wastafel dan berjengit ketika Jonghyun sudah menyenderkan dirinya sambil menyeringai menatapku.
“Yang tadi kok tidak jadi?” godanya. Aku memukul lengannya keras. “Auww! Aku lupa pukulanmu sangat keras, ___-ah,”
“Jangan menggodaku! Tidak terjadi apa-apa tadi,” desisku kesal. “Bagaimana kau tahu?” tanyaku heran. Jonghyun hanya cekikikan. Benar-benar membuatku kesal.
“Tentu saja aku tahu, Choi___,” aku lekas menjitaknya lagi.
“Margaku bukan Choi!” seruku kesal. Ia cuma nyengir. Baiklah, teruslah cengengesan seperti itu, Kim Jonghyun, tinggal lihat apakah gigimu akan kering nanti.
“But soon?” godanya lagi.
“Terserah kau lah, aku pusing berdebat denganmu,” balasku lemah.
“Kalau Jiyoung berada dalam posisimu tadi, aku yakin ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu,” ujar Jonghyun serius. Kini giliranku yang menatapnya sambil tersenyum.
“Tentu saja, Kim Jonghyun. Seorang Kang Jiyoung selalu memanfaatkan kesempatan yang ada,” balasku. “Kurasa kau dan aku harus kembali. Pesawat sepertinya mulai landing,”
“Geurae,” jawabnya sambil mengangkat bahu dan berjalan melewatiku. Aku mendesah, dan melangkah kembali ke tempatku.
“Kau tidak buang air kecil?” tanyaku pada namja di sebelahku ini. Ia menggeleng, dan kembali menatap ke depan. “Nanti kau kebelet lagi,”
“Kok kau tahu aku sedang kebelet?” balasnya. Aku mendelik.
“Ya! Cepat sana ke toilet! Tidak baik menahan kencing seperti itu,” seruku sambil mendorong bahunya. Ia terkekeh,. Lalu bangkit dan melangkah menuju toilet. Aku sungguh bingung dengan jalan pikirannya. Terkadang aku dan dia tidak bisa nyambung satu sama lain. Ckckckck.
“Sudah mau landing, ya?” tiba-tiba ia sudah ada di sampingku. Aku menoleh kaget dan mendelik menatapnya.
“Kemunculanmu benar-benar seperti hantu,” gumamku. Ia terkekeh. Astaga, Choi Minho, kau tahu aku gila tiap melihatmu seperti ini?
“Mianhae, aku buru-buru tadi, makanya cepat,” kini aku yang bingung. Siapa yang memintanya menjelaskan kepadaku?
“Oh,” hanya itu respon yang kuberikan. Tanganku bergerak memasang seatbelt, demikian juga ia. “Mau permen?” tawarku sambil menawarkan dua butir permen mint padanya. Ia tersenyum dan mengambilnya satu.
“Kau dekat dengan mereka ya?” tanyanya tiba-tiba. Aku menoleh menatapnya bingung.
“Ne?”
“Key, Jonghyun, Taemin dan Jinki. Kau dekat dengan mereka, ya?” tanyanya tanpa memandangku. Aku mengigit bibir sambil berpikir.
“Mereka teman terdekatku,” balasku sekenanya.
“Teman dekat?” tanya Minho kurang yakin. Aku mengangguk. “Bukankah kau menyukai Jinki?”
“Mwo?” seruku kaget. Darimana ia bisa menyimpulkan seperti itu?
“Kau sering bersamanya,”
“Aku sering bersamanya karena ia lebih aman diajak curhat,” balasku smabil terkekeh. Ia menaikkan alisnya.
“Curhat? Ada ya seorang yeoja curhat dengan namja?” balasnya tanpa senyum. Aku memiringkan kepalaku. Iya kan? Aku sering curhat dengan Jinki, meskipun yang mengetahui rahasiaku hanya Taemin, Key dan Jonghyun.
“Kupikir itu normal,” ujarklu sambil mengerutkan kening. “Memangnya kenapa?”
“Kau kan bisa curhat denganku,” ujarnya pelan. Aku tergelak dengan jantung berdebar keras. Apa katanya?
“Cemburu nih?” godaku main-main dengannya. Mungkin ia kesal kenapa terkadang aku bersikap judes dengannya kali ya?
“Ngarep kali,” ujarnya sambil nyengir. “Kau kan sukanya cari masalah denganku!”
“Ah, baru nyadar ya? Hahahaha…” aku tertawa garing. “Eh? Ini sudah mendarat ya? Cepat sekali? Aku tidak merasakan apa-apa tadi,”
“Tentu saja, sedari tadi kita hanya berceloteh ria kan, hahaha..” tawa itu lagi. Tuhan… kenapa Kau bisa menciptakan mahkluk sekeren dia?
__
Kami sampai di Berlin sekitar malam hari. Memandang kota Berlin di malam hari juga menyenangkan, tapi sayangnya kami harus check in di hotel dulu. Ku lihat Jiyoung memandang ke arah Minho terus. Mungkin ia kurang suka bila aku berpasangan dengannya? Ya, mungkin.
“Lee Taemin!” panggilku pada namja berambut pirang imut yang sedang mengecek nomor kamarnya. Ia menoleh dan tersenyum, sementara aku hanya melambaikan tangan.
“Menyapa teman sebangku, euh?” suara berat berujar di balik punggungku. Aku menoleh dan mengerutkan kening.
“Sirik saja,” gumamku sambil meninju lengan atasnya. Ia tertawa garing, lalu memberikan sebuah kartu dan nomor kamar.
“Ini kartu kamarmu dan kamar Jiyoung. Tidur yang nyenyak, ne?” aku mematung sambil memegang koper. Ia hanya berkata sebagai seorang partner. Ya kan? Aku tidak boleh banyak berharap… karena di sini sakit sekali…
“___-ah!” suara Jiyoung berseru kepadaku. “Kita langsung ke kamar ya? Aku mau mandi dan langsung tidur,” ujarnya imut. Aku tersenyum dan mengangguk.
“Ne, kkaja,”
__
“Jagiya..” seseorang memeluk pinggangku dari belakang ketika aku sedang menikmati semilir angin di balkon kamarku. Di mana ini? Kenapa aku menganggap tempat ini adalah.. rumahku? Aku menoleh dan tersenyum, mengenali suara berat yang hangat itu. Aku yakin dia Minho. Tapi… kenapa bisa begini situasinya?
“Sudah bangun?” tanyaku padanya. Ia hanya menganguk dan menaruh dagunya ke bahuku. Aku terdiam dan menikmati kehangatan tubuhnya. Aku seperti memiliki dua kepribadian. Ya! Aku ini kenapa sih?
“Yeobo-yaa.. kenapa kau selalu bangun lebih dulu daripadaku? Aku kan ingin melihat wajah imutmu yang tertidur saat aku baru bangun,” aku terkekeh. Whuatt??? Yeobo??
“Minho-ah..”
“Eits! Aku tidak mau dipanggil seperti itu. Tidak seksi,” ujarnya sambil membalikkan tubuhku. Kami beradu pandang sambil tersenyum.
“Aegi-yahh..” panggilku lagi. Ia tersenyum dan merengkuh wajahku dengan kedua tangannya yang hangat dan besar itu. Kedua bola mata kami bertemu. Di lain sisi, apa yang terjadi sekarang? Kenapa ini terasa begitu nyata? Terasa bahagia.. hangat… menyenangkan.. astaga…
Ia menyatukan bibir kami. Melumatnya lebut, dengan penuh perasaan. Aku tersenyum dalam ciuman kami dan mulai membalasnya. Tangannya turun ke pinggangku, menenggelamkanku ke dalam tubuhnya. Aku hanya bisa memeluk lehernya, sedikit berjinjit agar bisa menyeimbangi ciumannya yang mulai memanas. Ia memperdalam ciumannya, menjelajahi rongga mulutku, situasi sangat panas sekarang. Astaga!
“Aku suka bibirmu. Rasanya manis,” semburat merah langsung muncul di pipiku. Aku masih mengatur nafas, ia merenggut sampir seluruh jatah oksigenku! Tanpa aba-aba, ia langsung menyerang leherku. Aku melemas. Itu daerah sensitifku. Dengan lihai ia menciumi, mengelus dan menjilati setiap inci kulit leherku.
“Ya!! Kau… hhh… nakal… hh.. itu…” aku benar-benar lemas. Ia selalu bermain di situ. Dia sangat-sangat suka mempermainkanku. Aku hanya bisa menyelipkan jari-jariku di sela rambutnya, dan bertahan agar tidak terjatuh. Setiap ia menyentuhku, aku selalu langsung lemas…
“Daerah sensitifmu? Aku tahu, dan aku suka ini,” gumamnya dan masih meninggalkan kiss mark di leherku. Tiba-tiba ia membopongku kembali masuk ke dalam kamar, dan membaringkanku di atas ranjang dengan tubuhnya yang mengunci tubuhku. “Kau tahu, cincin ini benar-benar anugerah buatku,” ujarnya pelan sambil menunjukkan cincin emas emas murni dengan sebuah mata berlian mungil yang tersemat di jari manis tangan kananya.
Spontan aku mengelus cincin milikku dengan rupa persis sama dengan miliknya yang ada di jari manis tangan kananku dan tersenyum. “Kenapa hanya cincin?” tanyaku menggodanya sambil mengelus rambut cepaknya. Jarak wajah kami sangat dekat sekarang. Di sisi pikiranku yang lain, aku baru sadar kalau aku ini… istrinya!
“Karena dengan cincin ini, aku benar-benar memilikimu…” desahnya lembut dan mencium bibirku lagi. Lebih ganas namun tetap hangat. Aku hanya bisa mengikuti permainannya.
Cklek…
“Eomma…. appa…. apa yang kalian lakukan?”
__
Aku membuka kedua mataku. Ini sudah mulai pagi. Aku cepat-cepat melirik jam. Jam setengah enam pagi. Aku mendengus dan melirik Jiyoung yang masih terlelap dalam tidurnya. Aku memijit keningku, ternyata hanya mimpi. Mwoya? Aku mengusap keningku yang basah karena peluh. Adegan dalam mimpi tadi sangat panas.
Jadi… astaga, ___, kau benar-benar hebat! Bagaimana bisa bermimpi bahwa kau menjadi istri dari Choi Minho? Tapi mimpi tadi terasa sangat nyata. Dan.. aku sudah memiliki anak! Hyaaaaaaa kenapa aku bisa bermimpi seperti itu? Eomma… . Aku menyentuh bibirku. Hangatnya masih terasa. Wajahku perlahan-lahan memanas. Hiyaaaaaaa kenapa bisa jadi begini sih? Argghh.. lebih baik aku mandi saja! Lama-lama pikiranku penuh dengan adegan itu! Hiya!! Aku masih SMA dan masih di bawah umur! Aish, lebih baik aku mandi saja deh!
Selesai mandi, aku mendapati Jiyoung sudah bangun sambil mengucek-ngucek matanya. Aku tersenyum, “Jiyoung-ah, mandi gih! Sebentar lagi kita harus turun untuk sarapan,” ujarku padanya.
“Oh? Nee!” jawabnya sedikit lemah. Aku melangkah ke depan cermin, menyisir dan mengikat rambutku menjadi satu. Aku mencibir. Hanya ini gaya rambut yang kupakai. Simple, dan mudah. Aku menyambar jaketku dan memakainya, setelah itu menggunakan sepatu kets-ku. Kulirik Jiyoug sedang memilih baju yang hendak dikenakannya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Aku melangkah menuju ranjang dan tiduran lagi di atasnya. Kali ini tanganku memegang ponsel. Kubuka kunci teleponnya, nampak 3 buah pesan masuk. Banyak amat ya? Siapa saja? Eomma kah? Appa-kah? Kubuka satu-persatu akhirnya.
“From : Lee Taemin
Hey! Jiyoung sudah bangun belum? Beberapa anak sudah ada di lobby, mau mulai sarapan,”
Dasar anak ini! Di pikirannya hanya ada Jiyoung. Aku tersenyum dan mengetikkan pesan balasan untuknya.
“To : Lee Taemin
Jiyoung sedang mandi. Tunggu ya, aku baru turun kalau ia sudah siap,”
Lalu aku membuka pesan lainnya. Jantungku seperti berhenti berdetak. Astaga… hanya dapat pesan darinya saja sudah tak karuan seperti ini. Bagaimana kalau bertemu dengannya langsung? Aku jadi terbayang mimpi itu terus kan..
From : Choi Minho
Ya! Cepat turun! Sudah mulai sarapan! Aku tidak bisa makan kalau pasanganku belum turun!
Aku menaikkan sebelah alisku sambil menekan pilihan ‘Reply’.
“To : Choi Minho
Memangnya harus berpasangankah? Kupikir Taemin sedang makan tanpa Jiyoung.”
“From : Choi Minho
Ani! Dia sedang memainkan game di ponselnya. Cepatlah turun! Aku lapar!”
Namja ini benar-benar mengesalkan. Apa Jiyoung mau ditinggal? Aku ragu. Aku menoleh ke pintu kamar mandi dan berseru. “Jiyoung-ah, bolehkah aku turun untuk sarapan?”
“Ne! Kau turunlah, nanti aku menyusul,” serunya balik. Aku mengangkat bahu dan membalas pesan Minho lagi.
“To : Choi Minho
Arra! Aku turun sekarang!”
__
“Ekspresi wajahmu benar-benar kaku, Miss ___,” Jonghyun menatap wajahku seduktif. Aku berusaha nyengir, tapi tidak bisa. Aku hanya bisa mengunyah makanan di hadapanku ini dalam diam.
“Apa maksudmu?”
“Gabungan antara pucat, lelah, gugup dan bingung. Kau pasti tahu seburuk apa wajahmu ini,” celoteh Key yang duduk di hadapanku. Ya, ya, ya. Ini adalah efek dari mimpi gila itu, tahu!
“Mungkin dia tidur di depan AC terus-menerus,” mahkluk jangkung di sampingku ini menjawab seenak jidatnya.
“Bukan, tapi karena mimpi buruk, kau tahu?” desisku kesal padanya. Jonghyun dan Key melongo.
“Mimpi buruk apaan?” well, apakah mereka tidak makan dengan pasangan mereka masing-masing? Atau setidaknya berkumpul?
“Ah, mimpi itu memalukan,” gumamku kesal. “Yang jelas aku hanya mimpi buruk dan butuh waktu untuk menetralisir perasaanku, oke?”
“Jangan-jangan kau mimpi ikut main film Jumanji,” sergah Minho. Aku mengerucutkan bibir.
“Terserah apa katamu deh,”
__
WE ARE IN PARIS! Kota yang disebut-sebut sebagai kota paling romantis di dunia, tempat dimana semua pasangan ingin mendapat kenangan indah di kota ini. Setelah berkeliling beberapa negara—dan kami selalu mendapat tugas yang sangat-sangat aneh karenanya. Tapi ini memang study tour, kan?—akhirnya kami mengunjungi tempat ini. Karena kami sampai di siang hari, kami langsung menuju ke Eiffel dan mendapat beberapa tugas di sana.
Sorenya semua tugas kami sudah selesai, dan akan dilanjutkan beberapa tugas di besok hari. Dan sekarang saatnya free time! Beberapa yeoja sudah melesat ke pusat-pusat pembelanjaan—kalian tahu kan, ini PARIS!—dan tidak sedikit pasangan yang nge-date. Sekali lagi, ini PARIS! Lakukan semua hal yang ingin kau lakukan, ini kesempatannya! Mungkin kurang lebih begitulah semboyan mereka saat ini u,u
Kelima namja itu, namjadeul yang paling tampan versi mading sekolah, mengajakku dan Jiyoung untuk jalan-jalan. Awalnya aku ingin menolak, ini PARIS oke? Aku ingin menjelajah pasarnya sendirian, seperti ke Nice—waw! Aku ragu ingin ke sini karena jaraknya cukup jauh dari Paris, tapi aku sangat-sangat ingin kesini!—dan aku ingin sekali membeli sabun yang handmade, aku sangat ingin membeli sabun beraroma lily of valley! Lagipula, aku ingin ke tempat yang disebut-sebut sebagai tempat lahirnya es krim, sudah ada 1000 rasa es krim di sana! Oh, aku belum pernah mencoba es krim rasa kenari dan zaitun…
“Kau benar-benar merasa seperti namja, heu? Ke Nice sendirian?” Key umma mulai berceloteh. Aku hanya duduk terdiam di hadapannya, yang menyorotkan kekesalan yang memuncak. Oke, aku serasa sedang di sidang karena membuat kucing tetanggaku terjun dari atas pohon kelapa dan mati.
“Kalau aku pergi berdua, misalnya. Aku tidak akan menghiraukan chingu-ku itu, Key,” gumamku. Well, tidak baik membalas kata-katanya dengan urat. Itu sama saja dengan memasukkan diri ke liang singa!
“Tapi kau itu yeoja, ___,” ujar Key lagi, nada dalam suaranya menurun. Oke, dia ini ingin menggantikan posisi eomma-ku saat beliau nun jauh di Korea?
“Ne, tentu saja aku yeoja, kau pikir aku yeoja jadi-jadian?” balasku bingung. Ia memijit keningnya. “Aku sangat ingin ke Nice, aku baru ingat kalau sudah lama aku tidak makan es krim, dan di sana katanya ada tempat dimana lahirnya es krim pertama kali. Aku ingin mencoba es krim rasa kenari dan zaitun, itu benar-benar aneh,”
“Ya, berhentilah berceloteh tentang tempat es krim yang sudah memiliki 1000 rasa es krim itu,” ujarnya kesal. Aku nyengir lagi.
“Ternyata kau maniak es krim ya, ___,” Jonghyun menyenggol lenganku. Aku terkekeh. Ya, kami ber… lima tepatnya—karena Taemin dan Jiyoung memiliki urusan mereka sendiri—tengah duduk-duduk di bar hotel sambil ngobrol bareng. Heran eh, biasanya Jiyoung sangat suka mendekati Minho, tapi kenapa dia sekarang anteng-anteng saja ya?
“Berarti kau tak cukup mengenalku, Kim Jonghyun!” seruku. Kulihat Taemin dan Jiyoung tengah berbincang seru. Gyah, taktikmu keren sekali, Lee Taemin!
“Kau mau berangkat malam ini?” tanya Onew sambil menatapku datar. Aku mengangguk semangat.
“Kalau aku diijinkan, aku akan secepatnya ke sana. Itu tempat yang indah, Lee Jinki! Benar-benar keren!” seruku girang. Key menatapku aneh.
“Kupikir Paris akan lebih berkesan,” ujarnya. Aku tersenyum.
“Tentu saja, Key. Tapi aku ingin ke Nice dulu, baru menjelajahi Paris,” jawabku yakin. Key menaikkan sebelah alisnya, lalu mengalihkan pandangannya dariku.
“Dasar aneh,” aku memeletkan lidah.
“Bodo amat,” aku melirik ke sekelilingku. Apakah ada air putih? Aku mendongak menatap ke arah si bartender. “Excuse me Sir, can I have a glass of mineral water?” pintaku pada bartender bertampang sangar namun cukup ramah. Ia tersenyum dan menyiapkan apa yang kupinta.
“This is for you, Ma cherry,” ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku terlonjak ke belakang. Mwoya? Apa-apaan bartender ini? Aku mengangkat bahuku dan kembali menyandarkan bahu ke kursi di antara Key dan Jonghyun.
“Hati-hati, ___-ah…” gumam Key sambil meneguk red wine-nya. Aku merenyit. Dia ini anak SMA atau bukan sih? Aku tahu red wine itu sangak enak, tapi dia belum cukup umur meminumnya! Aku meneguk air putihku sampai habis karena haus.
“Hati-hati kenapa?” tiba-tibaa ucapanku terhenti. Kok rasanya aneh ya? Kurasa ini bukan air putih deh.
“Kenapa?___-ah?” tanya Jinki was-was. Aku mengangkat kedua bahuku. Tenggorokanku panas sekali. Ia langsung menyambar gelas yang tadi kupegang, dan membauinya. Kepalaku mulai pusing sekarang.
“Kau tidak bisa minum, ya?” tanya Jonghyun yang memegang lenganku. Aku mengangguk. Karena itu aku meminta air putih, pabo!
“Ini… vodka…” gumam Jinki pelan. Aku mendelik.
“Mwoya? Vodka?! Aduh…” aku memegang kepalaku. Kenapa aku parahnya seperti ini sih? Baru saja minum segelas, langsung K.O seperti ini? Sialan bartender itu, dia sangat tidak professional. Ya, emosiku mulai tersulut sekarang..
“Minho-yah, cepat bawa dia kembali ke kamarnya. Kau kan pasangannya,” ujar Jonghyun yang ada di sampingku. Mwoya? Kenapa aku harus diantar olehnya?! Sirreo! Aku menghempaskan tanganku ketika tangannya menyentuhku. Apa-apaan dia ini?!
TBC
Pertama kalinya mendeskripsikan orang mabuk lewat POVnya dia sendiri… ==” Maap yah kalo agak nyeleneh begitu huahaa #PLAKKKJadi…. gomawo buat yang sudah baca… next udah terakhir lohh XDD #plakk
Komen, kritik, saran nya ditunggu yaa XDD

Tidak ada komentar:
Posting Komentar