Selasa, 05 Februari 2013

[FF] Brother + Sister Complex - It's Sleep Time!

Title : It’s Sleep Time

Author : ReeneReenePott

Main cast : Choi Minho, Jung Heenim (a.k.a Mamotho)

Supporter cast : Choi Seul Rin (a.k.a Vania Lee) , Park Jungsoo, Sandeul, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin.

Genre : Romance, Fluff, Friendship, Shcool Life.

Length : Ficlet (3.149 words)

A/N : Judulnya kaga nyambung sama isinya!!! *lah, gimana toh* Oke, kali ini dengan sangat berani aku nyomot namanya Mamoth eonni sama Vania. Karena aku bener-bener mandek cast dan bosen pake OC yang YOU terus. Bisa keenakan entar readers nya #pletakkkk Happy readinggg.. XD
It’s Sleep Time!!


“Kyaaaa!!! Oppa!!!! Apa maumu sih?” teriak seorang yeoja berkucir satu kesal sambil membawa guling. Suaranya melengking di malam itu, sementara matanya terarah ke satu titik fokus yang terletak di sudut rungan itu.

“Yaa… Saengi… Kau jangan pelit lah…” jawab seorang namja sambil membawa sebuah buku bermotif kupu-kupu berwarna oranye. Matanya menjelajahi lembar demi lembar buku itu, lalu cekikikan sehingga membuat yeoja yang sedang mendelik padanya itu menghentakkan kakinya kesal.

“Minho oppaaaaaaa!!!!!!!!” lengkingnya keras. Namja di depannya hanya dapat menutup kedua telinganya, takut bila gendang telinganya pecah. Tentu saja ia tidak mau menjadi seorang tuna rungu.

“Ish! Kau ini berisik sekali. Igeo, aku juga sudah selesai membacanya,” sahut oppanya, Minho sambil melemparkan buku yang tenyata adalah diary itu hingga yeoja dihadapannya itu menangkapnya sambil menatapnya kesal.

“Oppa juga suka sekali sih main ambil-ambil barang orang!” seru yeoja itu sambil mengerucutkan bibirnya.

“Kau juga sebenarnya menyebalkan, Jung Heenim!” seru Minho jahil. Yeoja yang bernama Heenim itu hanya mendengus sebal, lalu berbalik melangkah menuju ke kamarnya.

Ya, Choi Minho dan Jung Heenim selalu saja bertengkar. Kedua kakak-beradik itu memang sangat sulit untuk rukun. Yang satu jahil, yang satunya ngambekan. Jadinya kegiatan mereka hanya berantem terus kayak lingkaran setan.

Mereka memang kakak-adik, tapi kenapa marga mereka berbeda? Hanya ada satu alasan. Choi Minho adalah kakak angkat Heenim. Orangtua Heenim mengadopsinya sejak berumur 10 tahun, sementara Heenim masih berumur 8 tahun. Itulah yang menjadikan Heenim dan Minho menjadi dekat, walaupun sangat sulit untuk akur. Kedua orangtuanya terkadang sampai kewalahan dengan tingkah mereka yang semakin hari bukannya semakin dewasa, tapi semakin kekanakkan.

__

“Kyaaa!! Minho oppa!!” seorang haksaeng berseru di pinggir lapangan basket dengan semangatnya. Minho memang atlit sekolah, ia menguasai semua kegiatan dalam pelajaran olah raga. Basket, futsal, tenis, voli, dan berbagai macam kegiatan atletik lainnya dengan mudah dijagoinya.

Heenim terduduk di salah satu bangku penonton dengan ekspresi datar. Melihat oppanya bermain basket memang sudah sangat sering, sampai ia sendiri bosan. Tapi kenapa ia tetap menonton? Tentu saja karena chingudeulnya yang mengajak. Dan karena tak punya kegiatan apapun, dengan terpaksa ia menyetujuinya.

Sungguh, kalau di suruh memilih lebih baik ia mendekam di ruangan Lee sonsaengnim dan menyelesaikan 100 soal fisika dengan anak soal berpoin 3 daripada menonton sepuluh namja yang berlari kesana kemari dengan ruwet yang memperebutkan bendabulat-oranye-bergarishitam-naik-turun, yang ditemani dengan sorakan riuh fans-fansnya.

“Heenim-ah!! Lihatlah mereka sangat keren!” seru seorang chingunya sambil mengguncang-guncangkan bahu Heenim.

“Ya ya ya lebih baik kau fokus saja menonton! Dan cepatlah, setelah itu katanya mau kerja kelompok di rumahku!” balas Heenim sedikit jengkel.

“Mana Jungsoo? Bukankah dia sekelompok dengan kita?” balas chingunya, Seul Rin tanpa mengalihkan pandangan dari lapangan basket. Bukan lapangannya sih, tapi manusia-manusianya.

“Dia ada di sebelahmu, pabo,” jawab Heenim kesal. Seul Rin kembali nyengir sekilas, lalu kembali fokus dengan pertandingan yang sama sekali tidak dimengertinya dan menghiraukan tatapan aneh dari Heenim.

__

“Loh, katanya Sandeul juga ikut?” tanya Jungsoo bingung sambil menatap Seul Rin dan Heenim bergantian. Kini mereka bertiga tengah duduk mengitari sebuah meja kecil di ruang tamu rumah Heenim.

“Yeee… Dia kan mau mengantar yeojachingunya kursus piano dulu,” celetuk Seul Rin asal. Heenim menyeruput jus jeruk di hadapannya dengan diam, menatap Jungsoo aneh dengan sekotak biskuit coklat di tangannya yang hampir habis separuh. “Ya! Bagi!” seru Seul Rin begitu sosok kotak biskuit itu tertangkap oleh matanya.

“Ya, kalian itu mau belajar atau menghabiskan persediaan di rumahku, heuh?” protes Heenim sambil merampas kotak biskuit itu. Jungsoo dan Seul Rin langsung cemberut.

“Ya! Sambil menunggu Sandeul kan???”ujar Seul Rin polos. Dan kini tangannya meraih toples kacang di atas meja.

Tin tin…

Ketiga manusia itu menoleh. Dan seperti harapan mereka, sosok namja tinggi dengan helm hitam bergaris merah yang masih dipakainya. Cengiran menghiasi wajahnya, walaupun ketiga chingunya itu hanya menanggapinya dengan melongo.

“Mian terlambat,” ujarnya sambil duduk di samping Jungsoo.

“Kau… Tidak melepas helmmu?” tanya Seul Rin bingung. Sandeul celingak-celinguk sebentar, lalu dengan polosnya meraba-raba helmnya, dan nyengir lagi tanpa terlihat (?).

Tin tin…

Keempat manusia itu kembali menoleh bingung. Anggota mereka sudah lengkap, kok. Masih ada anggota lain kah? Heenim menerjap-nerjapkan matanya berulang kali. Memastikan suara klakson itu memang familier di telinganya.

“Aku pulang…” seorang namja, dengan seragam basket dan jaket yang diikat di pinggang masuk ke dalam rumah itu dengan santai sambil melepas helmnya. Dan tenyata kedatangan manusia itu membuat dampak yang dahsyat bagi Heenim dan kawan-kawan.

“Ehh…” ceplos Heenim tiba-tiba. Seul Rin menatap namja tinggi di hadapannya dengan tatapan ngiler#ditampar.

“Kenapa ramai sekali, Heenim-ah?” namja yang tak lain tak bukan adalah Minho itu memasang tampang bertanya pada Heenim yang sedari tadi megap-megap.

“Err… Itu….”

“Ah, biarlah. Yang penting siapkan aku puding, oke?” katanya lagi sambil mengusap kepala Heenim lembut. Mulut Heenim menganga lebar ketika oppanya itu melangkah masuk ke dalam kamarnya.

“KYAAAA HEENIM-AH TIDAK SIA-SIA AKU DATANG KE RUMAHMU!!!!” pekik Seul Rin heboh sambil mengguncang-guncang tubuh Heenim.

“Dia… Pacarmu?” tanya Jungsoo ragu sambil terus mengunyah kacang yang toplesnya sedang berada di pelukannya. Heenim melebarkan matanya lagi.

“Mwo? Astaga, Jungsoo-ah, apa kepalamu terbentur?” sahut Heenim sedikit jengkel. “Mana mungkin aku berpacaran dengan mahkluk alien sepertinya?!” seru Heenim sambil membanting pensil yang sedang dipegangnya.

“Hyaaaaa….. Jung Heenim! Mana pudingku??” sebuah suara samar terdengar dari balik pintu. Heenim mengerang kesal.

“TELOR KEPITING!” maki Heenim ke pintu itu, ah, bukan bukan, lebih tepatnya sih ke orangnya.

“Lebih baik kau turuti permintaannya, Heenim-ah,” Seul Rin ikut membujuk Heenim sambil senyum-senyum sendiri. Heenim menatap aneh chingunya.

“Kau kenapa sih?” sembur Heenim rusuh sendiri. “Jangan-jangan kau juga fansnya?”

“Hehehehe…” Seul Rin kembali menggaruk-garuk kepalanya sambil cengar-cengir.

“Heishh… ARASSEO!!” serunya lagi, lalu bangkit dengan kasar dan melangkah dengan suara berdebum ke arah dapur.

“Benar-benar mengesalkan, memangnya dia tidak punya tangan? Memangnya aku babunya? Mentang-mentang lebih tua dariku…” Heenim terus mengoceh ketika di dapatinya seloyang puding di dalam kulkas. Puding strawberry. Tapi oppanya suka puding coklat. “Haish, biarlah. Sekali-sekali makan yang rasa strawberry kenapa,”

“Heenim-ah! Tolong siapkan untuk kami juga dong!” suara Sandeul berseru keras. Heenim menoleh sebentar dan kembali fokus pada loyang puding di hadapannya.

“Ne!”

“Yaa… Kau lebih lembut kepada chingumu, ya, daripada ku,” suara Minho menyahut dari depan pintu kamarnya. Heenim tidak menanggapinya, seperti biasa, oppanya selalu menjilat.

“Igae..” Heenim kembali dengan empat piring puding, dan langsung menaruhnya di atas meja. Ia memandang aneh ke arah Minho sejenak, yang tengah duduk di samping Sandeul.

“Mana pudingmu?” tanya Minho lagi.

“Wah, sepertinya kita dicueki,” bisik Jungsoo pada Sandeul.

“Iya, mereka itu seperti pacaran saja yah, hubungan mereka apa sih?” balas Sandeul, sama berbisik.

“Ya! Aku mendengar itu!” suara Heenim mendadak tajam. Ia menoleh menatap Seul Rin yang masing memasang tampang takjub. “Ya, Choi Seul Rin, cepatlah sadar diri!” katanya lagi. Seul Rin langsung menutup mulutnya yang terbuka lebar.

“Hehehe…”

“Sekarang, kata sonsaengnim tadi soalnya dari bab berapa?” tanya Heenim pada Jungsoo.

“Ya… Kita masih makan,” sahut Sandeul.

“Kau benar-benar mengesalkan, Jung Heenim. Kutanya mana pudingmu?” Minho kembali bersuara, sementara sesuap puding telah masuk ke dalam mulutnya. Heenim menatapnya tak percaya. Choi Minho mau makan puding rasa strawberry yang notabene paling dibencinya itu? Keajaiban…

“Puding? Oh… Sudah habis untuk kalian,” sahutnya pendek.

“Baiklah. Kau mau setengah pudingku?” tawar Minho yang membuat Heenim kembali mendelik.

“Ya… Kalian ada hubungan apa sih? Romantis sekali,” sahut Seul Rin sedikit cemberut.

“Hanya kakak-adik,”

“Kami sudah berpacaran,”

Mereka menjawab bersamaan, membuat ketiga orang itu melongo.

“Yang bener yang mana nih?” tanya Jungsoo. Heenim mendesah.

“Aku chingumu, Park Jungsoo, aku tidak pernah berbohong padamu, kan?” Heenim menyahut sambil menekan telapak tangannya di dadanya. “Lagipula, kami tinggal seatap, mana mungkin pacaran?!” lanjut Heenim lagi keras sambil mendelik pada oppanya itu.

“Aaa…” tiba-tiba Minho berinisiatif untuk menyuapi Heenim. Dan polosnya, Heenim menurut. Sepersekian detik kemudian ia menoleh memandang Minho cepat.

“Ya! Kenapa kau menyuapiku?!?!”

“Hihihihihi….” Minho cekikikan begitu Heenim kembali memfokuskan pikirannya ke buku pelajarannya. Lagi-lagi, ia menyuapkan sesendok puding ke depan mulut Heenim. Dan dengan polosnya (lagi), dimakannya (lagi)!!!!!

“Yaaa!!” Heenim memukul lengan atas Minho. “Pergi sana! Ini area hoobae, tau!!”

“Nee… Belajar yang baik, oke?” katanya sambil mengusap puncak kepala Heenim seraya tersenyum manis dan beranjak masuk kembali ke dalam kamarnya.

“Astaga, Heenim-ah, aku benar-benar iri padamu,” desah Seul Rin lemas. Heenim kini benar-benar melongo sekarang. Tiba-tiba Heenim tersentak dan memandang Seul Rin tajam.

“Kau akan menyesal kalau jadi aku,” sahutnya agak kesal. “Baiklah, sampai dimana kita tadi?”

__

“Eomma, Kyuhyun dan seorang temannya nanti mau menginap di sini,” ujar Minho kalem saat sarapan di suatu pagi. Heenim menoleh menatap oppa-setengah-musuhnya dengan bingung.

“Nanti eomma sama appa keluar kota dan akan pulang besok. Boleh-boleh saja mereka menginap di sini, tapi jaga adikmu karena ia yeoja sendirian nanti di rumah ini,” sahut eommanya agak tajam. Minho mengangguk dan melanjutkan aktivitasnya, yaitu mengunyah makanannya.

“Tapi, Kyuhyun oppa dan temannya mau tidur dimana?” celetuk Heenim kalem mengingat kamar tamu mereka masih dalam keadaan berantakan. Minho menoleh sekilas lalu meraih gelas berisi susu di sampingnya.

“Dikamarku,” balasnya singkat.

“Jadi oppa mau tidur bertiga seperti ikan sarden di ranjang oppa yang ukurannya cuma double itu? Aku juga sangsi meski ukurannya queen bisa muat atau tidak,” balas Heenim panjang.

“Yah, terpaksa. Aku mengungsi ke kamarmu,” sahut Minho seenaknya yang membuat makanan yang baru saja dikunyah Heenim nyangkut ditenggorokannya.

“Uhuk.. Uhuk… MWOYA?? LALU AKU TIDUR DIMANA??” pekik Heenim heboh. Minho nyengir.

“Ya di kamarmu lah… Aku tidak akan macam-macam, tenang saja,” sahut Minho cuek. “Lagi pula aku tidak tertarik denganmu juga,”

“Haish!! Kau benar-benar nappeun oppa!!” Heenim berdecak kesal, meredam kekesalannya yang sudah melejit ke ubun-ubun. “Halke, eomma, appa,” Heenim langsung bangkit dari kursinya dan ngacir ke tempat sepatu serta dengan cepat memakai sepatunya.

“Haish! Tunggu aku! Anak ini benar-benar…” Minho menyahut sedikit kesal. Sementara eomma dan appa mereka hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekanakan kakak-beradik itu.

__

“Kyu oppa!” Heenim memekik senang begitu sesosok tinggi dan tampan melangkah memasuki ruang tamu. Sementara yang disapa hanya tersenyum kecil.

“Heenim-ah…” sapa Kyuhyun riang. Heenim melemparkan pandangan bingung ke namja yang berdiri di samping Kyuhyun “Ah, ini Lee Sungmin, chinguku yang kubilang akan menginap bersamaku di sini,”

“Annyeonghaseyo, joneun Lee Sungmin imnida, bangapseumnida,” namja yang tenyata benama Sungmin itu membungkukkan badannya

“Annyeong Sungmin oppa, joneun Jung Heenim imnida,” Heenim juga ikut membungkukkan badannya. Minho yang mengetahui keadaan, juga ikut membungkukkan badannya.

“Joneun Choi Minho imnida,”

“Kalian sepupu?” tanya Sungmin. Heenim dan Minho menggeleng cepat.

“Ani, dia oppa angkatku,” sahut Heenim cepat. Pandangannya ia alihkan kepada Kyuhyun.

“Heenim-ah… Lama sekali tidak bertemu…”

“Ya! Kau jangan bermanja-manja dengannya!” balas Minho kesal sambil menyikut lengan namja yang tak lain tak bukan adalah Kyuhyun itu.

“Aish! Oppa sewot aja! Kyu oppa! Aku punya sesuatu untukmu!” ujar Heenim lagi dan bergegas kembali ke kamarnya. Minho menatap dongsaeng adopsinya dengan tatapan tidak percaya.

“Biarkan dia, Ho. Lagipula, dia juga lebih suka dekat denganku kok, hehehe…” sahut Kyuhyun jahil.

“Ck, kau ini…”

“Oppa! Aku punya ini untuk oppa!” seru Heenim tak lama kemudian. Ditangannya ada sebuah kotak kecil yang dibungkus flanel putih. “Dan ini untuk Sungmin oppa,” ujarnya lagi sambil memberikan sebatang coklat extra large dengan pita biru.

“Gomawo Heenim-ssi,”

“Ige mwoya?” tanya Kyuhyun heran.

“Igeo… Coklat dari chinguku. Sebenarnya untuk Minho oppa saat valentine kemarin, tapi karena dia udah dapet satu dus coklat jadi ya…”

“Wah… Wah… Wah… Kau berani korupsi ya?!?!” pekik Minho tak terima.

“Yah… Berarti bukan untukku dong?” sergah Kyuhyun cemberut. Sungmin mengerutkan keningnya bingung sementara Heenim menggeleng keras.

“Ani! Ini diberikan untukku, jadi kuberikan padamu deh!”

“Hish, aku dicuekin terus,” dumel Minho sambil menjewer telinga saenginya.

“Awww!! Oppa apphoyo!!”

__

“Er…. Oppa benar-benar mau mengungsi kesini?” gumam Heenim kaget ketika oppanya benar-benar masuk ke kamarnya dengan piyama dan guling khasnya. Ia memang sedang asyik membaca majalah remaja sambil mendengarkan musik lewat earphone. Tapi tentu saja ia menjadi terganggu karena oppanya satu itu usil sekali.

“Tentu saja,”

“Hanya semalam ini, kan?” tanya Heenim lagi memastikan.

“Iya, tenang saja,” sahut Minho lagi sedikit kesal. Ia melangkah mendekati Heenim yang berbaring di atas kasur, dan menghempaskan dirinya di samping Heenim.

“Oppa mau tidur dimana?” tanya Heenim tanpa mengalihkan tatapannya dari majalah yang dibacanya.

“Tentu saja di ranjang!” sahut oppanya kesal sambil meraih seluruh sisa bagian dari ranjangnya.

“Tapi awas kalau oppa merebut jatah kasurku! Kalau oppa sampai merebutnya, hem!” desis Heenim sambil menunjukkan bogemnya.

“Iya! Ish kau cerewet banget sih!”

Pada akhirnya toh, mereka berdua tetap tidur seranjang. Dan posisinya persis seperti pasangan suami istri yang sedang bertengkar, alias saling beradu punggung#plakk. Heenim tidur dengan nyenyak, tapi tidak dengan Minho. Sedari tadi ia terus melirik ke belakang, mengira-ngira apakah dongsaengnya sudah tertidur atau belum. Setelah desahan napas teratur terdengar olehnya, ia memberanikan diri untuk membalikkan badan.

Ia turun dari ranjang, lalu beranjak menuju ke sisi Heenim. Ia berlutut sambil memandangi wajah saengi angkatnya itu, jemarinya menyentuh beberapa helai rambut Heenim. Mungkin karena sentuhan itu, Heenim mendesah lebih keras dan mengubah posisi tidurnya. Minho terus menatapnya, dengan tatapan yang sulit diartikan. Tentu saja bukan tatapan dari oppa kepada dongsaeng.

Jari-jarinya kembali menelusuri pipi Heenim, menyentuhnya dengan sazngat hati-hati, seperti menyentuh porselen yang paling indah. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Heenim, menatap matanya yang terpejam selama beberapa saat, lalu mengecup bibirnya sekilas.

“Saranghae Heenim-ah…”

Heenim POV

Aku menerjap-nerjapkan kedua mataku berkali-kali ketika kurasakan sinar matahari menerobos masuk melalui kedua kelopak mataku. Aku menoleh ke samping kananku, meraba-raba guling yang biasanya ada di situ. Namun sama sekali tak kutemukan. Tanganku malah menyentuh tangan seseorang. Tangan siapa ini?

Mwoya?!

Aku langsung membuka mataku lebar-lebar dan menatap ke samping. Kenapa aku baru ingat kalau Minho oppa dan aku… Eugh, aku benci mengatakan ini, tidur di satu ranjang. Dan aku baru menyadari, posisi kami kenapa jadi sangat dekat seperti ini? Aku menatap wajahnya yang sedang tidur itu. Kuakui, wajahnya memang tampan.

Deg…

Kenapa aku?

Kenapa aku berdebar begini?

“Kau memperhatikanku ya?” tiba-tiba ia bersuara. Aku membulatkan mataku, sementara oppaku ini hanya menyeringai tanpa membuka matanya. Aku menjitak kepalanya lalu bangkit dari tempat tidur.

“Pede sekali kau oppa,” kataku sambil melangkah menuju kamar mandi. “Kembali ke kamarmu sana! Kau tidak mungkin mandi di sini, kan?”

“Ya! Kau tidak sopan sekali! Aku ini oppamu tahu!” serunya tidak terima. Aku mengeluarkan cengiranku.

“Kau tidak pantas di sebut oppa, hehehe…”

“Yaa!!” dan kini ia ia buru-buru melayangkan tangannya ke atas kepalaku. Mau apa lagi kalau bukan menjitakku?

“Haish! Cepat oppa kembali ke kamarmu dan mandi! Nanti kita terlambat ke sekolah!” seruku dan menghilang di balik pintu kamar mandi.

“Mandi bersamamu juga boleh!” celetuknya asal yang membuatku kembali menongolkan kepalaku dari balik pintu kamar mandi dan memasang death glare ku. “O.. Ow… Kurasa aku harus kembali ke kamarku…” ujarnya dengan seringaian jahil ketika melihat tatapanku. Ia langsung ngibrit keluar begitu tanganku sudah meraih lidi penggebuk kasur (?) yang tergeletak di samping lemari.

“Heii… Apakah ada sesuatu yang terjadi?” seru Kyu oppa dari arah luar.

“Aniyo oppa!!”

__

“Kami berdua akan naik bus. Minho, antarkan adikmu itu! Kasihan dia selalu naik bus padahal kau sendiri selalu naik motor,” celotehan Kyu oppa membuatku mendengus kesal. Sumpah, lebih baik aku naik odong-odong ke sekolah daripada harus dibonceng olehnya!

“Dia sendiri yang ingin naik bus!” bantah Minho oppa. Aku menyeringai sambil mengangguk mengiyakan. Tapi Kyu oppa tetap memasang wajah evilnya itu.

“Aku berangkat dengan Sungmin oppa tidak masalah,” ujarku yang disambut death glare dari segala penjuru. Ups, lebih baik kututup mulutku.

“Kau antarkan adikmu, Choi Minho,” desisnya tajam.

“Haish, baiklah!” dengusnya sambil mengambil kunci motor yang digantung di sudut ruang tamu. Tunggu… Tuan rumah di sini siapa sih? Kok malah jadi Kyu oppa yang mengaturnya? Aku menoleh keluar, lalu terkejut ketika Minho oppa sudah duduk di atas motornya dengan manis.

“Cepat naik!” serunya sambil mengarahkan dagunya ke boncengan di belakangnya. Aku mendengus pelan, menumpukan salah satu tanganku ke bahunya, dan mendudukkan tubuhku ke atas boncengan. “Pegangan!” serunya yang membuat kedua tanganku terpaksa bertumpu pada kedua bahunya.

“Ya! Kau itu pegangan yang benar! Aku seperti tukang ojeg kalau seperti ini!” gerutunya yang membuatku mengerucutkan bibirku. Tanganku berpindah pada pegangan tas ranselnya. “Hey! Kau menggelitiki pinggangku! Jangan pegangan di situ!” astaga, aku hanya naik motor coy, kok banyak aturannya sih?!

“Oppa! Kau itu cerewet sekali sih!” bentakku kesal.

“Kau mau jatuh? Pegangan yang lebih erat!” serunya. Haish. Dalam keadaan berkendara seperti ini masih sempat-sempatnya ia bertengkar denganku!–>gak tau diri.

“Pegangan dimana?” balasku.

Ngeeeeeengggg

“Hyaaaaa!!!!!!” pekikku histeris ketika ia mempercepat laju motornya. Tanpa sadar, kedua tanganku sudah melingkar di pinggangnya.

Minho POV

Aku tetap menggiring motorku ke parkiran setelah kami memasuki gerbang sekolah, membiarkan Heenim yang sedari tadi mencak-mencak di atas boncengan. Ya, hampir seisi sekolah tidak tahu kalau kami ada kakak-beradik adopsi. Biar sajalah nanti muncul gossip atau kabar tak mengenakkan karena insiden ini. Yang terpenting Heenim sampai ke kelasnya dengan selamat! Oke, ku pikir itu terlalu berlebihan, toh adikku yang suka ngeyel ini pasti baik-baik saja.

“Yak!! Oppa kuperintahkan kau agar turunkan aku DI SINI SAJA!!” Heenim mulai mencak-mencak lagi. Aku melengos tak peduli. “OPPAAAAAAA!!!!”

“Ya! Kau bisa diam tidak?! Kau dipelototi para haksaeng seisi sekolah, tahu,” ujarku santai. Hohoho, Jung Heenim, tatapan ingin membunuhmu sudah tidak mempan lagi, mengingat sejak 10 tahun lalu kau selalu menghujaniku dengan tatapan itu huehehe.

“Sudah kubilang turunkan aku diperempatan gerbang sekolah, bisa mati aku digorok fansmu bila mengetahui idolanya ‘membonceng seorang gadis tak dikenal’??” Heenim kembali mengoceh tak jelas. Aku menggeleng-gelengkan kepala.

“Kalau kau diam saja, mereka tidak akan terpancing untuk melakukan itu,” jawabku sekenanya. Kalau aku membalasnya dengan teriak juga, bisa hancur imageku di sekolah!

“Ck, annyeong,” ia langsung turun dari boncengan dan melesat menuju ke kelasnya. Aigoo, Jung Heenim. Saengiku. Ah, saengi adopsiku. Ya, tentu saja kami tak punya hubungan darah. Jadi aku bebas memiliki perasaan ini, kan? Kuharap aku bisa menjadikannya lebih dari sekedar dongsaeng…

Kalian pasti sudah bisa menebak apa yang kurasakan terhadapnya. Lebih dari seorang oppa kepada dongsaeng. Kenapa dari tadi aku terus mengatakan itu? Karena itulah harapanku saat ini. Aku menyayanginya dari seorang namja kepada yeoja. Ingin sekali aku berlari padanya, mengatakan apa yang ada di dalam hatiku padanya, tapi aku tidak bisa. Aku tidak mau menghancurkan kekerabatan yang selama ini kubangun dengannya. Lagipula, aku tidak tahu secara jelas perasaanya padaku.

Aku oppa yang gagal. Hanya bisa memandanginya saat tidur, mencuri first kissnya diam-diam, benar-benar nappeun oppa. Hah, saat ia tertidur. Hanya pada saat itu.

END


Aku tahu, aku tahu. Typo, ketidaknyambungan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya, alur yang berubah-ubah dan gak jelas inti ceritanya #plakk serta ending yang sangat menggantung. Apa yang harus aku lakukan?? Huaaaaa…. Sequel.. oh,, jangan. Sequel nya Taemin aja belom kelar. Jadi kapan-kapan yah?? Hehehe… Mian

Well, FF ini tercipta katrena kesetressanku waktu UTS. HUWAAAAAA FISIKAKU OH MAIIIIIIIIIIIIII T^T #plakk

Yang udah baca, dimohon komen, kritik, saran, apa aja deh!! #plakk gomawooo yahhh!! XDD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar