Jumat, 28 Desember 2012

[FF] Be Mine (Chapter 6 - END)


Title : Be Mine

Author : ReeneReenePott

Maincast : Choi Minho, YOU ( isi ___ dengan namamu)

Supporter Cast : Kim Jonghyun, Key, Lee Taemin, Lee Jinki, Kang Jiyoung (KARA), Song Sam Dong, Nam Jihyun,

Length : Trilogy

Genre : Romance, Fluff, HHJJF

Rating : PG – 13

Backsound : 2NE1 – Ugly, 2NE1 – Lonely, Super Junior – It’s You, BEAST – On Rainy Days, MLTR – Breaking My Heart, Jung Yong Hwa – Banmal Song (ini udah di susun berdasarkan plot)

Chapter 6 - END






“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Taemin ketika aku baru saja meletakkan tasku di atas kursi. Aku tersenyum menatapnya.

“Aku sangat baik,” jawabku seadanya. Ia menyipitkan matanya.

“Kau tak bermaksud mengurung diri di toilet, kan?” bicara apa anak ini?

“Untuk apa, bodoh? Meskipun aku berada dalam posisi yang paling di benci setiap orang, tapi aku masih waras untuk lebih mementingkan pelajaran daripada mengurung diri di toilet selama lima hari,” jelasku sedikit kesal. Taemin setengah tertawa, lalu menepuk bahuku lembut.

“Sabar yah, tapi siapa yang mengurungmu,?”

“Molla, aku sudah tak memikirkan mereka lagi. Oh ya, apa ada catatan atau PR yang tertinggal selama 5 hari ini?” tanyaku padanya ringan. Ia menunduk dan mengeluarkan 3 buah buku.

“Lihatlah tampangnya, benar-benar memuakkan. Aku pasti sudah ingin pindah sekolah bila jadi dirinya,” seorang yeoja berbisik-bisik lagi di belakangku. Aku menghembuskan napas, lalu menimpali dalam hati. Apakah pindah sekolah tidak pakai uang? Gampang sekali berkata pindah sekolah.

“Kau benar-benar membuat khawatir, tahu? Coba saja kalau tidak ada seorang siswa yang memberitahukan ada toilet rusak kepada kepala sekolah, toilet itu tidak akan pernah di buka,” Taemin berkata lagi. Aku menoleh cepat menatapnya sambil tersenyum tipis.

“Dan itulah akhir hidupku. Jadi hantu toilet perempuan, hahaha..”

“Ya! ___-ah! Kau membuat bulu kudukku berdiri!” seru Taemin kesal. Seperti biasa, Key dan Jonghyun menyuekiku. “Kau mau jadi seperti Myrtle Merana, hah?” aku terkekeh geli

“Dan akan ada 5 orang yeoja yang akan kuganggu bila itu benar-benar terjadi padaku,” gumamku serius. “Eh, Taemin-ah, bagaimana kabar Jiyoung?”

“Ah, yeoja itu? Dia sudah jadi pacar Minho—sepertinya,”

JLEBBB

“Ah, jinchayo? Aku belum memberi selamat padanya ya…” ujarku pura-pura tersenyum. Taemin menatapku kesal.

“Kalau kau ingin menangis, menangis sajalah! Aku tahu, kau langsung patah hati, kan?” balas Taemin. Aku hanya bisa menunduk, menyembunyikan mataku yang makin pedih.

“Jangan berkata apa-apa Taemin, aku sedang berusaha keras agar air mataku tidak jatuh,” jawabku pelan sambil mengusap bulir-bulir air mata yang menetes ke pipiku. “Aku tidak ingin mataku bengkak dan menjadi bahan tertawaan satu sekolah,”

“Aku juga patah hati sih, tapi mau bagaimana lagi? Jiyoung lebih nyaman bersama Minho, jadi aku hanya bisa merestui mereka,”

“Ne, kurasa aku memang harus melupakan perasaan ini,” gumamku membulatkan tekad.

__

Kling

Kling

Suara dering pintu membuatku sadar bahwa ada pelanggan yang datang ke cafe ini, Chocolate Bun Cafe. Aku hanya bisa menegakkan tubuh, bersiap hingga dipanggil.

“Annyeonghaseyo, mau pesan apa?” chinguku, Nana melayani pelanggan itu. Sepasang kekasih, sepertinya. Aku hanya mengangkat bahu tak peduli. Setelah beberapa menit, Nana kembali ke meja belakang kasir sambil membawa notes yang berisi pesanan pelanggan itu.

“Nanti kau yang mengantarkan pesanannya ya, aku ada urusan sebentar di belakang, oke?” pinta Nana padaku. Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Beres!” aku menyerahkan order itu ke dapur dan menunggu hingga pesanannya siap. Berselang beberapa menit, sepiring tart ukuran sedang dan dua jus jeruk sudah ada di atas nampan. Diantarkan ke meja pasangan itu, ya?

Aku melangkah sambil membawa pesanan ini dengan hati-hati. Lalu menyapa pasangan itu. “Permisi, anda memesan tart dan dua jus jeruk?” tanyaku ramah. Sepasang kekasih itu menoleh, dan rasanya aku seperti di sambar petir.

“___-ah? Kau bekerja di sini?” Jiyoung menatapku kaget dari atas hingga ke bawah. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

“Kalian yang memesan ini kan?” Jiyoung dan namja di depannya itu—namanya Minho, aku tahu—mengangguk mengiyakan. Aku meletakkan piring dan gelas itu ke atas meja dengan hati-hati.

“Sejak kapan kau bekerja di sini?” tanya Jiyoung lagi. Sementara Minho yang kulirik membuang muka, aku membalas senyum Jiyoung tulus.

“Sejak SMP,” jawabku singkat. “Silahkan dinikmati pesanannya…” sapaku ramah dan langsung melesat kembali ke tempat karyawan.

“Astaga, namja itu sangat tampan ya. Tapi sayangnya dia sudah punya yeojachingu, cantik pula,” aku melirik chingu sesama karyawanku ini. Dasar wanita!

__

Jadi, sekarang sudah ada tiga orang yang mengetahui profesi asliku. Lee Taemin, Kang Jiyoung, dan Choi Minho. Hufft…. kupikir itu tak akan berpengaruh untuk mereka. Mau aku bekerja kek, menganggur kek, itu tak akan menjadi masalah bagi mereka.

“Wah, wah, wah, sendirian di kelas, Nona ___?” sebuah suara yeoja yang tak asing bagiku terdengar. Aku mendongak, dan benar saja, mereka kan kawanan yang mengunciku di toilet waktu itu!

“Sayang yah, Cuma lima hari! Harusnya seminggu, biar kau mampus!” ujar salah satu dari mereka. Aku menyeringai.

“Iya, sayang banget. Dan kalian berhasil mengerjai siapa lagi kali ini?” sindirku sedikit kesal. Mereka langsung terbahak bagai setan.

“What? Hello… Miss ___ yang tak tahu diri, tentu saja korban kami kali ini adalah kamu lagi! Taemin masih ada di dekatmu, jadi, misi kami selanjutnya adalah menyadarkan dirimu agar menjauh dari Taemin!” mereka melantur ya? Dasar gila…

“Kalian mau apa sih? Aku tak pernah mengganggu kalian,” desahku kesal. Mereka tertawa lagi bagai mak lampir.

“Tapi kau benar-benar membuat kami semua muak dengan tingkahmu yang menjijikkan itu! Memonopoli mereka sendiri!”

“Apaan sih?” tanyaku bingung. Mereka sepertinya rada-rada deh…

“Kau itu sudah memuakkan, menjengkelkan.. eurrghh aku benar-benar jijik padamu!” seru salah stau dari mereka. Aku menatap mereka bingung.

“Kalau kalian jijik padaku, untuk apa kalian di sini? Bukankah kalian malah tambah jijik?” ungkapku datar. Mereka mendengus kesal. Salah satunya menyambar tasku dan membuangnya keluar jendela.

Tiungg

Byurrr

“HEI!” teriakku tidak terima. “Dasar kalian brengsek! Mau cari mati denganku, b*tch?!?” makiku kesal. Mereka terlihat sangat shock dengan kata-kata yang baru kulancarkan barusan, lalu perlahan-lahan wajah mereka memerah karena marah.

“KAU ITU YANG CARI MATI!” teriak mereka dan langsung menjambak rambutku. Aku berusaha stay cool.

“Jadi hanya ini ya, kelebihan kalian? Hanya main jambak-jambakan? Yang jantan dong!” seruku meremehkan. Lihat, emosi mereka makin tersulut kan?! Aku berlari keluar kelas dan menuruni tangga. Kurasa tasku mendarat ke dalam kolam. Untung saja buku Taemin masih ada di laci, jadi tidak ikut jadi korban. Tapi I-podku, hueeee T^T

“Kau benar-benar membuat kami muak, ___!”

“Whoaaa..” aku merasakan tubuhku terhuyung tepat di depan tangga.

Brukk…

Duk..

Duk..

Duk..

Apa hasilnya? Aku jatuh menggelinding di tangga.

“Adaw… untung saja tidak ada tulang yang patah,” well, mungkin karena aku biasa main perosotan di jurang (??) aku jadi kebal bila terjun begini ==”

Namun kata-kataku terhenti ketika sesuatu yang hangat membanjiri hidungku dan meluber keluar. Aku yakin ini bukan ingus, dan begitu kusentuh, warnanya merah pekat dan berbau anyir. Jadi inilah kelebihanku. Bila di film-film atau kehidupan nyata, bila jatuh dari tangga pasti patah tulang. Kenapa aku malah mimisan?

Lupakan deh. Lebih baik aku mencari tasku yang malang terjun ke dalam kolam ikan. Sambil menutupi hidungku yang bisa mengundang vampire (??), aku berlari kecil keluar gedung. Well, kenapa harus ada mereka pula sih?

Lima namja itu berceloteh ke arah berlawanan dariku. Dengan Jiyoung di sisi Minho, jumlah mereka bertambah menjadi enam. Aku menunduk sambil membekap setengah wajahku dan mempercepat lariku. Setelah sudah ada di depan kolam ikan, kulihat tanganku sudah berlumuran darah. Kalau mimisan mah gampang. Yang penting tasku.. ah! Itu dia! Ternyata hanya setengah yang masuk ke kolam. Syukurlah…

Aku menyambar tasku dan membuka isinya. Hanbya beberapa buku yang basah, ah, itu lebih baik daripada seulruh tasku basah kuyup. Dan.. oh tidak! Jejak darah tertinggal di tasku gara-gara tangan kiriku menyentuhnya!

Tapi yang paling kukhawatirkan sekarang adalah benda persegi panjang hasil jerih payahku. Apalagi kalau bukan I-pod putih kesayanganku? Huee…

Tanganku meraba-raba ke dalam tas, dan begitu mendapatkannya aku langsung mencoba untuk menyalakannya. Nihil. I-podku hanya berkedip-kedip selama beberapa saat sebelum mati lagi tanpa bisa dinyalakan. Mereka benar-benar kejam! Huwaa…

“Hiks… hiks…” hyah! Kenapa aku nangis lagi sih? Aku hanya bisa memeluk lutut. “Hiks.. hiks..” lama-lama mataku terasa pedih juga. Ya Tuhan, kenapa sekarang aku sangat sering mendapat tekanan batin sih?

__

“Semangat, ___!” Taemin mengepalkan tangannya padaku saat jam pulang sudah lewat agak lama. Namun aku bersikeras tetap di tempatku. Kenapa? Tentu saja aku baru bisa pulang kalau mimisanku sudah berhenti!

“Nee…” jawabku pasrah. Aku hanya bisa menatap langit-langit dengan posisi kepala mendongak beberapa derajat. Kata penjaga UKS, jangan mendongak terlalu tinggi, karena darahnya bisa salah masuk ke otak. “Aku baru sadar kau masih di sini, Taem,” ungkapku ketika sosok rambut jamur itu masih terlihat.

“Eh? Hehehe… aku hanya… ash, baiklah, aku pulang, oke?” ujarnya kikuk. Aku menaikkan sebelah alisku, lalu mengangguk.

“Semoga selamat sampai tujuan…!” seruku padanya. Mataku bengkak lagi, mimisanku belum berhenti, lengkaplah sudah penderitaanku.

“Nee.. kau juga, setelah mimisanmu berhenti segeralah pulang!” ujarnya keras dari balik pintu kelas. Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. Syukurlah aku masih memiliki teman di sini. Sampai sekarang Key dan Jonghyun menghindariku, begitupula Minho. Jinki memang lebih banyak diam, namun ia jadi jarang berbicara denganku. Dan aku pun tak ingin terlalu pusing memikirkan masalah ini.

Aku mengecek lagi kapas yang menyumbat lubang hidungku. Kurasa sudah tidak berdarah lagi. Dengan sebuah desahan panjang aku meraih tas dan memakainya. Tanganku meraba laci, memeriksa apakah ada barang yang tertinggal. Tapi tanganku tiba-tiba menemukan sebuah surat.

Mawar pertama ada di papan tulis. Ambil dan baca petunjuknya, maka kau akan menemukanku

Apa arti tulisan ini? Apa ini dimaksudkan untukku? Dengan ragu aku bangkit dari tempat dudukku, dan melangkah maju menuju papan tulis. Benar, ada setangkai mawar merah dan sepucuk kertas yang sama bentuknya tersemat di bingkau kayu papan tulis itu. Aku mengambil kertas itu dan membaca yang tertulis di situ.

Keluar, belok ke kanan. Di depan pintu perpustakaan, terselip di gagang pintu.

Well, kurasa tak ada salahnya mengikuti permainan ini. Aku melangkah ke tempat yang dituju, dan mendapat petunjuk lagi.

Naik ke atas tangga, setelah itu belok kiri. Ikuti jejak mawar.

Dimana ini? Menuju ke kelas 3? Aku langsung tercenung begitu jejeran mawar merah ada di hadapanku. Apaan sih ini? Kakak kelas mau mengerjaiku lagi? Cara apa sih ini? Aku memiringkan kepala sejenak. Tiga mawar sudah ada di tanganku, bersama dengan 3 petunjuk. Dan jejak bunga mawar ini? Banyak sekali. Kalau kelopaknya sih masih bisa maklum. Tapi ini kan utuh bersama dengan tangkainya. Apa tidak mahal ya, membeli bunga sebanyak ini? Dasar kakak kelas aneh!

Aku mengikuti yang ada dipetunjuk sambil memunguti mawar-mawar itu. Sayang kalau dibuang kan? Kalau mereka memintanya kembali, pasti tidak akan rugi. Langkahku terhenti di mawar terakhir, yang terselip sebuah petunjuk lagi. Ini sudah ada di pangkal tangga kan? Tangga yang menuju ke roof top? Mereka mau mengerjaiku seperti apa ya di roof top?

Naik, dan buka pintu roof top.

Dasar bodoh! Kenapa malah ikutan sih? Hanya orang gila yang cari mati jika kakak kelasnya berniat mem-bullynya. Ya tidak? Aku menatap mawar-mawar dan petunjuk yang ada di tanganku dengan ragu. Apakah sebaiknya aku kembalikan mawar ini, lalu kabur? Atau aku naik ke atas dan menerima untuk di-bully lagi? Hash! Tapi I-podku sudah jadi korban, apa yang harus kulakukan nih kalau begini?

Baiklah, karena aku orangnya tidak dapat memendam rasa penasaran, kurasa aku bisa mengikuti permainan ini. Dengan ragu aku menaiki tangga, dan membuka pintu roof top.

Criiingg

Tidak ada siapa-siapa. Waduh! Jangan-jangan mereka menjebakku di atas atap lagi? Hiyah! ___, kau memang polos dan bodoh sekali! Sekarang aku bagaimana turunnya? Loncat dari atap? Hohoho, aku kan bukan kucing yang punya 9 nyawa!

Lebih baik aku coba dulu membuka pintunya. Aku melangkah berbalik dan mencoba menggerakkan gagang pintu.

Cklek…

Bisa dibuka nih? Tapi… kenapa aku tak menemukan siapa-siapa? Oke, di otakku sudah ada beberapa kemungkinan. Satu, surat petunjuk itu sebenarnya tidak ditujukan padaku, jadi si pengirim tidak mau menunjukkan siapa dirinya. Kedua, kemungkinan rencana ini hendak dilakukan besok, makanya tidak ada siapa-siapa. Ah, kenapa aku jadi melantur begini sih? Lebih baik aku pulang saja deh!

“___,”

Aku menghentikan langkahku ketika mendengar namaku disebut. Dia bukan hantu, kan? Tolong, aku sudah di-bully kakak kelas, aku tidak ingin di-bully lagi oleh hantu penjaga sekolah ini…

“___,”

Well, kenapa rasanya aku mengenal suara berat ini ya? Cepat-cepat aku berbalik.

“___,”

“Ya?” jawabku polos. Namja tinggi, memakai seragam sekolah. Hei… apakah dia yang mau mem-bullyku? Tiba-tiba…

Clinggg

Aku terpana. Langit sudah oranye kehitaman, membuat apa yang kulihat sekarang terlihat sangat indah. Lilin-lilin tersusun rapi, entah membentuk apa. Aku melongo. Apaan ini yah? Kedua mataku membulat begitu namja itu melangkah mendekat padaku. Astaga, aku tidak salah lihat, kan?

“M-Minho?” tanyaku pelan. Ia tersenyum. Astaga… aku baru sadar kalau aku sudah sangaaat lama tidak melihat senyumnya. Dan… shit! Apa lagi yang terjadi dengan jantungku?

“Annyeong,” hah?

“Uhuk… uhuk…” pabo! Kenapa aku malah tersedak liurku sendiri? “Kenapa… kau bisa ada di sini?” tanyaku, berusaha mencairkan suasana. Ia mengerutkan keningnya.

“Loh, kan aku yang membuat semua ini, kenapa kau bertanya begitu?” jawabnya yang membuatku melongo. Jadi? Ini? Aku tidak ditujukan untuk…

“Jadi aku tidak di-bully lagi?” ups… aku langung meletakkan jariku di depan bibirku. Jadi? Mawar-mawar ini? Bukan untuk menjerumuskanku, kan?

“Untuk apa aku mem-bullymu?’ tanyanya bingung. Aku terdiam. “Mawar itu… terimakasih sudah memungutnya,” aku melirik mawar-mawar yang ada dalam genggamanku ini. “Kupikir kau hanya mengikuti petunjuknya dan meninggalkan mawarnya,”

“Sayang tahu,” sahutku tenang. “Jadi, kau yang ingin bertemu denganku, atau aku yang salah dapat petunjuk?” tanyaku padanya. Senyumnya mengembang lagi.

“Tentu saja bertemu denganmu. Ada hal yang ingin kukatakan…”

“Apa?” tanyaku santai. Aku tidak berani berharap, tapi… tempat ini romantis sekali. Dan aku berbicara dari jarak 3 meter dengannya. Aneh ya?

“Aku ingin membalas kata-katamu saat mabuk di Paris dulu…” what? Haduh… kenapa jadi begini sih? Lebih baik aku di-bully deh daripada dihadapkan dalam situasi seperti ini!

“Eh? Ah, jangan pikirkan… aku waktu itu tidak bermaksud…” aku langsung memotong ucapannya.

“Aku juga menyukaimu…” ujarnya tiba-tiba. Aku terpaku dan menatapnya lagi.

“Ini bukan April Mop, kan? Ini masih bulan… Juni?” tanyaku setengah sadar. Ia menatapku tajam.

“Apa kau selalu begini? Selalu menghindar dari masalah?” tanyanya tiba-tiba dengan nada marah. Aku tersentak. Kenapa situasinya jadi menakutkan seperti ini ya?

“Eh? Aku kan Cuma…”

“Cepat, respon ucapanku tadi!~” pintanya sambil mendekat.

“Hiks… hiks…” lah, kenapa aku malah nangis sih? Ya! ___ pabo! Apaan nih?

“Kenapa kau malah nangis?” tanyanya bingung. Tiba-tiba ia sudah berdiri tepat di depanku. Tapi apa daya, air matanya tidak mau berhenti.

“M-mian…” ungkapku terbata. Aku mengusap kedua pipiku yang sudah basah kuyup. “Aku hanya… terlalu kaget.”

“Kau selalu seperti ini, ya? Tak pernah mau jujur dengan perasaanmu? Kau memang tak pernah berbohong, tapi kau tak pernah mau mengungkapkannya,” aku menunduk mendengar penuturannya. “Kalau kau mau, aku ingin mendengar perasaanmu sesungguhnya,”

Aku terdiam. “Tapi tolong jangan tertawakan aku,” ia terkekeh. Tuh kan, malah tertawa?

“Tentu saja tidak. Kau itu bodoh ya?” aku tersenyum tipis sebelum mengalihkan mataku dari matanya. Kini aku hanya sedikit menunduk memandang name tagnya.

“Aku men… cintaimu dari pertama masuk sekolah. Tapi aku tak pernah berani mengungkapkannya. Kenapa? Karena tatapan anak-anak seperti akan membunuhku melihat kalian mau berteman denganku,” ceritaku pelan. “Dan… Key mengetahuinya. Begitupla Jonghyun dan Taemin. Mereka selalu menggodaku. Setelah Jiyoung datang dan terang-terangan menunjukkan ketertarikan padamu… kupikir memang aku harus mundur,”

“Kau bodoh, kau belum maju berperang tapi sudah menyerah duluan,”

“Pengecut, ya? Aku memang pengecut,” yah! Kenapa air mataku mengalir lagi. “Tapi aku tidak berani. Aku tak pantas berada di dekatmu, apalagi sampai berani menyampaikan perasaanku padamu. Sungguh tak pan… mmph..”

Hangat.

“Siapa yang bilang begitu?” tanyanya. Entah dari kapan, aku sudah ada dalam pelukannya. “Would you be mine?”

Blush

“Nde?”

“Ayolah…”

“Baiklah, dengan senang hati…” aku tersenyum padanya. Entah kenapa aku percaya matanya tidak berbohong. Setidaknya itulah yang kuharapkan. “Lalu… Jiyoung?”

“Kau tahu, kami semua bersekongkol untuk menjauhimu, karena kau menyebalkan,” tuturnya yang membuatku kaget.

“Mwo?”

“Tapi Taemin bersikeras agar hanya dia sendiri yang tidak menjauhimu. Yah, sekalian jadi pengontrol kami kalau terjadi sesuatu padamu,”

“Mwoya?! Astaga, kalian jahat sekali… Jadi selama ini aku terlibat dalam sandiwara, begitu? Aku tak percaya ini…”

“Kau lagi lebih jahat padaku, masa aku digantung?”

“Apaan yang digantung?” tanyaku bingung.

“Kau itu menggantung perasaanku, tahu!”

“Hah? Kok bisa?”

“Iya, kan kau sering kabur kalau bersamaku, dekat dengan namja lain pula!” aku melongo menatapnya. Kenapa dia ini? ”Kau tak mengerti juga? Song Sam Dong itu loh!” serunya.

“Ohh..” aku membulatkan mulutku. “Jadi kau cemburu, begitu?”

“Kurang lebih sih iya,”

“Dasar!”

“Oh ya, Taemin berkata aku pacaran dengan Jiyoung ya? Salah besar itu! Yang ada malah Taemin yang pacaran sama Jiyoung!” ujarnya tiba-tiba. Nde?! Dasar Lee Taemin!

“Pantas saja dia tenang-tenang saja saat melihat kalian berduaan,”

__

“Bagus, Tuan Key, kau membuatku di bully hingga menggelinding dari tangga,” desisku kejam pada mahkluk setengah botak yang duduk tepat di depanku ini. Ia berbalik kaget.

“Mwo?”

“Lupakan,” sahutku ketus. Ia menatapku cemas.

“Kok kau bisa menggelinding dari tangga sih?” tanya Taemin. Aku menoleh menatapnya sambil tersenyum.

“Aku di dorong,”

“Oleh?” tanya Jonghyun tiba-tiba. Jadi mereka semua sudah balik nih, ceritanya?

“Udah selesai yah,sanciwara ‘menjauhi ___’ nya?” tanyaku sinis. Mereka hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala yang kuyakin sama sekali tidak gatal.

“Ya! Cepat jawab! Siapa yang menggelindingkanmu dari tangga?” loh, kok Key malah marah sih?

“Ya… orang yang sama dengan yag mengurungku di toilet itu. Entah siapa,” jawabku enteng. “oh ya, LEE TAEMIN!” aku menyerukan nama namja yang ada di sampingku ini. Ia tersentak memandangku.

“Ya! Aku ada di sampingmu tahu!”

“Sejak kapan kau pacaran dengan Kang Jiyoung, hah?!” desisku kesal. “Mana pajak buatku?”

Taemin hanya nyengir bersalah. “Mianhae, aku tidak memberitahumu. Tapi kalau kau tahu, gagal deh rencana membuatmu menangis, hehehe..”

“Jadi waktu itu sengaja ya? Dasar!” pekikku sambil menjitak kepalanya. “lalu bagaimana bisa kau jadian dengannya?”

“Waktu itu, dia baru saja ditolak Minho,” aku mendelik. Ditolak?

“jadi Jiyoung pernah menembak Minho?” tanyaku kaget yang disambut anggukan dari Taemin.

“Lalu, aku mendekatinya, dan.. yah, begitulah. Cerita biasa anak SMA,”

“Oh ya, ___, kau tahu ingatanku sangat kuat. Waktu kita sarapan pagi di Berlin, kau berkata kau mimpi buruk. Mimpi apa?” tanyanya tiba-tiba.

Blush

“Ya! Kenapa wajahmu merah?” sekarang Jonghyun yang bertanya.

Blush

“Sudahlah!” sahutku kesal. “hanya mimpi aneh saja,”

“Mimpi apa? Pasti ada sangkut pautnya dengan Minho,” celetuk Taemin. Aku menyikut lengannya kesal.

“Annyeong…”

“Wah, panjang umurnyaa..” gumam Key saat melihat Minho mengambil tempat duduk di sampingnya.

“Ada apaan memangnya?” tanya Minho bingung. Aku menggigit bibir sambil nyengir aneh.

“Lagi menginterogasi ___, yeojachingu-mu, tentang mimpi buruknya di Berlin waktu itu,” tukas Key sambil menatapku tajam.

“Oke, oke! Aku akan ceritakan, tapi jangan tertawa, oke!” aku terdiam sejenak. “Aku bermimpi… aku jadi seorang istri dan memiliki satu orang anak,” ceritaku singkat dan pelan. Mereka membulatkan mata mereka.

“Mwoya? Istri dari siapa?” tanya Taemin takjub. Aku melirik namja jangkung yang duduk di samping Key. Menyadari tatapanku, ia melengkungkan senyum bangga.

“Ah, jodoh kan tidak kemana,”

“Dasar narsis!” tiba-tiba ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan membisikkan sesuatu.

“Di mimpi itu, kita melakukan adegan panas, kan?!” aku langsung menoyor kepalanya. “Aduh!”

“Ya! Diamlah! Ternyata pikiranmu mesum sekali,” seruku tak terima. Jonghyun menatap Minho penasaran.

“Ada apa sih?”

“Aniya. Hanya hubungan privat antara suami-istri,” jawab Minho sambil melirikku. Aku melotot membalasnya.

“Diam!”

“Astaga, astaga, astaga, hahahaha…”

“Diam Key, ini kelas, bukan pasar,” dengusku kesal. Aku merasakan sesuatu baru terpikir lagi olehku. “Kenapa kau bisa tahu kalau aku bermimpi…”

“Aku, namjachingu-mu. Pastilah mimpinya sama,” Minho tersenyum lebar menatapku. Aku mendengus kesal.

“Dasar mesum,”
—END—

S-E-L-E-S-A-I!!! yeahhhh…. Awalnya, FF ini maunya jadi oneshoot. Setelah mengalami perubahan plot yang cukup membuat pening, akhirnya jadilah begini adanya#plakk Rada aneh kah alurnya? HUahaa… namanya juga authornya rada-rada. Huakaka.. #dorr XDD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar