Selasa, 11 Desember 2012

[FF] Be Mine (Chapter 5)


Title : Be Mine

Author : ReeneReenePott

Maincast : Choi Minho, YOU ( isi ___ dengan namamu)

Supporter Cast : Kim Jonghyun, Key, Lee Taemin, Lee Jinki, Kang Jiyoung (KARA), Song Sam Dong, Nam Jihyun,

Length : Trilogy

Genre : Romance, Fluff, HHJJF

Rating : PG – 13

Backsound : 2NE1 – Ugly, 2NE1 – Lonely, Super Junior – It’s You, BEAST – On Rainy Days, MLTR – Breaking My Heart, Jung Yong Hwa – Banmal Song (ini udah di susun berdasarkan plot)

__

Previous Chapter

“Ini… vodka…” gumam Jinki pelan. Aku mendelik.

“Mwoya? Vodka?! Aduh…” aku memegang kepalaku. Kenapa aku parahnya seperti ini sih? Baru saja minum segelas, langsung K.O seperti ini? Sialan bartender itu, dia sangat tidak professional. Ya, emosiku mulai tersulut sekarang..

“Minho-yah, cepat bawa dia kembali ke kamarnya. Kau kan pasangannya,” ujar Jonghyun yang ada di sampingku. Mwoya? Kenapa aku harus diantar olehnya?! Sirreo! Aku menghempaskan tanganku ketika tangannya menyentuhku. Apa-apaan dia ini?!

__

Chapter 5







“Jangan sentuh aku!” cetusku padanya. Mataku tidak bisa fokus. Kenapa ada banyak Minho di sini? “Ya! Kau memakai jurus Seribu Bayangan dari Naruto, ya? Banyak sekali kau di sini!”

“Kau benar-benar harus kembali ke kamar, ___, kau benar-benar mabuk,” dia kok ngeyel sih? Aku harus ke Nice! Aku tidak mabuk, tahu!

“Aku mau ke Nice dulu!” raungku padanya, berusaha melepaskan tanganku yang hendak ia lingkarkan di lehernya. Ia menatapku tajam, dan ekspresinya lucu sekali. “Aku mau ke Nice dulu,” ujarku lagi, lemas.

“Kau kembali ke kamar. Ayo, kugendong,” tawarnya dan menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggungku. Aku sudah lemas. Aku suka kehangatannya seperti ini…

Beberapa saat kemudian, aku sudah dibaringkan di atas ranjang, tangannya menyelimutiku, benar-benar baik dia. Dan ketika ia melangkah menjauh, aku menahan tangannya. “Ya! Choi Minho! Kau tahu? Kau selalu membuatku sesak. Kau tahu itu?”

Ah, ekspresinya lucu sekali. Aku tersenyum, namun aku bingung, aku mau mengatakan apa lagi ya? “Yaahhh aku tahu aku yeoja yang biasa saja… kalau aku dekat denganmu pun kau pasti akan merasa risih..” ujarku hampir tertawa. Namun ekspresinya seperti serius sekali. Dia benar-benar lucu! Hahahaha….

“Tapi aku ternyata bodoh ya?? Masa aku mencintaimu, coba? Hahaha… hiks…” tiba-tiba air mataku jatuh begitu saja. Ya, dia yang membuatku berkali-kali patah hati, kan? Dia benar-benar nappeun! “Hiks… kau tak pernah melihatku… Aku hampir gila karena ulahmu, kau tahu?!” kataku lagi. “kau tersenyum padaku, kau menatapku dalam, kau seperti memberiku harapan, kau tahu?! Padahal tak ada harapan… hahhh….”

“Mianhae..” gumamnya pelan sambil mengelus rambutku. Wajahnya makin samar kulihat. Ahh.. aku tak peduli padanya.

__

Sudah berlalu beberapa minggu setelah kepulangan kami dari study tour. Dan kalian mau tahu? Aku tidak berani menatap wajah Minho selama seminggu kemudian setelah Key menceritakan kejadian di Paris waktu itu. Haish, kenapa aku mesti mabuk sih? Paboya!

Lagi-lagi aku memojokkan diri di perpustakaan. Aku ke sini bersama Jinki, tapi ya… dia sudah berkelana duluan. Sementara aku? Aku menikmati fasilitas manga Jepang yang tersedia di sini. One Piece, Naruto, Inuyasha, dan Dragon Ball lengkap edisinya di sini. Gyaahhh aku juga baru sadar kalau di sini terkoleksi pula komik Ko Ping Ho. Tuhan… aku damai di sini…

“Apa yang kau baca?” Jinki tiba-tiba berujar di balik punggungku. Aku terkejut, spontan buku komik Inuyasha nomor 50 yang ada dalam tanganku terpental ke wajahnya.

“Aish! Lee Jinki! Kenapa kemunculanmu sama seperti hantu sih?” protesku padanya yang dengan sigap menangkap komik lemparanku.

“Inuyasha? Kau suka ini?” tanyanya dengan alis terangkat. Aku mengangguk. “Lebih keren Ko Ping Ho,” aku menyambar komik Inuyasha yang ada dalam tangannya, dan membacanya lagi.

“Yeee… ambil sendiri saja sana!” tukasku padanya. Ia nyengir.

“Hei, aku mau bicara sesuatu,” ujarnya tiba-tiba serius. Aku menurunkan komik yang sedang kubaca, menaikkan alisku sebentar, lalu membacanya lagi.

“Bicara saja,”

“Kau pernah bilang, tidak akan menyukai salah satu dari kami berlima,” katanya hati-hati. Aku mencengkeram komik yang sedang kubaca. “Jangan lari dari topik ini, ___,” Oke. Kalian tahu kenapa Jinki bisa tahu? Minho menceritakan apa yang terjadi antara aku dengannya di kamar, lalu Key membeberkannya di depan mereka semua. Di depanku juga. Untung Jiyoung tidak ada.

Aku mendesah keras lalu menatapnya. “Aku bohong waktu itu. Kau puas?” sahutku sedikit ketus. Ia menatapku datar, tanpa ekspresi. “Kenapa aku bohong? Karena aku tidak ingin bersikap aneh di depan kalian,”

“Apa maksudmu bersikap aneh? Malu-malu? Pipi memerah? Kikuk? Kau selalu seperti iitu, ___-ssi,” desisnya. Aku menunduk.

“Ini pertama kalinya aku jatuh cinta, Lee Jinki,” ceritaku. “Sepanjang hidupku, aku tidak pernah tertarik pada namja. Dan kau tahu reaksiku saat aku menyadari bahwa aku menyukai Minho? Ah, ani, aku mencintainya?” aku menggantungkan pertanyaanku. “Aku bersumpah hanya menyimpan rahasia ini sendiri,”

“Wae?”

“Karena…” aku berpikir sejenak, bingung. “Kupikir lebih baik berteman dengannya, dari pada menuruti perasaanku ini,” ia menyeringai.

“Kau bodoh,”

“Baru tahu, ya?” godaku. “Sampai akhirnya Key dan Jonghyun memergokiku di taman sedang berkata seorang diri, ‘Saranghae, Minho-ah’. Mereka terus membully-ku. Dan, karena Key mulutnya ember, Taemin juga sudah mengetahuinya sehari setelah kejadian itu,”

“Tapi kau selalu memanggilnya Minho-ssi, bukan Minho-ah,” cerca jinki yang membuatku menyeringai.

“Aku tidak mungkin memanggilnya ‘Minho-ah’ dengan nada sama seperti para haksaeng memanggilnya ‘oppaaaaa..’,” aku menirukan cara memanggil mereka dengan lebay. Jinki terbahak.

“Kau benar-benar berbakat menjadi seorang aktor, ___,” Jinki mengacungkan kedua jempolnya padaku. Aku menyeringai.

“Yah, aku tahu aku tidak terlalu buruk,” balasku pede.

“Jadi karena itu, kau menghindarinya akhir-akhir ini?” aku menoleh menatapnya bingung.

“Mwo? Menghindarinya? Aniya, aku tidak menghindarinya. Hanya menetralisir hatiku saja,” jawabku santai. Jinki mengerutkan keningnya tak percaya. “Kau tak percaya? Tanya pada Minho, aku pernah menyapanya di koridor,”

“Hanya menyapanya dengan salam ‘Annyeong’ seperti yang kau lakukan pada haksaeng tak dikenal yang tersenyum padamu pagi-pagi?” aku tersenyum.

“Itu sudah standar-ku, Jinki-yah,” balasku santai. “Kau juga kusapa seperti itu, kan?” lanjutku.

“Tapi tidak dengan Jiyoung,” sergah Jinki antusias. “Kau mau jadi lesbian?”

“Mwo?” untung aku sadar ini perpustakaan, Lee Jinki. Kalau tidak kepalamu sudah hancur berkeping-keping. “Kepalamu terbentur apa, Jinki?” tanyaku sambil menyentuh belakang kepalanya. Ia menepis tanganku risih.

“Kau berbeda saat menyapanya,” aku tersenyum manis.

“Karena kami sudah akrab dari kecil,” jawabku yakin. Jinki menaikkan sebelah alisnya ragu. “Kalaupun aku lesbi, kenapa aku bisa menyukai Minho?” ujarku menahan tawa.

“Aku juga mau tanya, kenapa kau mengikutiku ke perpustakaan? Bukannya makan siang bersama yang lain? Bukankah itu kebiasaanmu?” tanyanya lagi. Aku menutup komik yang kupegang dan menggantinya dengan komik lain.

“Kurasa kau bisa menebaknya, Jinki-ssi,” desisku kesal. Anak ini sudah membahas hal itu sejauh ini, menanyakan hal yang sudah fakta lagi? “Tentu saja aku menghindari Minho!”

“Terus-terusan?” desak Jinki. Aku menatapnya santai.

“Sampai aku merasa percaya diri untuk menghadapinya,” sahutku dengan senyuman tipis.

__

Baiklah, sesuai permintaan Jinki, saat istirahat kedua aku tidak pergi ke perpustakaan bersamanya. Kemana aku? Ke roof top, pastinya. Tempat yang nyaman dan tersembunyi. Jarang haksaeng lain yang datang ke sini, atau nyaris tidak pernah. Gadgetku sudah terpasang dengan rapi dan siap digunakan. Apalagi kalau bukan earphone dan I-pod?

Aku mendongak menatap langit biru dengan awan tipis sementara jariku otomatis menekan tombol yang kuyakini tombol ‘Play’. Yeah. I love this song. FT Island – Heartache. Oh God, rasanya nyaman sekali. Aku memejamkan mata sambil tersenyum. Tanpa sadar aku ikut bernyanyi pada bagian reffrain-nya.

“Saranghaetdeon naui maeumsoge jageun kkum hanamaneul namgyeodugo… neomu swipge nareul tteona beorin neorul ijeneun ihae haryeo hae… du beon dasi nan geu nugudo saranghal suneun eobsul kkeoya… iksuk haejyeo ganeun seulpeum soge gatyeobeorin nae moseup…”

“Hey…” aku menegang mendengar suara berat itu. Aku menoleh menatapnya sebentar lalu menoleh lagi dengan kikuk.

“Hm…” sahutku. Ia duduk tepat di sampingku, membuat lenganku menempel seluruhnya dengan lengannya yang hangat. Damn! Jantungku…

“Sulit sekali menemukanmu sekarang,” ungkapnya pelan. Aku mencoba untuk tidak terlalu peduli.

“Benarkah?” tanyaku. “Mungkin kau yang suka melesat pergi duluan?” gurauku santai.

“Ku akui, sungguh, suaramu tidak buruk,” tiba-tiba ia mengalihkan topik. Aku mengangkat sebelah alisku sambil meliriknya. Baiklah kalau ini maumu.

“Hahaha… thanks,” ujarku tulus. Ia tersenyum, membuatku tak tahan untuk tidak tersenyum. “Kalau begitu aku juga ingin mendengarmu bernyanyi,” wow! Berani sekali ya aku? Hahaha…

Tiba-tiba ia mencopot earphoneku yang sebelah kanan, dan memasangkannya ke telinga kirinya. “Baiklah, kalau kau ingin mendengarku bernyanyi… mana I-podmu?” ia mengadahkan tangannya dan aku memberikan benda balok tipis itu padanya. Ia mencari lagu sebentar, lalu tersenyum. “Aku suka lagu ini…”

Petikan gitar mulai mengalun lewat earphone yang tersangkut di telinga kiriku, sementara telinga kananku siaga mendengar suaranya. Aku tahu lagu ini, aku sering mendengarnya sat kesepian.

“Jangeul jjoja jollin nuneul tteo, jamsi humyeon tto naeiliya, ggamjjaghal sae jinangan haruga heomunhae, gaseumi morael samkijiman… Jeonsin eobsi sigani heullo,dugeundaedeon uri gamjeongi, insuhaejyeo dangyeonhadeut neuggyeojilgga, genhan geokjeongae seoreowo…”

Suaranya yang berat dan hangat itu menghipnotisku. Hey.. dia juga bisa bernyanyi! “Sopeulhejin insadeul, deomdeomhi sangcheo juisseul haengdongdeul, apeuge haryeo han ge aninde, mebeon mianhan maeman… Neul geu jarijae isseonal ji kyeojwoseo, neul naega badeul binan daesinhaeseo, amu maldo eobsi nal gamssajun ne museubul ijen, nega geoulcheorom bichuryeo hae…”

Dia terus menyanyikan lagu itu, ya, SHINee – Honesty. Benar-benar manis. Aku tak dapat mengalihkan pandanganku darinya. Benar-benar tak bisa. “Gilgodo gininyeonwi ggeune, eodiyeo daheul ji moreul jogchagyeong ggeute, seoro beweogamyeo manheun geoseul neuggyyeo, gaseumeneun ijhyeojiji snhgessji, nunenun namgyeojyeo eosgo issgaessji, nawi gippeumi neoege hengbogi dwindamyeon, gomawo…”

Bahkan bagian rapp yang ia nyanyikan juga sempurna. Kami bertatapan sejenak. Aku melongo, ia menatapku peuh harap. “Otte?” aku terdiam, lalu mengacungkan kedua jempolku padanya.

“Jincha daebak,” aku tersenyum tulus. Benar deh, aku tidak bohong. Suaranya keren! Ia tersenyum.

“Gomawo…” ia terdiam sejenak. “Itu… lagu untukmu,”

“Mwoya?”

__

“Ya! Lee Taemin!” desisku keras kepada mahkluk yang ada di sampingku ini, yang sedari tadi menyenggol-nyenggol lenganku. Park sonsaengnim sedang menerangkan pelajaran, bila ada yang tidak memperhatikannya ia bisa ngamuk lagi! Kemarin kami sekelas sudah kena damprat, masa hari ini lagi sih? Namun namja imut di sampingku ini hanya nyengir kuda. Aku mendengus dan memfokuskan diri kembali ke pelajaran yang sedang di ajarkan ini.

“Tadi kau istirahat kemana?” bisik Taemin padaku. Aku meliriknya sekilas, lalu kembali fokus ke pelajaran di depan.

“Ke roof top. Wae?” balasku berbisik juga. Ia hanya tersenyum. Mencurigakan, benar tidak?

“Aniyo,” ia malah bungkam. Aku memutar kepalaku ke tempat duduk Jonghyun dan Key. Oh, bagus. Mereka cekikikan tanpa suara. Aku yakin pasti ada yang mereka sembunyikan.

“___! Perhatikan pelajaran!” aku tersentak begitu Park sonsaengnim menyerukan namaku. Aku menoleh menatapnya lalu menunduk.

“Ne!” sialan kalian!

__

“Kau menyukainya… Kau menyukainya…” aku melemparkan tatapan membunuh kepada namja bermata sipit yang cerewetnya bisa melebihi halmoeni yang menyerukan kalimat-kalimat mengesalkan di sampingku sedari tadi.

“Dari dulu, tuan Key, bahkan aku sudah mencintainya,” desisku kesal. Ia menyeringai puas. Aku terus melangkah menelusuri koridor, sementara Key masih mengikutiku sambil menggumamkan kata-kata yang bisa membuat wajahku semerah kepiting bakar. Plus, apakah dia tidak tahu, tatapan para yeoja di sekelilingku yang seakan ingin membunuh , mencincang-cincang, atau menggilingku?

“___ menyukai Choi mpphh..” aku membekap mulutnya begitu sosok jangkung itu muncul di ujung. Key langsung melepaskan tanganku, membuatku menoleh menatapnya.

“Kau bisa diam tidak?” desisku kesal. Ia menyeringai lagi, membuatku semakin gondok dengan tampangnya.

“Dia kan sudah tahu, untuk apa ditutup-tutupi lagi?” katanya. Aku melirik ke arah Minho, lima langkah… empat langkah… tiga langkah… dua langkah… satu langkah… dia membuang muka?

Aku menunduk frustasi. Kenapa aku ini? “Minho-yaaaa~” suara Jiyoung yang cempreng terdengar oleh gendang telingaku dari kejauhan. Aku menoleh, mendapati Minho tengah tersenyum hangat pada Jiyoung.

Nyutttt

“Aku harus segera pulang, baju kotor, piring kotor dan setumpuk jemuran belum aku kerjakan,” ujarku singkat pada Key dan berlari ke pintu gerbang secepat kilat. Kumohon… jangan menangis sekarang, jangan menangis sekarang…

__

Bruk

Aku menghempaskan tubuhku di salah satu kursi bus setelah melepas ranselku kasar. Mataku terpaku ke pemandangan di luar jendela, sementara tanganku bergerak memasang earphone yang tersambung ke I-podku. Sedari tadi sesak ini tak kunjung hilang. Ada apa denganku?

Seharusnya aku tidak bermimpi terlalu tinggi. Menjadi temannya seharusnya aku sudah bersyukur. Aku mencintainya sementara ia tidak mencintaiku. Apa yang bisa kulakukan? Tidak ada kan? Selain menerima kenyataan itu dan memunguti kepingan hatiku yang sudah hancur lebur.

Kenapa harus lagu ini sih? Dengan kasar aku menggerakkan jariku untuk menemukan lagu Kyuhyun – 7 Years of Love. Galau. Hiyah, bahasanya jaman sekarang banget. Sudahlah ___, kau tidak pantas untuk seorang Choi Minho, mimpi apa kau hingga bisa dekat dengannya?

Lagu berhenti tepat ketika bus terhenti juga. Aku bergegas turun, karena letak rumahku sudah tak jauh lagi dari kawasan ini. Dengan langkah gontai dan earphone masih terpasang di telinga, aku mencoba untuk tidak terlihat seperti mayat hidup di depan orang-orang.

“___!” sebuah suara samar-samar terdengar di sela lagu yang sedang kudengarkan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak ada siapa-siapa. Aku menoleh ke belakang, baru ku temukan sesosok tinggi berjaket dan hoodie hitam berlari kecil menghampiriku. Kedua mataku membulat saat sosoknya dengan jelas kulihat dari dekat.

“Song Sam Dong?” tebakku kaget. Sam Dong memandangku sambil tersenyum.

“Aku menemukan sosokmu turun dari halte, jadi ku hampiri saja,” jelasnya tanpa kuminta. Aku tersenyum tipis.

“Kau sedang apa di daerah ini?” tanyaku basa-basi.

“Yah, sedang jalan-jalan saja. Jihyun yang memintaku untuk menemaninya keliling kota, lalu mengantarnya pulang,” aku mendelik mendengar penuturannya.

“Mwoya? Astaga, anak itu benar-benar…” desisku kesal. “Mianhae kau sudah dibuat repot,”

“Tak apa, aku senang membantu orang,” ungkapnya sambil tersenyum. Aku balas tersenyum padanya.

__

Well, tak seperti biasa, kenapa mereka tak menyapaku, ya? Key dan Jonghyun itu. Apa aku sudah berbuat salah pada mereka? Aku hanya menatap kedua mahkluk itu bingung dari tempat dudukku yang ada di belakang Key. Ah, mungkin mereka tak melihatku.

“Akhirnya, Key dan Jonghyun sunbae sadar juga, bahwa gadis sepertinya tak pantas di ajak berteman,” beberapa suara berbisik di belakangku. Nde?

“Iya, sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini dari dulu, untunglah Key dan Jonghyun sunbae sudah sadar. Dan semoga yang lainnya juga,” hatiku seperti dihantam batu. Benarkah yang mereka katakan?

Aku tertawa hambar dalam hati. Apakah mereka baru menyadarinya? Ternyata benar, seharusnya orang sepertiku tak pantas menjadi teman mereka. Ya, begini lebih baik dari pada dulu, kan?

“Annyeong, ___-ah,” Taemin menyapaku ramah. Hah, karena aku teman sebangkunya ia jadi ramah padaku? Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis.

“Annyeong,” jawabku. Aku langsung berdiri dan melangkah keluar kelas, tanpa menghiraukan tatapan bertanya dari Taemin. Aku terus melangkah, tanpa sadar aku sudah sampai di roof top. Dengan helaan nafas berat, aku melangkah ke tepinya dan duduk di atas pembatas. Nampak ingin bunuh diri, ya? Tentu saja tidak.

Kedua mataku memanas. Benarkah yang tadi kudengar? Jadi mereka sudah tak sudi lagi berteman denganku, begitu? Ya, mungkin mereka baru menyadarinya. Aku tak layak untuk berteman dengan siapapun.

Kruukkkk

Ah, aku baru ingat kalau aku belum sarapan. Tapi biarlah, aku merasa aku tidak akan baik-baik saja kalau aku makan. “Hiks… hiks…” entah kapan air mata ini keluar, bersama isakan yang sedari tadi kutahan.

“Hiks… Hiks…” Ya Tuhan, kenapa isakan ini tak bisa berhenti juga?

__

Srrr

Aku mengambil air keran dan membasuh wajahku. Setelah puas menangis, aku menuju ke tempat ini. Toilet perempuan. Astaga, mataku sangat bengkak! Kalau aku kembali ke kelas, apa yang akan mereka katakan ya? Apa yang harus kulakukan kalau begini?

Brakkk

“Halo, nona…” seorang yeoja yang sepertinya sunbaeku melangkah masuk dengan senyum sinis. Tidak hanya sendiri ternyata, bersama keempat temannya. “Ternyata kau di sini,”

“Loh, matamu bengkak? Habis menangis ya? Menangis karena namja-namja tampanmu tak mengiraukanmu lagi? Hahahaha….”

“Makanya, sebelum bertemu mereka, harusnya kau itu berkaca dulu! Kau itu sama sekali TAK PANTAS berteman—apalagi sampai menarik perhatian mereka, kau tahu?!” aku hanya menatap mereka datar.

“Lalu apa urusan kalian?” tanyaku tenang. Salah satu dari mereka langsung menatapku dengan sorot mata kebencian.

“Kau selalu saja mengganggu mereka. Akan sangat lebih baik kalau kau menghilang, bukan?” ujar salah satunya. Keningku berkerut. Apa maksud mereka?

“Kalian mau apa?!” pekikku ketika tanganku dicengkeram dan tubuhku di seret masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi. “Ya! Sakit!” pekikku meronta. Namun mereka seolah tak mendengarku, malah mendudukkanku di atas kloset dan mengikat tanganku dengan tali tambang yang entah mereka dapatkan dari mana. “HEI!”

“Kalau kau menghilang, akan sangat baik bagi kami, hahahaha…” setelah tangan dan badanku, mereka menali kakiku hingga aku tak bisa bergerak sama sekali. Untuk menyentakkan tubuh saja sangat sakit.

“Baiklah, sebagai sentuhan terakhir,” yang depan menatapku senang, “Kau harus diam,” ujarnya sambil memplester mulutku.

“hahahaha.. beres deh. Kita kunci, matikan lampunya, dan pasang peringatan kalau toilet ini rusak,” astaga, jahatnya!

“Ayo! Kita tinggalkan gadis tak tahu diri ini!” aku berteriak, bermaksud membuat mereka berbalik. Tapi apa daya, mereka mengunci tioilet ini dari luar, dan mematikan lampunya. Ya ampun, gelap sekali…

“MMM!!!!” pekikku lagi, berusaha menyentakkan tubuh. Atau membuat suara gaduh agar ada yang membebaskanku. Tapi nihil.

Sepertinya sudah berjam-jam aku di sini, ah, atau entah berapa lama. Tubuhku lemas, perutku sangat sakit karena tak terisi apa-apa. Tenggorokanku sudah sakit, astaga..

Dan entah kapan, aku merasa sudah ada di awang-awang…

__

5 hari kemudian…

Brakkk

“Ya Tuhan! Pantas saja kau tidak masuk sekolah selama 5 hari!” sebuah suara terdengar olehku. Namun aku sama sekali tak dapat mengatakan apa-apa, hanya merasa lega bahwa tubuhku sudah terlepas dari tali itu dan plester di mulutku juga sudah dilepas.

“Ya Tuhan! Dia pucat sekali! Kenapa bisa begini sih?” Tuhan… terimakasih… aku sudah keluar dari toilet ini…

__

Yang kuingat sekarang, aku baru saja mencium bau obat-obatan dan hawa yang dingin. Aku tidak lagi duduk, namun berbaring dan diselimuti sebuah selimut tebal. Kupikir, aku sedang berada di UKS sekarang. Tapi bau obat-obatan di UKS sama sekali tidak menyengat seperti ini. Dimana aku?

“Nafasnya sudah normal,” sebuah suara wanita berujar, “Dia akan baik-baik saja,”

Aku berusaha membuka mata. Namun sekali aku mencobanya, aku langsung merasa pusing karena cahaya yang sangat terang langsung menyerbu mataku. Aku mengedip-ngedipkan mataku, berusaha membuat pupil mataku bisa terbiasa dengan cahaya terang ini. Makin lama penglihatanku bisa makin jelas.

“Eomma?” tanyaku pada wanita paruh baya yang duduk di sampingku. Aku mengedarkan pandangan, baru menyadari bahwa aku sudah ada di sebuah ruangan di rumah sakit.

“Syukurlah kau sudah sadar, sayang,” eomma mengelus rambutku penuh kelegaan.

“Kenapa aku bisa ada di sini?” tanyaku polos. Tentu saja setelah aku di temukan terkurung di bilik toilet, bodoh!

“Beberapa chingu-mu yang membawamu ke sini. Mereka menemukanmu terkurung dalam toilet selama 5 hari…” eomma menggenggam kedua tanganku hangat, “Eomma dan appa sangat khawatir mengetahui kau tidak pulang,”

“Ne…” hanya itu reaksiku. Memangnya apa yang bisa aku lakukan kalau begini?

Cklek…

“Annyeonghaseyo ahjumma, ___ eonni,” oh, Jihyun. Ia datang sepulang sekolah, ya? “Kau sudah sadar, eonni?”

“Ne, aku sudah merasa lebih baikan,” aku menyipitkan mata melihat seorang namja yang mengekor di belakang Jihyun. “Sam Dong-ssi? Kau juga ikut?”

“Ne, aku juga ingin menjengukmu,” jawabnya sambil tersenyum. Jihyun menyodorkan parsel buah yang ada di tangannya.

“Igeo, eonni makan yang banyak, sudah 5 hari kau bertahan tanpa suplai makanan apapun,” cerocosnya. “Lebih baik kau pindah ke Kirin eonni, di sekolah itu kau hanya di-bully,”

“Hush, Jihyun-ah, dia baru sadar kok kau sudah menyeramahinya,” eomma menyenggol lengan Jihyun. Aku terkekeh geli.

“Tanggung, Jihyun-ah. Tinggal setahun aku di sana,” balasku santai.

“Setahun yang penuh percobaan…” Jihyun mendesah kesal. “Sam Dong oppa, kutinggal ya? Ayo ahjumma, kita cari makan,” tiba-tiba Jihyun menarik tangan eomma ke luar kamar. Aku hanya bisa menatap mereka bingung, lalu menoleh menatap Sam Dong.

“Aku duduk di sini ya…” Sam Dong menarik kursi yang tadi dipakai eomma. Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Silahkan…”

“Kau benar-benar baik-baik saja?” tanyanya serius. Aku tersenyum dan mengangguk.

“Ne, aku sangat-sangat baik, kau tidak percaya?”

“Bukan itu maksudku. Tapi… apakah kau akan baik-baik saja bila terus bersekolah di sana?” tanyanya lagi. Aku mengerutkan kening.

“Aku berhasil melewati 2 tahun pertama. Kurasa aku akan baik-baik saja bila terus bersekolah di sana,” ungkapku tenang. Ia menghembuskan napas berat, sebelum menatap mataku lurus-lurus.

“Saranghae, ___-ah, would you be my girlfriend?” tubuhku menegang mendengar penuturannya. Aku meringis, bukan karena sakit atau apa, tapi karena sulit menelan ludah.

“Mwoya?” gumamku. Sam Dong meraih kedua tanganku dan mengecupnya lembut.

“Aku serius, ___-ah, would you be my girlfriend?”

“Mianhae…” aku langsung menarik kedua tanganku daring genggamannya. Ia nampak sangat kecewa.

“Wae?” tanyanya. Aku ikut sedih melihat sorot mata itu, tapi sedari dulu eomma selalu mengajariku untuk tidak berbohong pada perasaan sendiri.

“Aku tidak bisa,” ungkapku jujur. “Mianhae, tapi ada orang lain,”

“Si kapten basket itu, kan?” aku menatap matanya kaget.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Pada saat di restoran seusai pertandingan waktu itu, kau selalu memandang ke arahnya,” ungkapnya pelan. “Aku selalu berharap kau akan melupakannya, dan melihatku,”

“Mianhae, Sam Dong-ssi, aku hanya…”

“Tak punya cukup ruang untukku. Aku tahu,” potongnya sambil tersenyum. “Tapi setidaknya ijinkan aku dekat denganmu?”

“Dengan senang hati,”

TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar